- Muhammad David mendirikan Sekata Kopi dengan menerapkan konsep rumah kedua untuk menghadapi ketatnya persaingan bisnis kedai kopi.
- Strategi bisnis ini lahir melalui riset mendalam di Jakarta dan Medan guna menciptakan pengalaman emosional bagi pelanggan.
- Penerapan konsep tersebut berhasil membangun basis pelanggan loyal serta menciptakan ruang komunitas yang nyaman bagi berbagai kalangan.
Suara.com - Persaingan bisnis kedai kopi kini sangat tinggi dan berisiko. Karena, setiap gang di suatu daerah kini memiliki kedai kopi, sehingga perlu strategi untuk bertahan di bisnis ini.
Para pelaku usaha kedai kopi bisa menggunakan strategi konsep 'Rumah Kedua' dalam jalankan bisnis. Hal ini yang dilakukan oleh Sekata Kopi yang didirkan oleh Muhammad David.
David menjelaskan, ide tersebut lahir dari hasil riset panjang yang dilakukannya sebelum membuka usaha. Saat pandemi Covid-19 melanda dan bisnis event organizer (EO) yang digelutinya terpukul, ia mulai mencari peluang usaha baru yang lebih menjanjikan.
Sebelum memutuskan terjun ke industri kopi, David melakukan riset ke 15 coffee shop di Jakarta dan lima coffee shop di Medan. Tujuannya sederhana, membangun bisnis yang efisien namun memiliki konsep yang kuat.
"Saya duduk di seafood pinggir jalan melihat karyawannya 6 orang. Tapi omzetnya sama dengan kita yang modalnya miliaran rupiah ini. Dari situ saya melihat, membangun bisnis F&B itu tidak perlu uang yang gede-gede, sih. Tapi yang paling penting adalah riset dan konsep yang pas," ujar David seperti dikutip, Minggu (21/6/2026).

Berbekal riset tersebut, ia kemudian membangun Sekata Kopi dengan modal di bawah Rp150 juta. Alih-alih bersaing lewat harga atau menu yang rumit, David fokus menciptakan pengalaman emosional bagi pelanggan.
Menurutnya, coffee shop saat ini tidak lagi sekadar tempat membeli kopi, tetapi juga ruang untuk bekerja, bertemu teman, hingga mencari kenyamanan.
"Bagaimana caranya kita buat yang feel like home. Mulai dari barista yang menyambut konsumen layaknya kawan. Jadi ketika jalan ke sini kayak, oke, saya balik ke rumah. Kalau saya enggak di rumah, ya saya punya rumah kedua yaitu Sekata Kopi. Kita tidak hanya menjual kopi, tapi seperti hashtag kita sebagai rumah kedua," tutur David.
Strategi tersebut dianggap terbukti efektif. Di tengah maraknya kedai kopi, Sekata Kopi berhasil membangun basis pelanggan loyal yang datang bukan hanya untuk menikmati kopi, tetapi juga untuk berinteraksi dan membangun komunitas.
David bahkan mengaku tidak lagi melihat coffee shop lain sebagai pesaing langsung. Baginya, setiap pelaku usaha F&B memiliki pasar dan keunikan masing-masing.
Konsep 'Rumah Kedua' juga membuat Sekata Kopi berkembang menjadi ruang berkumpul berbagai komunitas. Mulai dari komunitas olahraga hingga kelompok-kelompok kreatif rutin menjadikan tempat tersebut sebagai lokasi kegiatan mereka.
Selain mengandalkan suasana yang nyaman, Sekata Kopi juga berupaya menangkap perubahan perilaku konsumen melalui berbagai inovasi. Salah satunya dengan menyediakan area khusus bagi pengguna produk tembakau alternatif seperti vape dan produk tembakau yang dipanaskan.
Menurut David, langkah tersebut diambil setelah melihat semakin banyak pelanggan yang beralih menggunakan produk tembakau alternatif dibanding rokok konvensional.
"Produk tembakau alternatif tidak seperti rokok, enggak membuat bau dan menimbulkan asap. Jadi, pas buat coffee shop-nya kita sehingga pengunjung lain tidak akan terganggu," ujar David.
"Yang paling penting adalah ketika punya ide, yang paling penting adalah buat business plan. Bisnis apa pun, sekecil apa pun, business plan itu harus dibuat. Dan enggak ada yang enggak mungkin," pungkas David.