- PT Bank DBS Indonesia memproyeksikan IHSG berpotensi menguat hingga mencapai level 8.000 berkat stabilitas ekonomi serta kinerja emiten.
- Optimisme penguatan pasar saham didorong oleh valuasi yang menarik serta kebijakan pemerintah dan Bank Indonesia yang tepat.
- Nilai tukar rupiah diprediksi menguat ke kisaran Rp17.600 jika bank sentral Amerika Serikat mempertahankan suku bunga acuan stabil.
Suara.com - PT Bank DBS Indonesia memproyeksikan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berpotensi menguat dan rupiah kembali stabil.
Adapun IHSG diramal menguat hingga menyentuh level 8.000. Proyeksi ini bisa terjadi jika membaiknya prospek kinerja emiten, stabilitas ekonomi nasional, serta meredanya sentimen negatif yang selama ini membebani pasar keuangan Indonesia.
Head of Investment and Insurance Product DBS Indonesia, Djoko Soelistyo, mengatakan proyeksi tersebut telah mempertimbangkan berbagai faktor, mulai dari isu klasifikasi pasar oleh MSCI, nilai tukar rupiah yang saat ini berada di kisaran Rp18.000 per dolar Amerika Serikat, hingga valuasi pasar saham Indonesia yang dinilai masih menarik dengan price to earnings (PE) ratio sekitar 13 kali.
"Kami melihat IHSG akan mencapai level 8.000. Proyeksi ini sudah mengakomodasi beberapa faktor, termasuk isu MSCI, nilai tukar rupiah yang berada di sekitar Rp18.000 per dolar AS, serta valuasi pasar dengan PE ratio sekitar 13 kali. Perhitungan standar deviasi juga sudah kami masukkan dalam proyeksi tersebut," jelas Djoko.
Menurut dia, saat ini pasar saham Indonesia masih berada pada kondisi sekitar minus dua standar deviasi.
Namun, apabila valuasi kembali ke kisaran normal atau satu standar deviasi, maka ruang penguatan IHSG dinilai masih cukup besar.

Djoko menilai, optimisme tersebut tidak lagi semata-mata bergantung pada keputusan MSCI terkait status pasar modal Indonesia.
Menurutnya, berbagai kebijakan yang ditempuh pemerintah dan Bank Indonesia menunjukkan arah yang tepat sehingga mampu meningkatkan kepercayaan investor.
"Terlepas dari keputusan MSCI pada November nanti, kami melihat berbagai langkah yang dilakukan pemerintah dan Bank Indonesia sudah berada di jalur yang benar atau on track. Hal itu juga tercermin dari lembaga pemeringkat yang masih mempertahankan peringkat kredit Indonesia di level investment grade dengan outlook stabil," bebernya.
Selain optimistis terhadap pasar saham, DBS Indonesia juga memperkirakan nilai tukar rupiah berpeluang menguat dari posisi saat ini apabila kondisi global. Khususnya, kebijakan moneter Amerika Serikat, berjalan sesuai ekspektasi.
Djoko mengatakan, proyeksi Chief Investment Officer (CIO) DBS memperkirakan rupiah dapat kembali menguat ke kisaran Rp17.600 hingga sekitar Rp17.700 per dolar AS, apabila bank sentral Amerika Serikat (The Fed) mempertahankan suku bunga acuan atau tidak kembali bersikap lebih agresif.
"Ekspektasi CIO kami, apabila The Fed mempertahankan tren suku bunganya tetap datar, maka rupiah berpeluang kembali menguat ke kisaran Rp17.600 hingga sekitar Rp17.700 per dolar AS.
Meski demikian, DBS menegaskan, seluruh proyeksi tersebut masih bergantung pada perkembangan ekonomi global, arah kebijakan The Fed, serta dinamika pasar keuangan internasional dalam beberapa bulan mendatang.
"Namun, apabila The Fed kembali menaikkan suku bunga hingga setidaknya empat persen, maka seluruh proyeksi tersebut tentu akan berubah karena nilai tukar rupiah sangat dipengaruhi oleh arah kebijakan moneter Amerika Serikat," tegasnya.