- PT Barito Pacific Tbk memberikan tanggapan resmi pada 21 Mei 2026 terkait rumor margin call saham anak usahanya, TPIA.
- Saham TPIA mengalami tekanan jual dan ARB berturut-turut akibat rebalancing indeks global serta arus keluar modal asing.
- Manajemen menegaskan pengelolaan keuangan tetap dilakukan secara prudent dan terukur untuk memitigasi risiko volatilitas di pasar modal.
Suara.com - Emiten milik konglomerat Prajogo Pangestu, PT Barito Pacific Tbk (BRPT), memberikan tanggapan resmi guna meredam spekulasi yang berkembang di jagat maya terkait kondisi finansial perusahaan.
Langkah ini diambil menyusul maraknya rumor di media sosial mengenai potensi terjadinya margin call atas saham anak usahanya, PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA), akibat koreksi tajam yang menimpa pos-pos saham Grup Barito belakangan ini.
Narasi liar tersebut terpantau ramai diperdebatkan di berbagai platform digital seperti X (dahulu Twitter) dan Instagram.
Sejumlah akun memperbincangkan pelemahan beruntun saham TPIA—yang beberapa kali menyentuh batas Auto Rejection Bawah (ARB) 15 persen—dan mengaitkannya dengan potensi tekanan pada fasilitas pembiayaan perbankan berbasis jaminan ekuitas.
Terkini, harga saham TPIA berada di angka Rp2.270, yang merupakan ARB saham. Saham ini sendiri mengalami tekanan berjilid-jilid sehingga memicu perdebatan di pasar modal.
Saham Grup Barito PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) kembali terpukul pada Kamis (21/5/2026), memperpanjang tren auto rejection bawah (ARB) selama lima hari berturut-turut di tengah sentimen keluarnya saham tersebut dari indeks MSCI dan potensi arus dana asing keluar hingga triliunan rupiah.
Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), sejak 09.41 WIB, saham TPIA ambles 14,66 persen ke level Rp2.270 per unit, turun ke level terendah sejak sekitar September 2023.
Sementara saham BRPT juga melemah 11% di angka Rp1.530.
Bahkan, terdapat salah satu unggahan spesifik yang menuding bahwa saham TPIA telah diagunkan oleh BRPT dan Prajogo Pangestu kepada sejumlah lembaga keuangan, lengkap dengan analisis spekulatif mengenai batas harga tertentu yang diklaim dapat memicu eksekusi margin call oleh para kreditur.
Manajemen Tegaskan Tata Kelola Keuangan yang Prudent
Menyikapi meluasnya rumor tersebut, pihak Corporate Communication Barito Pacific menegaskan bahwa seluruh struktur permodalan, fasilitas pinjaman, maupun skema penjaminan saham korporasi selalu dikelola dengan prinsip kehati-hatian (prudent) dan terukur.
“Seluruh fasilitas pembiayaan dan penjaminan saham oleh Barito Pacific dikelola secara prudent dengan mempertimbangkan berbagai skenario risiko secara terukur. Penjaminan saham juga mencakup mekanisme dalam memitigasi terjadinya volatilitas pasar,” tulis manajemen dalam keterangan resmi, Kamis (21/5/2026).
Pihak emiten menambahkan bahwa skema penjaminan saham yang dimiliki perseroan sejak awal telah dirancang untuk menghadapi volatilitas pasar yang ekstrem.
Hingga saat ini, BRPT secara disiplin terus mengawal rasio margin dan menjaga posisi likuiditas internal tetap aman sesuai dengan koridor manajemen risiko yang ketat.
Manajemen juga mengimbau para investor untuk melihat pergerakan harga saham sebagai bagian dari dinamika pasar sekunder yang wajar. Mereka menjamin bahwa situasi di pasar modal tidak merefleksikan kondisi riil perusahaan, karena operasional dan fundamental bisnis Barito Pacific bersama seluruh anak usahanya dipastikan tetap berada dalam kondisi solid serta resilien.
Sebagaimana diketahui, tekanan jual yang masif pada saham-saham afiliasi Grup Barito, seperti PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN), TPIA, dan BRPT, terjadi di tengah volatilitas pasar finansial yang sedang meninggi.
Kondisi tersebut diperberat oleh adanya arus modal keluar dari investor asing (capital outflow) akibat agenda evaluasi dan penataan ulang (rebalancing) portofolio pada beberapa indeks global terkemuka, seperti MSCI dan pengumuman dari FTSE Russell, yang secara kebetulan bertepatan dengan bergesernya sentimen pelaku pasar terhadap saham-saham sektor konglomerasi.