- Rupiah tembus Rp18.110 per dolar AS, melemah 0,58% pada perdagangan pagi.
- IHSG anjlok 3,23%, sebanyak 532 saham bergerak di zona merah.
- Pasar tunggu bukti nyata jurus BI-Kemenkeu, bukan sekadar koordinasi.
Likuiditas yang memadai akan membantu menjaga fungsi pasar uang, mendukung penyaluran kredit, serta meningkatkan efektivitas operasi moneter BI. Meski demikian, pengelolaannya harus dilakukan secara hati-hati.
"Jika terlalu ketat, ekonomi riil dan kredit bisa tertekan. Jika terlalu longgar ketika rupiah sedang melemah, permintaan valas justru bisa meningkat," jelasnya.
Ia menegaskan bahwa yang dibutuhkan bukan sekadar likuiditas yang cukup, melainkan likuiditas yang diarahkan untuk menopang stabilitas ekonomi tanpa mengorbankan pertumbuhan.
Lebih lanjut, Josua menilai penguatan rupiah yang berkelanjutan memerlukan dukungan faktor lain yang lebih mendasar. Pemerintah perlu menjaga disiplin Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), memperjelas arah kebijakan ekonomi, serta mengurangi ketidakpastian yang dapat mengganggu dunia usaha.
Menurutnya, rupiah baru memiliki peluang menguat lebih konsisten apabila tekanan global mulai mereda, harga minyak dunia terkendali, arus modal asing kembali masuk secara stabil, cadangan devisa tetap kuat, serta persepsi investor terhadap pengelolaan fiskal Indonesia membaik.
"Rupiah baru bisa menguat lebih berkelanjutan apabila tekanan global mereda, harga minyak terkendali, arus dana asing kembali masuk secara konsisten, cadangan devisa tetap kuat, dan pemerintah mampu memperbaiki persepsi terhadap pengelolaan fiskal," tegas Josua.