- PT Pertamina Patra Niaga menaikkan harga BBM non subsidi pada 10 Juni 2026 di seluruh wilayah Jakarta.
- Kelangkaan pasokan BBM memicu penghentian operasional total pada jaringan SPBU swasta seperti Vivo, BP, dan Shell.
- Manajemen SPBU swasta menutup akses layanan karena kehabisan stok bensin meski telah menaikkan harga jual produk.
Suara.com - Kenaikan harga BBM non subsidi per 10 Juni 2026 yang diinisiasi PT Pertamina Patra Niaga dan diikuti jajaran operator swasta memicu fenomena kelangkaan pasokan yang krusial di wilayah ibu kota.
Berbeda dengan SPBU pelat merah yang tetap melayani konsumen, sejumlah jaringan stasiun pengisian bahan bakar milik swasta justru lumpuh.
Kondisi paling ekstrem terpantau pada jaringan ritel SPBU Vivo yang terpaksa menghentikan total operasional pelayanan akibat tidak adanya pasokan bensin.
Berdasarkan pantauan langsung awak Suara.com di lapangan, pada SPBU Vivo yang terletak di kawasan Jalan Letjen M.T. Haryono, Tebet, Jakarta Selatan pada Rabu (10/6/2026) pukul 11.42 WIB, pos pengisian bahan bakar milik korporasi multinasional tersebut tampak mati suri. Tidak ada aktivitas bongkar muat maupun pelayanan konsumen yang berjalan di area tersebut.
Seluruh akses jalur masuk maupun keluar menuju area dispensor SPBU telah ditutup rapat oleh manajemen menggunakan barikade pembatas berwarna merah-putih.
Di dalam kompleks pengisian juga sama sekali tidak terlihat adanya interaksi petugas lapangan. Kendati demikian, papan indikator harga elektronik berukuran besar di tepi jalan terpantau tetap menyala, menampilkan harga komoditas terbaru di mana varian Revvo 95 dipatok seharga Rp17.240 per liter dan varian Primus Diesel Plus bertengger di angka Rp25.060 per liter.
Sebelumnya, manajemen Vivo telah menyelaraskan harga jual produk andalan mereka seiring volatilitas pasar energi, salah satunya pada produk bensin Revvo 95 yang meroket menjadi Rp17.240 per liter dari tarif lama yang hanya sebesar Rp12.390 per liter.
Namun, nominal harga baru yang tinggi tersebut tidak dibarengi dengan jaminan ketersediaan komoditas di tangki penyimpanan bawah tanah mereka.
Krisis kelangkaan bahan bakar beroktan tinggi ini ternyata tidak hanya memukul operasional Vivo. Fenomena serupa juga melumpuhkan aktivitas komersial di gerai pengisian milik operator swasta lainnya, seperti British Petroleum (BP) dan Shell di wilayah Jakarta Selatan.
Pada titik pantauan SPBU BP di Jalan Minangkabau Barat, Setiabudi, Jakarta Selatan, kelangkaan pasokan juga telah menguras habis stok bensin di hampir seluruh lini produk.
Pihak pengelola bahkan terpaksa membentangkan spanduk pengumuman resmi di area publik bertuliskan "Bensin Tidak Tersedia" guna memberikan informasi langsung kepada para pengendara yang telanjur masuk.
Satu-satunya jenis bahan bakar yang tersisa di dispenser BP hanyalah varian BP Ultimate Diesel yang dibanderol dengan harga premium Rp25.060 per liter.
Sementara untuk produk bensin umum seperti BP 92 (yang harganya naik menjadi Rp16.670 per liter dari Rp12.930) dan varian BP Ultimate (melonjak ke Rp17.240 per liter) dilaporkan nihil.
"Bensin enggak tersedia sejak seminggu lalu. Kalau untuk ada lagi, kami belum tahu," ungkap salah satu kru lapangan SPBU BP saat dimintai keterangan Redaksi Suara.com.
Sektor Ritel Shell Ikut Kehabisan Stok Bensin