- BPS melaporkan ekonomi Indonesia tumbuh 5,61 persen secara tahunan pada triwulan pertama 2026 dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
- Capaian ekonomi nasional ditopang oleh sektor industri pengolahan, perdagangan, pertanian, konstruksi, serta sektor akomodasi dan makanan minuman.
- Meski terjadi kontraksi kuartalan sebesar 0,77 persen, mayoritas lapangan usaha mencatat pertumbuhan positif sepanjang triwulan pertama tahun 2026.
Suara.com - Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada triwulan I 2026 mencapai 5,61 persen secara tahunan (year on year/yoy), lebih tinggi dibanding periode yang sama tahun lalu sebesar 4,87 persen.
Kepala BPS, Amalia Adininggar Widyasanti, mengatakan capaian tersebut tercermin dari Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia atas dasar harga berlaku yang mencapai Rp6.187,2 triliun, sementara atas dasar harga konstan sebesar Rp3.447,7 triliun.
“Ekonomi Indonesia berdasarkan besaran Produk Domestik Bruto (PDB) pada triwulan satu 2026 atas dasar harga berlaku sebesar 6.187,2 triliun rupiah, atas dasar harga konstan 3.447,7 triliun rupiah, sehingga pertumbuhan ekonomi Indonesia pada triwulan satu 2026 bila dibandingkan triwulan satu 2025 atau secara year on year tumbuh 5,61 persen,” jelas Amalia di Kantor BPS RI, Jakarta, Selasa (5/5/2026).
Meski secara tahunan tumbuh kuat, secara kuartalan ekonomi Indonesia mengalami kontraksi 0,77 persen dibanding triwulan IV 2025.
“Secara triwulanan, ekonomi Indonesia triwulan satu 2026 mengalami kontraksi sebesar 0,77 persen,” ujarnya.
Menurut BPS, kontraksi kuartalan tersebut merupakan pola musiman, sementara secara tahunan kinerja ekonomi menunjukkan penguatan yang lebih baik dibanding tahun sebelumnya.
Dari sisi lapangan usaha, hampir seluruh sektor ekonomi mencatat pertumbuhan positif, kecuali pertambangan serta pengadaan listrik dan gas.
![Ilustrasi listrik. [Ist]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2022/07/04/39358-ilustrasi-listrik-padam-palembang-gelap-gulita-pln-sumbagsel-ungkap-penyebabnya.jpg)
“Pada triwulan satu 2026 secara tahunan, seluruh lapangan usaha tumbuh positif kecuali lapangan usaha pertambangan dan pengadaan listrik dan gas,” kata Amalia.
BPS mencatat lima sektor utama penyumbang terbesar PDB nasional masih berasal dari industri pengolahan, perdagangan, pertanian, konstruksi, dan pertambangan, dengan kontribusi gabungan mencapai 63,52 persen terhadap total ekonomi nasional.
Di antara sektor dengan pertumbuhan tertinggi, penyediaan akomodasi dan makan minum mencatat lonjakan 13,14 persen.
Pertumbuhan ini didorong momentum libur nasional serta peningkatan aktivitas konsumsi masyarakat, termasuk perluasan program makan bergizi gratis.
“Lapangan usaha yang tumbuh tinggi antara lain penyediaan akomodasi dan makanan minuman yang tumbuh sebesar 13,14 persen,” ujar dia.
Selain itu, sektor jasa lainnya tumbuh 9,91 persen, ditopang meningkatnya perjalanan wisatawan domestik dan kunjungan wisatawan mancanegara.
Sementara sektor transportasi dan pergudangan tumbuh 8,04 persen seiring naiknya mobilitas masyarakat dan peningkatan jumlah penumpang di berbagai moda transportasi.
Dari sisi sumber pertumbuhan, industri pengolahan menjadi penopang terbesar dengan kontribusi 1,03 basis poin terhadap pertumbuhan ekonomi nasional.