- BPS melaporkan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada triwulan I 2026 mencapai 5,61 persen secara tahunan atau year on year.
- Menkeu Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan stimulus pemerintah berperan penting dalam mendorong pertumbuhan ekonomi yang melampaui prediksi para ekonom.
- Kementerian Keuangan bersama lembaga terkait berkomitmen menjaga stabilitas ekonomi meski terjadi kontraksi sebesar 0,77 persen secara kuartalan.
Suara.com - Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa membalas kritikan para ekonom soal kencangnya pertumbuhan ekonomi Indonesia 5,61 persen karena belanja Pemerintah, khususnya stimulus.
Menkeu Purbaya geram karena banyak ekonom yang salah prediksi bahwa ekonomi hancur. Tapi ketika prediksinya meleset, para ekonom dinilainya malah mencari alasan lain.
"Ini pasti ekonom-ekonom itu kan yang udah salah prediksi kan? Tanya ke mereka, kenapa mereka salah prediksi gitu? Katanya mau hancur ekonomi Indonesia, kok malah tumbuh kencang? Sekarang sudah tumbuh kencang, cari alasan lain," keluhnya dalam konferensi pers Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK), dikutip Jumat (8/5/2026).
Bendahara Negara menyebut, pertumbuhan ekonomi kencang bukan karena faktor musiman seperti Lebaran 2026. Momen Idulfitri memang maju jika dibandingkan tahun lalu, namun hanya bergeser 16 hari.
Sementara untuk pemberian stimulus, Purbaya menilai kalau itu memang tugas Pemerintah. Jika ekonomi mau tumbuh lebih cepat, Pemerintah memang mesti gencar memberikan insentif.
"Terus harus apa? Saya mesti diam? Kan enggak. Justru bank sentral (Bank Indonesia atau BI), kita (Kementerian Keuangan), LPS (Lembaga Penjamin Simpanan), OJK (Otoritas Jasa Keuangan) memberi dorongan ke ekonomi bersama-sama supaya ekonomi tumbuh lebih cepat," paparnya.
"Kalau diam berarti nanti itu, ekonom-ekonom itu cita-citanya tercapai, ekonomi Indonesia jatuh. Maunya gitu kan? Enak saja," gerutu dia.
Maka dari itu Purbaya berupaya untuk menjalankan tugas seoptimal mungkin untuk menjaga stabilitas ekonomi dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat setinggi mungkin.
Diketahui Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada triwulan I 2026 mencapai 5,61 persen secara tahunan (year on year/yoy), lebih tinggi dibanding periode yang sama tahun lalu sebesar 4,87 persen.
Kepala BPS, Amalia Adininggar Widyasanti, mengatakan capaian tersebut tercermin dari Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia atas dasar harga berlaku yang mencapai Rp6.187,2 triliun, sementara atas dasar harga konstan sebesar Rp3.447,7 triliun.
“Ekonomi Indonesia berdasarkan besaran Produk Domestik Bruto (PDB) pada triwulan satu 2026 atas dasar harga berlaku sebesar 6.187,2 triliun rupiah, atas dasar harga konstan 3.447,7 triliun rupiah, sehingga pertumbuhan ekonomi Indonesia pada triwulan satu 2026 bila dibandingkan triwulan satu 2025 atau secara year on year tumbuh 5,61 persen,” jelas Amalia di Kantor BPS RI, Jakarta, Selasa (5/5/2026).
Meski secara tahunan tumbuh kuat, secara kuartalan ekonomi Indonesia mengalami kontraksi 0,77 persen dibanding triwulan IV 2025.
"Secara triwulanan, ekonomi Indonesia triwulan satu 2026 mengalami kontraksi sebesar 0,77 persen,” ujarnya.
Menurut BPS, kontraksi kuartalan tersebut merupakan pola musiman, sementara secara tahunan kinerja ekonomi menunjukkan penguatan yang lebih baik dibanding tahun sebelumnya.