- Saham BBRI melonjak hingga Rp3.230 pada 7 Mei 2026 setelah mendapat aksi beli bersih dari investor asing.
- Kinerja keuangan BRI Kuartal I 2026 menunjukkan laba bersih sebesar Rp15,5 triliun dengan pertumbuhan kredit yang positif.
- Investor menantikan pembagian sisa dividen tunai sebesar Rp209 per saham yang dijadwalkan cair pada 8 Mei 2026.
Suara.com - Saham PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) mulai menunjukkan taji setelah sempat mengalami tekanan jual signifikan dalam beberapa pekan terakhir.
Pada penutupan perdagangan Selasa (5/5/2026), harga saham bank plat merah ini melonjak 3,62 persen ke level Rp3.150, didorong oleh aksi beli bersih (net buy) oleh investor asing.
Tren positif ini terus berlanjut hingga sesi pertama perdagangan Kamis (7/5/2026), di mana harga saham BBRI meroket lebih dari 2 persen dan kokoh di posisi Rp3.230.
Momentum pembalikan arah ini mengakhiri tren jual bersih (net sell) asing yang sempat terjadi berturut-turut selama 13 hari bursa pada periode 15-30 April 2026 lalu.
Analisis Teknis: Sinyal Reversal Menguat
Berdasarkan data dari Stockbit, mayoritas analis memberikan pandangan optimis terhadap emiten perbankan fokus UMKM ini. Sebanyak 29 dari 35 analis menyematkan rekomendasi beli dengan target harga konsensus mencapai Rp4.220.
Phintraco Sekuritas dalam laporannya menyebutkan adanya indikasi bullish divergence yang memberikan potensi pembalikan arah (reversal).
“Kondisi ini diperkuat dengan indikator Stochastic RSI yang membentuk golden cross serta adanya penyempitan pada slope MACD,” tulis tim riset Phintraco.
Mereka menyarankan titik masuk (entry point) di kisaran Rp3.070 hingga Rp3.120 dengan target kenaikan bertahap di angka Rp3.330, Rp3.450, hingga target optimis di rentang Rp3.600 - Rp3.700.
Sementara itu, CGS International Sekuritas memetakan level resistance berikutnya berada di angka Rp3.250 jika tren penguatan terus berlanjut.
Di balik fluktuasi harga sahamnya, fundamental BRI tetap menunjukkan pertumbuhan yang impresif. Pada Kuartal I 2026, BRI berhasil membukukan laba bersih sebesar Rp15,5 triliun, meningkat 13,7 persen secara tahunan (Year-on-Year/YoY).
Penyaluran kredit juga tumbuh positif sebesar 13,7 persen YoY menjadi Rp1.562 triliun, di mana segmen UMKM memberikan kontribusi dominan sebesar Rp1.211 triliun. Dari sisi kualitas aset, profil risiko kredit juga semakin sehat dengan perbaikan angka Loan at Risk (LAR) yang turun ke level 9,7 persen dari sebelumnya 11,1 persen di tahun lalu.
Koreksi harga yang sempat terjadi dalam tiga bulan terakhir (turun 16,93 persen) justru membuat valuasi BBRI menjadi lebih kompetitif. Saat ini, rasio Price to Earnings (PER) berada di angka 8,06 kali dengan Price to Book Value (PBV) di posisi 1,39 kali.
Selain faktor valuasi, para investor juga tengah menanti pembagian sisa dividen tunai tahun buku 2025. Dari total dividen Rp346 per saham, BRI dijadwalkan akan membayarkan sisa dividen sebesar Rp209 per saham pada 8 Mei 2026 besok. Besarnya sisa dividen ini diharapkan menjadi bantalan yang kuat bagi harga saham di tengah volatilitas pasar global.
Disclaimer: Investasi pada instrumen saham dan kripto memiliki risiko fluktuasi harga yang tinggi. Pastikan Anda melakukan riset mandiri atau berkonsultasi dengan ahli keuangan sebelum mengambil keputusan investasi.