- Harga LNG global naik, industri RI khawatir biaya energi membengkak.
- Ekonom: kepastian pasokan energi lebih penting daripada harga murah.
- Subsidi berlebihan dinilai bisa hambat investasi dan ketahanan energi.
Pandangan serupa disampaikan Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Brawijaya sekaligus Direktur Pusat Penelitian Kebijakan Ekonomi (PPKE FEB UB), Prof. Candra Fajri Ananda. Menurutnya, dalam kondisi pasar energi global yang bergejolak, prioritas utama pemerintah haruslah memastikan energi tersedia dan tidak mengalami kelangkaan.
"Harga energi pada akhirnya harus mampu menutup biaya produksi. Dalam situasi seperti sekarang, yang paling penting adalah ketersediaan energi, bukan semata-mata harga murah," ujarnya.
Candra menilai ketergantungan berlebihan terhadap subsidi energi juga bukan solusi jangka panjang. Menurutnya, subsidi memang dapat memberikan manfaat sesaat, namun berpotensi mengurangi efisiensi ekonomi dan menurunkan daya tarik investasi di sektor energi.
"Subsidi ibarat vitamin. Sesaat membuat terlihat sehat, tetapi jika terus bergantung justru membuat fondasi ekonomi menjadi rapuh," tegasnya.
Karena itu, keseimbangan antara kepentingan pengguna energi dan keberlanjutan bisnis penyedia energi menjadi faktor krusial agar pasokan energi nasional tetap terjaga di tengah ketidakpastian global yang semakin tinggi.