- Amerika Serikat dan Iran menyusun draf kesepakatan sementara untuk menghentikan konflik bersenjata melalui mediasi Pakistan pada Mei 2026.
- Kerangka kerja tiga tahap tersebut mencakup pengakhiran perang, pembukaan Selat Hormuz, dan negosiasi lebih luas selama 30 hari.
- Optimisme kesepakatan memicu lonjakan indeks saham global serta penurunan harga minyak mentah Brent sebesar 3 persen secara signifikan.
Presiden AS Donald Trump terus menyuarakan nada optimistis terkait progres pembicaraan ini. "Mereka ingin membuat kesepakatan... itu sangat mungkin terjadi. Ini akan selesai dengan cepat," ujar Trump kepada wartawan di Gedung Putih.
Namun, sikap berbeda ditunjukkan oleh otoritas di Teheran. Meskipun juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran menyatakan akan memberikan tanggapan pada waktunya, sejumlah pejabat legislatif justru skeptis.
Ebrahim Rezaei, seorang anggota parlemen Iran, menyebut proposal AS tersebut lebih mirip dengan "daftar keinginan Amerika" daripada sebuah realitas politik.
Ketua Parlemen Iran, Mohammad Baqer Qalibaf, bahkan secara terbuka mengejek laporan kedekatan kesepakatan tersebut dengan istilah "Operation Trust Me Bro failed", yang mengisyaratkan bahwa klaim AS hanyalah upaya pembentukan opini publik setelah gagal membuka Selat Hormuz secara militer.
Di tingkat regional, ketegangan tetap tinggi. Israel dilaporkan baru saja melakukan serangan udara di Beirut yang menewaskan komandan Hizbullah, serangan pertama ke ibu kota Lebanon sejak gencatan senjata bulan lalu.
Hizbullah sendiri mulai terlibat aktif menyerang Israel sejak 2 Maret sebagai bentuk dukungan terhadap Iran.
Selain faktor regional, draf memorandum saat ini dilaporkan belum menyentuh tuntutan utama AS, seperti:
Pembatasan program rudal Iran.
Penghentian dukungan terhadap kelompok milisi di Timur Tengah.
Nasib cadangan 400 kg uranium milik Iran yang mendekati level senjata nuklir.