Market Data
Emas
Indeks Saham
Kurs Rupiah
Jual Rp2.790.000
Beli Rp2.665.000
IHSG 6.127,381
LQ45 611,168
Srikehati 300,000
JII 381,954
USD/IDR 17.879

Harga LNG Global Melonjak, Ekonom Ingatkan Industri dan Pemerintah Hadapi Dilema Ketahanan Energi

Mohammad Fadil Djailani

Selasa, 02 Juni 2026 | 07:52 WIB
Harga LNG Global Melonjak, Ekonom Ingatkan Industri dan Pemerintah Hadapi Dilema Ketahanan Energi
Harga LNG Global Melonjak, Ekonom Ingatkan Industri dan Pemerintah Hadapi Dilema Ketahanan Energi. Foto ist.
  • Harga LNG global naik, industri RI khawatir biaya energi membengkak.
  • Ekonom: kepastian pasokan energi lebih penting daripada harga murah.
  • Subsidi berlebihan dinilai bisa hambat investasi dan ketahanan energi.

Suara.com - Lonjakan harga energi dunia akibat memanasnya dinamika geopolitik global mulai memberikan tekanan serius terhadap sektor industri di berbagai negara, termasuk Indonesia. Kondisi ini memunculkan tantangan besar bagi pemerintah dalam menjaga keseimbangan antara harga energi yang terjangkau, kepastian pasokan, dan keberlanjutan investasi di sektor energi.

Kepala Ekonom Bank Permata, Josua Pardede, menilai kekhawatiran pelaku industri manufaktur terhadap kenaikan harga gas dan ketidakpastian pasokan merupakan hal yang wajar. Pasalnya, gas bumi masih menjadi salah satu tulang punggung operasional industri nasional.

"Gas bumi bukan hanya komoditas energi, tetapi juga faktor produksi utama bagi sektor industri. Karena itu, persoalan harga LNG dan gas tidak bisa dilihat semata-mata sebagai isu energi, melainkan juga menyangkut daya saing industri dan stabilitas ekonomi nasional," ujar Josua.

Data Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menunjukkan sebagian besar gas bumi Indonesia digunakan untuk kebutuhan domestik, terutama sektor industri. Hal ini membuat fluktuasi harga LNG global memiliki dampak langsung terhadap aktivitas manufaktur dan pertumbuhan ekonomi nasional.

Menurut Josua, tekanan yang dihadapi Indonesia saat ini juga dialami banyak negara di Asia yang berlomba mengamankan pasokan LNG untuk memenuhi kebutuhan energi domestik. Berdasarkan data PetroVietnam dan Institute for Energy Economics and Financial Analysis (IEEFA) 2026, harga gas di Vietnam telah mencapai sekitar USD27,81 per MMBtu.

Sementara itu, harga LNG di Filipina mencapai sekitar USD28,50 per MMBtu berdasarkan data S&P Global dan Shell FGEN 2026. Bahkan Singapura sebagai hub LNG regional mencatat harga yang jauh lebih tinggi, yakni sekitar USD40,12 per MMBtu untuk sektor industri dan USD47,54 per MMBtu untuk sektor ritel.

Dibandingkan negara-negara tersebut, harga LNG domestik Indonesia setelah penyesuaian masih berada pada kisaran USD21-25 per MMBtu, sehingga relatif lebih kompetitif.

Meski demikian, Josua mengingatkan bahwa mempertahankan harga LNG terlalu rendah tanpa memperhatikan kondisi pasar global dapat menimbulkan risiko baru bagi ketahanan energi nasional.

Menurutnya, jika LNG non-subsidi dipaksa dijual dengan harga yang tidak mencerminkan biaya pasokan, maka penyedia energi berpotensi mengalami tekanan keuangan yang pada akhirnya mengganggu ketersediaan pasokan.

"Kepastian pasokan energi justru lebih penting dibandingkan harga murah. Jika harga tidak ekonomis, penyedia energi akan lebih berhati-hati dalam mengamankan kontrak jangka panjang maupun membeli pasokan tambahan dari pasar global," katanya.

Lebih jauh, kondisi tersebut juga berpotensi menghambat investasi sektor hulu migas. Investor dinilai akan menahan ekspansi apabila harga domestik tidak memberikan tingkat pengembalian yang memadai.

Jika investasi migas melemah, Indonesia berisiko semakin bergantung pada impor energi, termasuk LNG, yang membuat perekonomian lebih rentan terhadap gejolak harga energi dunia.

Untuk mengatasi persoalan tersebut, Josua mendorong pemerintah menerapkan mekanisme penyesuaian harga secara bertahap. Ketika harga LNG global naik, kenaikan harga kepada industri dilakukan secara terukur. Sebaliknya, saat harga global turun, manfaatnya juga perlu diteruskan kepada konsumen industri.

