Rupiah Tembus Rp17.679, Gelombang PHK Massal Menanti di Depan Mata

M Nurhadi, Yaumal Asri Adi Hutasuhut

Selasa, 19 Mei 2026 | 13:46 WIB
Rupiah Tembus Rp17.679, Gelombang PHK Massal Menanti di Depan Mata
Sebagai Ilustrasi-Buruh dan karyawan mendengarkan pidato dari direksi perusahaan di Pabrik Sri Rejeki Isman Tbk (Sritex) di Sukoharjo, Jawa Tengah, Jumat (28/2/2025) [Suara.com/ANTARA]
baca 10 detik
  • CORE Indonesia memperingatkan risiko PHK massal akibat melemahnya nilai tukar rupiah yang menyentuh Rp17.679 per dolar AS.
  • Lonjakan biaya produksi dan rendahnya permintaan pasar menekan sektor manufaktur domestik yang sangat bergantung pada bahan baku impor.
  • CORE menyarankan perusahaan mencari bahan baku lokal serta mendesak pemerintah menjaga stabilitas makroekonomi dan disiplin tata kelola anggaran.

Suara.com - Indonesia kini tengah menghadapi alarm keras di sektor ketenagakerjaan. Lembaga penelitian ekonomi Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia memberikan peringatan serius mengenai potensi terjadinya gelombang Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) massal di dalam negeri.

Ancaman ini mencuat sebagai dampak langsung dari berlanjutnya tren pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) yang kian tidak terkendali.

Berdasarkan data perdagangan pada Selasa (19/5/2026), mata uang Garuda terpantau terus terperosok dalam hingga menyentuh angka Rp17.679 per dolar AS.

Kejatuhan nilai tukar ini dinilai menjadi sumbu utama yang memicu lonjakan biaya produksi secara masif di tingkat pelaku industri domestik.

Direktur Eksekutif CORE Indonesia, Mohammad Faisal, menjelaskan bahwa dunia usaha nasional saat ini tidak hanya menghadapi tantangan tunggal, melainkan tengah dihantam oleh tiga tekanan utama sekaligus pada pos biaya operasional mereka.

Faktor pertama adalah kenaikan harga atau inflasi bahan baku di negara asal yang dipicu oleh disrupsi rantai pasok global.

Kedua, para pelaku usaha harus menanggung biaya distribusi logistik dan premi asuransi internasional yang kini jauh lebih mahal.

Faktor ketiga, yang menjadi pemberat utama, adalah depresiasi nilai tukar rupiah yang membuat biaya pembelian bahan baku impor semakin membubung tinggi saat dikonversi ke mata uang lokal.

"Jadi artinya ada peningkatan beban biaya produksi yang lebih besar," ujar Faisal saat dihubungi Suara.com yang dikutip pada Selasa (19/5/2026).

baca juga

Sektor Manufaktur Paling Terpukul di Hulu dan Hilir

Faisal menambahkan, meski dampak ekonomi dari pelemahan rupiah ini tidak tersebar merata di seluruh sektor usaha, tekanan paling berat otomatis dirasakan oleh industri manufaktur.

Sektor ini menjadi yang paling rentan karena memiliki ketergantungan yang sangat tinggi terhadap pasokan bahan baku dari luar negeri. Beberapa sektor yang berada di zona merah di antaranya adalah industri kimia, farmasi, serta industri makanan dan minuman.

Ironisnya, lonjakan biaya di sektor hulu ini tidak diimbangi dengan performa yang baik di sektor hilir. Menurut analisis CORE, pelaku industri saat ini terjebak dalam kondisi dilematis: Di satu sisi modal produksi membengkak mahal, namun di sisi lain mereka dihadapkan pada penurunan volume penjualan akibat lesunya permintaan pasar domestik maupun global.

Kombinasi mematikan antara modal yang tinggi dan penjualan yang merosot ini pada akhirnya memaksa para pemilik modal untuk mengambil langkah efisiensi yang ekstrem demi menjaga kelangsungan korporasi.

"Dan salah satu kemungkinan untuk melakukan efisiensi, dengan mengurangi, biasanya juga mengurangi jumlah tenaga kerja," kata Faisal.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Kalkulator Kecocokan Jodoh Online Menurut Primbon Jawa, Bantu Cek Keserasian Pasangan
Ikuti Kuisnya ➔
Gryffindor atau Slytherin? Cek Kepribadianmu di Kuis Asrama Hogwarts
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Dari Purbaya Effect ke Purbaya Pretext: Ketika Optimisme Pasar Mulai Goyah

