- Asing net sell BBCA Rp328 miliar, lepas 66,2 juta saham.
- Saham BBCA turun 3,05% ke Rp4.920, terendah 52 minggu.
- BBCA anjlok 38,5% sejak awal tahun di tengah tekanan jual asing.
Suara.com - Tekanan jual investor asing kembali menghantam saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) pada perdagangan Senin (8/6/2026). Di tengah pelemahan pasar, investor global tercatat melakukan aksi jual bersih (net sell) sebesar Rp325,3 miliar pada sesi pertama perdagangan di Bursa Efek Indonesia (BEI).
Sebagian besar aksi jual tersebut terpusat pada saham BBCA. Berdasarkan data perdagangan yang dihimpun dari Stockbit Sekuritas, investor asing membukukan net sell BBCA senilai Rp328,2 miliar dengan volume mencapai 66,2 juta saham.
Gelombang pelepasan saham oleh investor asing itu membuat harga BBCA semakin terpuruk. Hingga sesi kedua perdagangan dibuka, saham emiten perbankan terbesar di Indonesia tersebut turun 3,05% ke level Rp4.920 per saham. Posisi ini sekaligus menjadi titik terendah dalam rentang 52 minggu terakhir.
Tekanan terhadap BBCA juga terlihat dalam kinerja harga sahamnya sepanjang tahun. Dalam satu bulan terakhir, saham BCA telah terkoreksi lebih dari 20%. Sementara sejak awal tahun (year to date/ytd), penurunan mencapai 38,5%, menjadikannya salah satu saham perbankan besar dengan koreksi terdalam di tengah gejolak pasar.
Data Bursa Efek Indonesia menunjukkan aktivitas perdagangan BBCA masih sangat tinggi. Sebanyak 409,6 juta saham berpindah tangan dengan frekuensi transaksi mencapai 63,8 ribu kali. Nilai transaksi yang tercatat mencapai sekitar Rp2,03 triliun.
Menariknya, aksi jual asing pada awal pekan ini berbalik arah dibandingkan perdagangan sebelumnya. Pada Jumat (5/6/2026), investor asing justru tercatat melakukan akumulasi besar di BBCA dengan nilai transaksi mencapai Rp1,1 triliun. Namun perubahan sentimen yang terjadi pada Senin membuat arus dana asing kembali keluar dari saham unggulan tersebut.
Dengan harga yang kini berada di kisaran Rp4.900-an atau jauh di bawah puncak 52 mingguan sebesar Rp9.125 per saham, pelaku pasar mulai mencermati apakah koreksi BBCA telah mencapai titik jenuh atau masih berpotensi berlanjut seiring derasnya arus keluar dana asing dari pasar saham domestik.