Market Data
Emas
Indeks Saham
Kurs Rupiah
Jual Rp2.767.000
Beli Rp2.632.000
IHSG 6.599,240
LQ45 651,086
Srikehati 320,576
JII 428,616
USD/IDR 17.661

Rupiah Tembus Rp17.679, Gelombang PHK Massal Menanti di Depan Mata

M Nurhadi | Yaumal Asri Adi Hutasuhut | Suara.com

Selasa, 19 Mei 2026 | 13:46 WIB
Rupiah Tembus Rp17.679, Gelombang PHK Massal Menanti di Depan Mata
Sebagai Ilustrasi-Buruh dan karyawan mendengarkan pidato dari direksi perusahaan di Pabrik Sri Rejeki Isman Tbk (Sritex) di Sukoharjo, Jawa Tengah, Jumat (28/2/2025) [Suara.com/ANTARA]
  • CORE Indonesia memperingatkan risiko PHK massal akibat melemahnya nilai tukar rupiah yang menyentuh Rp17.679 per dolar AS.
  • Lonjakan biaya produksi dan rendahnya permintaan pasar menekan sektor manufaktur domestik yang sangat bergantung pada bahan baku impor.
  • CORE menyarankan perusahaan mencari bahan baku lokal serta mendesak pemerintah menjaga stabilitas makroekonomi dan disiplin tata kelola anggaran.

Suara.com - Indonesia kini tengah menghadapi alarm keras di sektor ketenagakerjaan. Lembaga penelitian ekonomi Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia memberikan peringatan serius mengenai potensi terjadinya gelombang Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) massal di dalam negeri.

Ancaman ini mencuat sebagai dampak langsung dari berlanjutnya tren pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) yang kian tidak terkendali.

Berdasarkan data perdagangan pada Selasa (19/5/2026), mata uang Garuda terpantau terus terperosok dalam hingga menyentuh angka Rp17.679 per dolar AS.

Kejatuhan nilai tukar ini dinilai menjadi sumbu utama yang memicu lonjakan biaya produksi secara masif di tingkat pelaku industri domestik.

Direktur Eksekutif CORE Indonesia, Mohammad Faisal, menjelaskan bahwa dunia usaha nasional saat ini tidak hanya menghadapi tantangan tunggal, melainkan tengah dihantam oleh tiga tekanan utama sekaligus pada pos biaya operasional mereka.

Faktor pertama adalah kenaikan harga atau inflasi bahan baku di negara asal yang dipicu oleh disrupsi rantai pasok global.

Kedua, para pelaku usaha harus menanggung biaya distribusi logistik dan premi asuransi internasional yang kini jauh lebih mahal.

Faktor ketiga, yang menjadi pemberat utama, adalah depresiasi nilai tukar rupiah yang membuat biaya pembelian bahan baku impor semakin membubung tinggi saat dikonversi ke mata uang lokal.

"Jadi artinya ada peningkatan beban biaya produksi yang lebih besar," ujar Faisal saat dihubungi Suara.com yang dikutip pada Selasa (19/5/2026).

Sektor Manufaktur Paling Terpukul di Hulu dan Hilir

Faisal menambahkan, meski dampak ekonomi dari pelemahan rupiah ini tidak tersebar merata di seluruh sektor usaha, tekanan paling berat otomatis dirasakan oleh industri manufaktur.

Sektor ini menjadi yang paling rentan karena memiliki ketergantungan yang sangat tinggi terhadap pasokan bahan baku dari luar negeri. Beberapa sektor yang berada di zona merah di antaranya adalah industri kimia, farmasi, serta industri makanan dan minuman.

Ironisnya, lonjakan biaya di sektor hulu ini tidak diimbangi dengan performa yang baik di sektor hilir. Menurut analisis CORE, pelaku industri saat ini terjebak dalam kondisi dilematis: Di satu sisi modal produksi membengkak mahal, namun di sisi lain mereka dihadapkan pada penurunan volume penjualan akibat lesunya permintaan pasar domestik maupun global.

Kombinasi mematikan antara modal yang tinggi dan penjualan yang merosot ini pada akhirnya memaksa para pemilik modal untuk mengambil langkah efisiensi yang ekstrem demi menjaga kelangsungan korporasi.

