- IAFMI dan KMI mengunjungi fasilitas produksi pipa PT Artas Energi Petrogas di Cilegon untuk mendorong penguatan manufaktur domestik.
- Pengembangan industri pipa seamless nasional bertujuan menekan ketergantungan impor sekaligus meningkatkan nilai tambah melalui substitusi dan ekspor global.
- Pemerintah perlu memperkuat kebijakan industri dan investasi teknologi guna mengatasi tantangan daya saing serta meningkatkan komponen dalam negeri.
Suara.com - Industri minyak dan gas nasional dinilai tengah menghadapi tantangan besar untuk meningkatkan daya saing, di tengah tingginya ketergantungan terhadap impor pipa dan peralatan strategis.
Kondisi tersebut dinilai menjadi salah satu hambatan utama bagi Indonesia untuk memperkuat posisi dalam rantai nilai industri migas global, terutama di tengah kebutuhan peningkatan kapasitas manufaktur domestik dan penguasaan teknologi.
Isu ini mengemuka dalam kunjungan Ikatan Ahli Fasilitas Produksi Migas Indonesia (IAFMI) bersama Komunitas Migas Indonesia (KMI) ke fasilitas produksi Indonesia Seamless Tube (IST) milik PT Artas Energi Petrogas di kawasan industri Krakatau Steel, Cilegon.
Kunjungan tersebut menyoroti pentingnya penguatan industri penunjang migas nasional, khususnya manufaktur pipa seamless, sebagai bagian dari strategi mendorong peningkatan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) dan menekan ketergantungan impor.
Chief Commercial Officer PT Artas Energi Petrogas, Hendrik Kawilarang Luntungan, menilai Indonesia perlu bertransformasi dari sekadar pasar menjadi produsen industri strategis.
“Indonesia tidak bisa terus menjadi pasar bagi industri global. Kita harus menjadi produsen, pemilik teknologi, dan pengendali rantai pasok. Jika tidak sekarang, kita akan terus tertinggal," katanya kepada wartawan, Minggu (3/5/2026).
![Ilustrasi pabrik mempertahankan TKDN. [Antara]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2025/04/09/92387-ilustrasi-pabrik-demi-daya-saing-prabowo-tkdn-fleksibel-saja.jpg)
Menurut dia, penguatan industri nasional tidak hanya berdampak pada substitusi impor, tetapi juga berpotensi meningkatkan nilai tambah ekonomi melalui ekspor dan penguatan struktur industri domestik.
PT Artas Energi Petrogas melalui IST disebut telah menjadi produsen seamless tube dalam negeri dengan kontribusi devisa hingga Rp15 triliun dari substitusi impor serta ekspor ke pasar Asia dan Timur Tengah.
Produk tersebut juga telah digunakan dalam proyek-proyek Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS) dengan standar API 5CT dan API 5L, yang dinilai menunjukkan kapasitas industri nasional dalam memenuhi kebutuhan sektor migas berstandar global.
IAFMI dan KMI menilai transformasi industri ini dapat memberi dampak ekonomi melalui penurunan impor peralatan migas, efisiensi biaya, optimalisasi cost recovery, peningkatan TKDN berbasis kualitas, hingga membuka peluang lahirnya pemain industri nasional berdaya saing tinggi.
Meski demikian, sejumlah tantangan masih menjadi perhatian, mulai dari ketergantungan pada impor komponen kritikal, keterbatasan riset dan pengembangan teknologi, regulasi industri yang dinilai belum kompetitif, hingga kualitas sumber daya manusia.
Chairman Komunitas Migas Indonesia, S Herry Putranto, mengatakan penguatan industri migas nasional membutuhkan dukungan kebijakan yang berpihak pada industri domestik.
“Yang dibutuhkan adalah keberanian untuk membangun industri sendiri, dengan regulasi yang berpihak kepada kepentingan industri nasional serta investasi teknologi yang serius ditambah kesiapan SDM yang siap bersaing di kancah global," tutur Herry.