- Bank of Japan menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin pada 17 Juni 2026 untuk mengendalikan inflasi dan pelemahan yen.
- Keputusan melalui pemungutan suara mayoritas ini menjadi langkah pengetatan moneter tertinggi yang diambil bank sentral sejak tahun 1995.
- Kebijakan tersebut berdampak pada penguatan indeks Nikkei serta kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah Jepang sebesar 3 basis poin.
Suara.com - Bank of Japan (BOJ) kembali menaikkan suku bunga acuannya sebesar 25 basis poin. Hal ini dilakukan karena mengantisipasi meningkatnya kekhawatiran terhadap inflasi Jepang dan pelemahan nilai tukar yen.
Kenaikan paling tinggi diputuskan oleh BOJ sejak tahun 1995. Keputusan Bank of Japan, suku bunga Jepang, dan inflasi Jepang tersebut diambil melalui pemungutan suara.
Hasilnya tujuh banding satu, di mana anggota dewan Toichiro Asada menjadi satu-satunya yang menolak kenaikan suku bunga dan memilih mempertahankan level sebelumnya.
Langkah pengetatan kebijakan moneter ini dilakukan saat perekonomian Jepang masih menghadapi tekanan dari pelemahan yen serta kenaikan harga-harga yang mulai meningkat akibat lonjakan biaya energi.
Bank of Japan, yen Jepang, dan inflasi Jepang menjadi fokus utama pasar setelah bank sentral menilai risiko kenaikan harga mulai meluas ke berbagai sektor ekonomi.
Usai pengumuman tersebut, indeks Nikkei 225 menguat 0,46 persen, sementara yen menguat tipis ke level 160,22 per dolar AS.
Di saat yang sama, imbal hasil obligasi pemerintah Jepang tenor 10 tahun naik 3 basis poin menjadi 2,615 persen, mencerminkan respons pasar terhadap kebijakan moneter yang lebih ketat.
Dilansir CNBC News, Rabu (17/6/2026), BOJ juga menegaskan akan melanjutkan pengurangan pembelian obligasi pemerintah sebesar 200 miliar yen per kuartal kalender.
Setelah proses tapering selesai, bank sentral akan mempertahankan pembelian obligasi pemerintah Jepang (JGB) sebesar 2 triliun yen per bulan mulai April 2027.
Dalam pernyataannya, BOJ menyebut inflasi konsumen Jepang masih berada di bawah target 2 persen karena berbagai kebijakan pemerintah untuk mengurangi beban rumah tangga akibat tingginya harga energi.
Namun, bank sentral memperingatkan bahwa kenaikan harga minyak mentah mulai diteruskan ke sektor bisnis dengan kecepatan yang relatif tinggi dan berpotensi mendorong kenaikan harga barang konsumsi secara lebih luas.
Kondisi tersebut tercermin pada indeks harga produsen Jepang yang naik 6,3 persen pada Mei 2026, menjadi laju tercepat dalam lebih dari tiga tahun. Kenaikan tersebut terutama dipicu oleh melonjaknya biaya energi yang membebani aktivitas produksi.
Chief Market Strategist APAC J.P. Morgan Asset Management, Tai Hui, mengatakan kenaikan suku bunga sebenarnya sudah diperkirakan pasar.
Namun, dukungan mayoritas anggota dewan menunjukkan bahwa BOJ kini lebih fokus mengendalikan inflasi dibandingkan mendorong pertumbuhan ekonomi.
Menurutnya, meningkatnya ekspektasi pembukaan kembali Selat Hormuz juga membantu mengurangi kekhawatiran gangguan pasokan energi ke Jepang. Kondisi tersebut memberikan ruang bagi BOJ untuk melanjutkan normalisasi kebijakan moneternya.