- Indeks Harga Saham Gabungan turun 77 poin atau 1,25 persen ke level 6.099 pada sesi pertama, Senin, 22 Juni 2026.
- Pelemahan IHSG dipicu ketidakpastian kesepakatan damai di Timur Tengah serta kekhawatiran investor terhadap stabilitas pasokan energi global saat ini.
- Pelaku pasar domestik sedang menantikan pengumuman hasil evaluasi klasifikasi pasar modal Indonesia oleh MSCI pada tanggal 23 Juni 2026.
Suara.com - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berakhir memerah pada sesi pertama, Senin, 22 Juni 2026. IHSG turun 77 poin atau 1,25 persen ke level 6.099.
Mengutip riset Pilarmas Investindo Sekuritas, pelemahan IHSG juga sejalan dengan pergerakan mayoritas bursa saham Asia yang berada di bawah tekanan.
Adapun, sentimen utama yang membebani pasar berasal dari meningkatnya keraguan pelaku pasar terhadap peluang tercapainya kesepakatan damai di Timur Tengah.
![Pekerja berjalan di dekat layar digital pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Kamis (21/5/2026). [ANTARA FOTO/Dhemas Reviyanto/wsj]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2026/05/21/50964-ihsg-indeks-harga-saham-gabungan-saham.jpg)
Sebelumnya, Amerika Serikat (AS) dan Iran dilaporkan menyetujui peta jalan selama 60 hari menuju kesepakatan perdamaian final, termasuk penghentian permusuhan di Lebanon.
Namun optimisme tersebut memudar setelah Iran dilaporkan menangguhkan pembicaraan menyusul ancaman aksi militer baru dari Presiden AS Donald Trump.
Pasar juga mencermati ancaman Trump untuk kembali melakukan serangan jika Hizbullah terus melancarkan serangan ke Israel. Di sisi lain, Iran mengumumkan kembali penutupan Selat Hormuz yang meningkatkan kekhawatiran investor terhadap stabilitas kawasan dan pasokan energi global.
"Alhasil pasar memiliki pandangan bahwa di tengah situasi dan kondisi saat ini, pelaku pasar dan investor semakin cemas bahwa kesepakatan tidak akan tercapai dalam waktu yang berdekatan," tulis Pilarmas dalam risetnya, Senin (22/6/2026).
Dari dalam negeri, pergerakan IHSG juga masih dibayangi penantian hasil evaluasi MSCI yang dijadwalkan diumumkan pada 23 Juni 2026. Keputusan tersebut dinilai penting karena akan menentukan klasifikasi pasar modal Indonesia di mata investor global.
"Pelaku pasar tampaknya fokus perhatian penantian hasil dari MSCI yang akan mengumumkan keputusan final klasifikasi pasar modal Indonesia pada 23 Juni 2026," tulis Phintraco Sekuritas.
Di tengah tekanan pasar, sejumlah saham masih mampu mencatatkan penguatan signifikan. Saham EMDE, ZONE, HDFA, DOUM, dan MLPT menjadi top gainers pada sesi pertama perdagangan.
Sebaliknya, saham GMTD, BINA, SMMT, MMIX, dan BTEK menjadi saham dengan pelemahan terbesar atau top losers hingga jeda siang.
Data Perdagangan IHSG Sesi I
- IHSG: 6.099
- Perubahan: turun 77 poin
- Persentase: minus 1,25 persen
- Volume: 12,42 Miliar saham
- Value: Rp7,61 triliun
- Frekuensi: 1,08 juta kali
- Saham Naik: 206
- Saham Turun: 501
- Saham Stagnan: 252
Top Gainers
- EMDE
- ZONE
- HDFA
- DOUM
- MLPT
Top Losers
- GMTD
- BINA
- SMMT
- MMIX
- BTEK
Untuk perdagangan selanjutnya, Pilarmas Sekuritas merekomendasikan saham PT Adaro Minerals Indonesia Tbk (ADMR) dengan rating buy.
Pilarmas menetapkan area support dan resistance ADMR pada level 1.495 hingga 1.685.
Disclaimer: Artikel ini merupakan pandangan dan analisis pasar yang ditujukan sebagai informasi umum, bukan saran atau rekomendasi investasi. Keputusan investasi tetap berada di tangan pembaca, dan setiap risiko investasi menjadi tanggung jawab pribadi.