-
Militer AS melumpuhkan tanker M/T Belma yang mencoba menerobos blokade menuju Iran.
-
Aktivitas pelayaran di Selat Hormuz anjlok drastis setelah negosiasi diplomatik kedua negara gagal.
-
Gangguan pemalsuan sinyal GPS memperparah risiko navigasi bagi kapal komersial di wilayah tersebut.
Suara.com - Militer Amerika Serikat melumpuhkan sebuah kapal tanker minyak kosong yang sedang berlayar menuju Pulau Kharg, Iran. Langkah tegas ini menandai aksi perdana pasukan maritim AS sejak pemberlakuan kembali blokade pelabuhan Iran.
Kapal komersial berbendera Curacao bernama M/T Belma tersebut menjadi sasaran setelah mengabaikan serangkaian peringatan. Blokade ketat ini kembali aktif setelah jalur diplomasi tidak langsung antara kedua negara menemui jalan buntu.
Pasukan Komando Sentral AS langsung mengambil tindakan taktis di perairan internasional demi menegakkan aturan tersebut. Serangan ini mengirimkan sinyal kuat mengenai keseriusan Washington dalam memotong urat nadi ekonomi Teheran.

“Pasukan Komando Sentral AS (CENTCOM) mengamati M/T Belma berbendera Curacao melintasi perairan internasional menuju Pulau Kharg. Kapal komersial tersebut mengabaikan beberapa peringatan saat mencoba melanggar blokade AS. Sebuah pesawat AS melumpuhkan kapal tersebut setelah menembakkan rudal Hellfire ke cerobong asap kapal. Kapal tersebut tidak lagi transit ke Iran,” kata CENTCOM dalam sebuah unggahan di X.
Ketegangan di Selat Hormuz kini mencapai titik didih baru seiring meningkatnya kehadiran militer di wilayah tersebut. Operasi pengawasan laut diperketat guna memastikan tidak ada armada logistik yang lolos ke wilayah musuh.
Pihak Komando Sentral AS menambahkan bahwa selama 24 jam pertama blokade maritim berjalan, mereka telah mengalihkan “dua kapal komersial yang patuh dan melumpuhkan satu kapal yang tidak patuh.”
Skala operasi kali ini diperkirakan dapat menyamai atau bahkan melebihi ketatnya penegakan hukum pada masa lalu. Pengalaman sebelumnya menunjukkan bahwa ratusan armada pengangkut terpaksa mengubah rute demi menghindari konfrontasi bersenjata.
Pada blokade sebelumnya yang dicabut setelah memorandum kesepahaman pertengahan Juni, CENTCOM mengklaim telah mengalihkan 142 kapal. Mereka juga tercatat melumpuhkan sembilan kapal yang tidak patuh selama periode dua bulan.
Data lalu lintas laut terkini memperlihatkan penurunan drastis jumlah kapal yang berani melintasi kawasan konflik. Para pelaku industri pelayaran global kini cenderung menahan armada mereka akibat risiko keamanan yang terlampau tinggi.
Setidaknya 13 kapal komersial terpantau melewati Selat Hormuz dalam kurun waktu 24 jam terakhir di tengah situasi memanas ini. Angka tersebut sangat kontras dibandingkan dengan volume pelayaran normal sebelum eskalasi militer pecah.
Berdasarkan data MarineTraffic, delapan kapal bergerak memasuki Teluk Persia yang terdiri dari enam kapal kargo dan dua tanker. Sementara itu, lima kapal yang terdiri dari tiga tanker dan dua kapal kargo terpantau meninggalkan kawasan tersebut.
Jumlah pergerakan ini konsisten dengan rendahnya level transit yang tercatat dalam beberapa hari belakangan. Penurunan aktivitas kapal terjadi setelah negosiasi tidak langsung antara pihak Amerika Serikat dan Iran dinyatakan gagal total.
Kondisi normal sebelum konflik biasanya mencatat rata-rata sekitar 110 kapal yang mengarungi selat strategis tersebut setiap harinya. Penurunan drastis ini mengganggu rantai pasok energi global dan memicu kekhawatiran pelaku pasar dunia.
Masalah keselamatan pelayaran di kawasan ini kian diperparah oleh maraknya gangguan sinyal elektronik pada sistem kapal. Fenomena manipulasi lokasi tersebut membuat otoritas keamanan kesulitan memantau pergerakan armada laut secara akurat.
Pemalsuan sinyal GPS tetap menjadi kekhawatiran utama di wilayah tersebut sebagai bentuk gangguan navigasi yang memalsukan posisi siaran kapal. Gangguan ini telah berlangsung selama berbulan-bulan dan terkadang menggeser koordinat hingga puluhan mil dari lokasi asli.