Dari Purbaya Effect ke Purbaya Pretext: Ketika Optimisme Pasar Mulai Goyah

Bisnis | Selasa, 19 Mei 2026 | 12:27 WIB

Purbaya Gelontorkan Rp 2 Triliun per Hari demi Selamatkan Nilai Tukar Rupiah

Purbaya Gelontorkan Rp 2 Triliun per Hari demi Selamatkan Nilai Tukar Rupiah

Bisnis | Selasa, 19 Mei 2026 | 12:08 WIB

BI Tetap Pede Rupiah di Level Rp 16.800 pada Akhir Tahun

BI Tetap Pede Rupiah di Level Rp 16.800 pada Akhir Tahun

Video | Selasa, 19 Mei 2026 | 12:00 WIB

Harta Gubernur BI Rp72 M Disorot saat Rupiah Lemah, Punya Tunggangan Mewah Rp2,4 M

Harta Gubernur BI Rp72 M Disorot saat Rupiah Lemah, Punya Tunggangan Mewah Rp2,4 M

Otomotif | Selasa, 19 Mei 2026 | 11:38 WIB

Rupiah Melemah, Minyak Dunia Tetap di atas 100 Dolar AS, Ini Harga BBM di Indonesia!

Rupiah Melemah, Minyak Dunia Tetap di atas 100 Dolar AS, Ini Harga BBM di Indonesia!

Bisnis | Selasa, 19 Mei 2026 | 09:45 WIB

Rupiah Melemah, Harga Emas Antam Hari Ini Stabil di Angka Rp2,7 Juta per Gram

Rupiah Melemah, Harga Emas Antam Hari Ini Stabil di Angka Rp2,7 Juta per Gram

Bisnis | Selasa, 19 Mei 2026 | 09:36 WIB

Terkini

Sosok Mbah Leginah, Nenek Viral yang Sering Ngonten Bareng Cucu Meninggal Dunia

Sosok Mbah Leginah, Nenek Viral yang Sering Ngonten Bareng Cucu Meninggal Dunia

Lifestyle | Sabtu, 03 Oktober 2026 | 21:07 WIB

Maki-maki Striker Malaysia Tuding Timnas Indonesia Curang: Mereka Main di Jakarta, Kami di Bandung

Maki-maki Striker Malaysia Tuding Timnas Indonesia Curang: Mereka Main di Jakarta, Kami di Bandung

Bola | Sabtu, 03 Oktober 2026 | 21:00 WIB

Harga Paket Internet Naik, Komdigi Evaluasi Penerapan Tarif Operator Seluler

Harga Paket Internet Naik, Komdigi Evaluasi Penerapan Tarif Operator Seluler

Tekno | Sabtu, 03 Oktober 2026 | 20:54 WIB

Luky Alfirman Jadi Wamenkeu, Pengamat: Bisa Jadi Akal-akalan Amankan Jalan Politik 2029

Luky Alfirman Jadi Wamenkeu, Pengamat: Bisa Jadi Akal-akalan Amankan Jalan Politik 2029

Jogja | Sabtu, 03 Oktober 2026 | 20:51 WIB

Ketika Kopi dan Seni Bertemu, Menikmati Galeri Jadi Pengalaman yang Berbeda

Ketika Kopi dan Seni Bertemu, Menikmati Galeri Jadi Pengalaman yang Berbeda

Lifestyle | Sabtu, 03 Oktober 2026 | 20:39 WIB

Struktur Pemerintahan Prabowo Makin Gemoy, DPD Tagih Janji Efisiensi: Jangan Cuma Bagi-Bagi Jabatan

Struktur Pemerintahan Prabowo Makin Gemoy, DPD Tagih Janji Efisiensi: Jangan Cuma Bagi-Bagi Jabatan

Bola | Sabtu, 03 Oktober 2026 | 20:30 WIB

3 Shio yang Menarik Keberuntungan 4-11 Oktober 2026, Kamu Termasuk?

3 Shio yang Menarik Keberuntungan 4-11 Oktober 2026, Kamu Termasuk?

Lifestyle | Sabtu, 03 Oktober 2026 | 20:30 WIB

Prabowo Sering ke Luar Negeri, Pengamat Nilai Peran Vital Menlu Baru

Prabowo Sering ke Luar Negeri, Pengamat Nilai Peran Vital Menlu Baru

Video | Sabtu, 03 Oktober 2026 | 20:30 WIB

Biomassa Jadi Bisnis Baru Desa, PLN EPI Bidik 100 Desa

Biomassa Jadi Bisnis Baru Desa, PLN EPI Bidik 100 Desa

Bisnis | Sabtu, 03 Oktober 2026 | 20:25 WIB

Cake Tak Lagi Identik dengan Perayaan, Harvest Bawa Kreasi Baru Bersama Reynold Poernomo

Cake Tak Lagi Identik dengan Perayaan, Harvest Bawa Kreasi Baru Bersama Reynold Poernomo

Lifestyle | Sabtu, 03 Oktober 2026 | 20:20 WIB

×