-
Pergerakan Rupiah mencatat sejarah pasang surut ekonomi sejak awal kemerdekaan.
-
Krisis moneter 1998 menjadi titik terendah dalam sejarah pergerakan Rupiah.
-
Tantangan global membayangi pergerakan Rupiah di era pemerintahan Prabowo Subianto.
Suara.com - Nilai tukar Rupiah (IDR) terhadap dolar Amerika Serikat (USD) bukan sekadar angka di papan bursa.
Nilai tukar rupiah ini adalah cerminan jatuh bangunnya ekonomi Indonesia.
Sejak merdeka hingga saat ini, mata uang Garuda telah melewati berbagai badai, mulai dari sanering, krisis moneter 1998, hingga tekanan global yang kini membayangi pemerintahan Prabowo Subianto.
Bagaimana sebenarnya sejarah panjang pergerakan Rupiah dan di mana posisi nilai tukar kita di era kepemimpinan Prabowo Subianto? Simak ulasan lengkapnya berikut ini.
Era Soekarno
Pada awal kemerdekaan, tepatnya tahun 1950, Rupiah mulai digunakan secara nasional.
Saat itu, posisinya sangat kuat, yakni berada di level Rp3,80 per USD.
![Nilai tukar rupiah menguat 0,30 persen ke level Rp17.475 terhadap dolar AS pada penutupan Rabu sore, 13 Mei 2026. [Antara]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2026/05/13/60419-nilai-tukar-rupiah.jpg)
Namun, ketidakstabilan politik dan inflasi tinggi perlahan menggerus nilainya.
Tahun 1957, Rupiah merosot ke level Rp90 dan krisis semakin parah pada 1962 hingga menyentuh Rp1.205.
Puncaknya terjadi saat peristiwa G30S PKI tahun 1965, Rupiah anjlok ke angka Rp4.995 per USD.
Guna menyelamatkan ekonomi, pemerintah melakukan sanering atau pemotongan nilai uang di mana Rp1.000 lama menjadi Rp1 baru, yang dipatok pada Rp0,25 per USD.
Era Soeharto
Di awal Orde Baru, Rupiah sempat stabil di kisaran Rp250 hingga Rp500 per USD.
Namun, badai sesungguhnya datang pada akhir era 90-an. Krisis Moneter (Krismon) 1997-1998 menjadi titik terkelam dalam sejarah Rupiah.
Dari posisi Rp2.248 di tahun 1995, Rupiah terjun bebas hingga mencapai rekor terlemah sepanjang sejarah pada Juni 1998 di level Rp16.800 per USD.