"Dan salah satu kemungkinan untuk melakukan efisiensi, dengan mengurangi, biasanya juga mengurangi jumlah tenaga kerja," kata Faisal.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Kamu Cocok Buat Beli HP Apa? Cek Rekomendasinya
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Dari Purbaya Effect ke Purbaya Pretext: Ketika Optimisme Pasar Mulai Goyah

Dari Purbaya Effect ke Purbaya Pretext: Ketika Optimisme Pasar Mulai Goyah

Bisnis | Selasa, 19 Mei 2026 | 12:27 WIB

Purbaya Gelontorkan Rp 2 Triliun per Hari demi Selamatkan Nilai Tukar Rupiah

Purbaya Gelontorkan Rp 2 Triliun per Hari demi Selamatkan Nilai Tukar Rupiah

Bisnis | Selasa, 19 Mei 2026 | 12:08 WIB

BI Tetap Pede Rupiah di Level Rp 16.800 pada Akhir Tahun

BI Tetap Pede Rupiah di Level Rp 16.800 pada Akhir Tahun

Video | Selasa, 19 Mei 2026 | 12:00 WIB

Harta Gubernur BI Rp72 M Disorot saat Rupiah Lemah, Punya Tunggangan Mewah Rp2,4 M

Harta Gubernur BI Rp72 M Disorot saat Rupiah Lemah, Punya Tunggangan Mewah Rp2,4 M

Otomotif | Selasa, 19 Mei 2026 | 11:38 WIB

Rupiah Melemah, Minyak Dunia Tetap di atas 100 Dolar AS, Ini Harga BBM di Indonesia!

Rupiah Melemah, Minyak Dunia Tetap di atas 100 Dolar AS, Ini Harga BBM di Indonesia!

Bisnis | Selasa, 19 Mei 2026 | 09:45 WIB

Rupiah Melemah, Harga Emas Antam Hari Ini Stabil di Angka Rp2,7 Juta per Gram

Rupiah Melemah, Harga Emas Antam Hari Ini Stabil di Angka Rp2,7 Juta per Gram

Bisnis | Selasa, 19 Mei 2026 | 09:36 WIB

Terkini

Rupiah Jebol Rp17.700, Dasco Batal Sambangi BI di Tengah Kepanikan Pasar

Rupiah Jebol Rp17.700, Dasco Batal Sambangi BI di Tengah Kepanikan Pasar

Bisnis | Selasa, 19 Mei 2026 | 15:34 WIB

Kebun Binatang Raksasa RI Siap Melantai di BEI, Taman Safari Segera IPO?

Kebun Binatang Raksasa RI Siap Melantai di BEI, Taman Safari Segera IPO?

Bisnis | Selasa, 19 Mei 2026 | 15:17 WIB

Menkeu Purbaya Buka Suara soal Pembentukan Badan Ekspor

Menkeu Purbaya Buka Suara soal Pembentukan Badan Ekspor

Bisnis | Selasa, 19 Mei 2026 | 15:09 WIB

Purbaya Klaim Rupiah Masih Aman usai Suntik Pakai APBN Rp 2 Triliun

Purbaya Klaim Rupiah Masih Aman usai Suntik Pakai APBN Rp 2 Triliun

Bisnis | Selasa, 19 Mei 2026 | 14:52 WIB

Dasco Harap Tanggal 29 Mei Ada Kejutan di Bursa Saham

Dasco Harap Tanggal 29 Mei Ada Kejutan di Bursa Saham

Bisnis | Selasa, 19 Mei 2026 | 13:38 WIB

Dasco Optimistis IHSG Menguat Setelah 29 Mei, Ada Strategi Rahasia

Dasco Optimistis IHSG Menguat Setelah 29 Mei, Ada Strategi Rahasia

Bisnis | Selasa, 19 Mei 2026 | 13:30 WIB

IHSG Semakin Ancur ke Level 6.300 pada Sesi I

IHSG Semakin Ancur ke Level 6.300 pada Sesi I

Bisnis | Selasa, 19 Mei 2026 | 13:28 WIB

Arus Petikemas IPC TPK Tembus 1,15 Juta TEUs, Priok Melejit 36 Persen

Arus Petikemas IPC TPK Tembus 1,15 Juta TEUs, Priok Melejit 36 Persen

Bisnis | Selasa, 19 Mei 2026 | 13:13 WIB

Pemerintah Mau Ubah Sampah Lama di TPA Diubah Jadi BBM Lewat Teknologi Pirolisis

Pemerintah Mau Ubah Sampah Lama di TPA Diubah Jadi BBM Lewat Teknologi Pirolisis

Bisnis | Selasa, 19 Mei 2026 | 13:00 WIB

Minyak Hampir USD120 per Barel, Dunia Masuk Era Suku Bunga Tinggi Lebih Lama

Minyak Hampir USD120 per Barel, Dunia Masuk Era Suku Bunga Tinggi Lebih Lama

Bisnis | Selasa, 19 Mei 2026 | 12:59 WIB