- Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia dibuka melesat ke level 6.213 pada Selasa, 2 Juni.
- Perdagangan mencatat volume 2,56 miliar saham dengan nilai transaksi mencapai Rp 2,80 triliun melalui 225.000 kali frekuensi.
- Kiwoom Sekuritas memproyeksikan IHSG bergerak variatif dengan mempertimbangkan sentimen konflik global serta data makroekonomi nasional yang akan dirilis.
Suara.com - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), Selasa, 2 Juni dibuka melesat ke level 6.210, setelah libur panjang.
Mengutip data Bursa Efek Indonesia (BEI), hingga pukul 09.06 WIB, IHSG masih terus merangkak naik 1,41 persen ke level 6.213.
Pada perdagangan pada waktu itu, sebanyak 2,56 miliar saham diperdagangkan dengan nilai transaksi sebesar Rp 2,80 triliun, serta frekuensi sebanyak 225.000 kali.
Dalam perdagangan di waktu tersebut, sebanyak 290 saham bergerak naik, sedangkan 274 saham mengalami penurunan, dan 395 saham tidak mengalami pergerakan.
![IHSG merosot tajam pada perdagangan sesi I hari ini. [ANTARA].](https://media.suara.com/pictures/653x366/2026/05/12/79563-ihsg.jpg)
Adapun, beberapa saham yang menjadi Top Gainers pada waktu itu diantaranya, CUAN, DSSA, BREN, OMRE, dan APLI.
Sedangkan, saham yang masuk dalam Top Loser diantaranya, ENAK, PDPP, PPGL, HBAT, dan BINA.
Proyeksi IHSG
Laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan Selasa (2/6/2026) diperkirakan bakal bergerak variatif (mixed) dengan kecenderungan menguat dalam rentang yang terbatas.
Kendati ada peluang penguatan, para pelaku pasar diimbau untuk tetap meningkatkan kewaspadaan terhadap kombinasi sentimen global dan domestik, mulai dari eskalasi konflik di Timur Tengah hingga rilis data makroekonomi nasional.
VP Equity Retail Kiwoom Sekuritas Indonesia, Oktavianus Audi, memproyeksikan bahwa indeks saham gabungan hari ini akan bergerak pada kisaran level support 6.060 dan resistance 6.209.
Berdasarkan indikator teknikal Moving Average Convergence Divergence (MACD), tren akselerasi pasar saat ini mulai memperlihatkan tanda-tanda jenuh beli sehingga ruang kenaikan menjadi cukup ketat.
"IHSG, inflasi Indonesia, nilai tukar rupiah, dan konflik Timur Tengah menjadi faktor utama yang dipantau investor dalam menentukan strategi investasi jangka pendek," urai Audi ketika dihubungi Redaksi, Selasa (2/6/2026).
Menurut analisis Kiwoom Sekuritas, fluktuasi pasar modal hari ini akan sangat dipengaruhi oleh dinamika indeks global, angka inflasi Mei 2026, serta kinerja PMI manufaktur nasional di tengah tingginya ketidakpastian ekonomi dunia.
Disclaimer: Artikel ini merupakan pandangan dan analisis pasar yang ditujukan sebagai informasi umum, bukan saran atau rekomendasi investasi. Keputusan investasi tetap berada di tangan pembaca, dan setiap risiko investasi menjadi tanggung jawab pribadi.