Selain itu, ia menekankan pentingnya kontrak pasokan jangka panjang, peningkatan efisiensi energi di sektor industri, percepatan produksi gas domestik, serta penciptaan kepastian investasi di sektor hulu migas.

"Pendekatan ini menjadi jalan tengah agar industri tetap kompetitif tanpa mengorbankan ketahanan energi nasional dalam jangka panjang," jelasnya.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Kamu Cocok Buat Beli HP Apa? Cek Rekomendasinya
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Tak Miliki Bisnis Sawit, Ini Profil PT MMSGI

Tak Miliki Bisnis Sawit, Ini Profil PT MMSGI

Bisnis | Senin, 01 Juni 2026 | 16:47 WIB

Kemendag Ungkap Penyebab Koreksi Harga Emas pada Awal Juni 2026

Kemendag Ungkap Penyebab Koreksi Harga Emas pada Awal Juni 2026

Bisnis | Senin, 01 Juni 2026 | 14:52 WIB

Kejutan Harga Mobil Suzuki Juni 2026. Ada Fronx Hingga S-Presso yang Bikin Menggoda

Kejutan Harga Mobil Suzuki Juni 2026. Ada Fronx Hingga S-Presso yang Bikin Menggoda

Otomotif | Senin, 01 Juni 2026 | 15:08 WIB

Terkini

Rupiah Diramal Bergerak Fluktuatif Hari Ini, Cenderung Melemah ke Level Rp17.850

Rupiah Diramal Bergerak Fluktuatif Hari Ini, Cenderung Melemah ke Level Rp17.850

Bisnis | Selasa, 02 Juni 2026 | 07:44 WIB

IHSG Hari Ini Rawan Koreksi, Analis Beri Rekomendasi Saham: Jangan Asal Serok!

IHSG Hari Ini Rawan Koreksi, Analis Beri Rekomendasi Saham: Jangan Asal Serok!

Bisnis | Selasa, 02 Juni 2026 | 07:15 WIB

Bukan Emas, Ini Komoditas yang Diprediksi 'Cuan' di Tengah Perang AS-Iran-Israel

Bukan Emas, Ini Komoditas yang Diprediksi 'Cuan' di Tengah Perang AS-Iran-Israel

Bisnis | Selasa, 02 Juni 2026 | 07:07 WIB

Neraca Pembayaran Indonesia Defisit USD9,1 Miliar, Terburuk Sejak Pandemi

Neraca Pembayaran Indonesia Defisit USD9,1 Miliar, Terburuk Sejak Pandemi

Bisnis | Selasa, 02 Juni 2026 | 06:52 WIB

Ekspansi Layanan Produk Ekosistem Bisnis Digital Utilitas Kian Diminati

Ekspansi Layanan Produk Ekosistem Bisnis Digital Utilitas Kian Diminati

Bisnis | Selasa, 02 Juni 2026 | 06:35 WIB

Rute Transjakarta Dialihkan Imbas Kebakaran Kemayoran, Cek Jalur Alternatifnya

Rute Transjakarta Dialihkan Imbas Kebakaran Kemayoran, Cek Jalur Alternatifnya

Bisnis | Selasa, 02 Juni 2026 | 00:11 WIB

Jangan Asal Investasi! Pahami 3 Hal Ini Sebelum Uang Anda Ludes di Pasar Berjangka

Jangan Asal Investasi! Pahami 3 Hal Ini Sebelum Uang Anda Ludes di Pasar Berjangka

Bisnis | Selasa, 02 Juni 2026 | 00:01 WIB

Perkuat PT GMM, Bulog Fokus Jaga Kepercayaan dan Kemitraan dengan Petani Tebu Blora

Perkuat PT GMM, Bulog Fokus Jaga Kepercayaan dan Kemitraan dengan Petani Tebu Blora

Bisnis | Senin, 01 Juni 2026 | 21:56 WIB

Influencer Tak Lagi Dapat PPh UMKM 0,5 Persen, Purbaya: Tak Ada Lapangan Kerja

Influencer Tak Lagi Dapat PPh UMKM 0,5 Persen, Purbaya: Tak Ada Lapangan Kerja

Bisnis | Senin, 01 Juni 2026 | 19:21 WIB

PT GMM Pastikan Penyampaian Aspirasi Petani Tebu di Blora Berjalan Tertib dan Kondusif

PT GMM Pastikan Penyampaian Aspirasi Petani Tebu di Blora Berjalan Tertib dan Kondusif

Bisnis | Senin, 01 Juni 2026 | 18:38 WIB