- Ekonom Rumayya Batubara menilai pemangkasan komisi ojol menjadi 8 persen akan mengubah model bisnis aplikator di Indonesia.
- GoTo tetap optimis menjaga stabilitas perusahaan melalui diversifikasi layanan fintech, logistik, dan penggunaan efisiensi operasional berbasis AI.
- GoTo dan Grab akan menyesuaikan skema bagi hasil serta berkomitmen menjaga kesejahteraan mitra pengemudi melalui program pendukung.
Suara.com - Ekonom Universitas Airlangga, Rumayya Batubara, menilai pemangkasan komisi ojek online (ojol) bisa mengubah arah bisnis para aplikator.
Hal ini karena pendapatan utama dari layanan ojol tergerus dari pemangkasan komisi dari 20 persen menjadi 8 persen.
"GoTo sendiri mengakui itu (ada dampak pada pendapatan roda dua). Tapi apakah ini langsung mengancam keberlanjutan bisnis mereka? Tidak otomatis" ujarnya di Jakarta, Jumat (22/5/2026).
Dia mengatakan para aplikator termasuk Goto dan Grab sejak awal tidak menaruh semua telur di satu keranjang.
Mereka bukan cuma aplikasi ojek, tetapi terdiversifikasi dengan lini bisnis keuangan teknologi atau fintech, ada layanan logistik, dan berbagai lini ekosistem digital lain yang bisa saling menopang.
![Sebagai perusahaan yang lahir dan tumbuh di Indonesia, PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk mengambil peran aktif dalam menjaga dan meningkatkan kesejahteraan jutaan mitra driver Gojek beserta keluarganya. [Dok Pribadi]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2026/01/28/54610-goto.jpg)
"Sepanjang 2025, pendapatan bersih fintech GoTo saja tumbuh 62 persen menjadi Rp5,8 triliun. Selain itu, efisiensi operasional berbasis AI juga menjadi salah satu faktor yang membantu GoTo mencetak laba bersih pertama kalinya pada kuartal I 2026. Jadi kalau satu lini terkena tekanan regulasi, bukan berarti seluruh bisnis langsung goyah," jelasnya.
Sebelumnya, Hans Patuwo, Dirut Goto menyampaikan akan melakukan empat strategi implementasi komisi ojol.
Pertama, perusahaan akan menyesuaikan skema bagi hasil layanan roda dua sesuai arahan Presiden. Langkah ini akan menyesuaikan komponen pendapatan perusahaan dari layanan transportasi online roda dua (GoRide).
Kedua, Gojek akan menghentikan “program langganan GoRide Hemat” untuk mitra pengemudi. GoRide Hemat nantinya akan mengikuti sistem bagi hasil 8% seperti GoRide Reguler.
Ketiga, Gojek terus memastikan seluruh program kesejahteraan mitra pengemudi tetap menjadi prioritas, seperti Program Bonus Hari Raya (BHR), BPJS Ketenagakerjaan, BPJS Kesehatan, beasiswa untuk mitra dan anak mitra pengemudi, Umroh gratis, Bursa Kerja Mitra Gojek, dan Cek Kesehatan Gratis.
Keempat, GoTo akan andalkan ekosistem yang terus bertumbuh dari layanan teknologi finansial, logistik/ pengantaran dan lini bisnis lainnya. "Melalui kekuatan ekosistem dan inovasi yang berkelanjutan, kami optimis dapat melakukan penyesuaian dengan baik, sekaligus menjaga stabilitas jangka panjang Gojek dan GoTo," kata Hans.
Sementara, Neneng Goenadi, CEO Grab Indonesia menegaskan pihaknya mengupayakan pendapatan mitra tetap terjaga di tengah dinamika industri saat ini.
"Grab akan senantiasa berkoordinasi dengan pemerintah dan seluruh pemangku kepentingan untuk memastikan implementasi Perpres bagi mitra pengemudi transportasi roda dua nantinya akan berjalan dengan lancar," katanya.