Market Data
Emas
Indeks Saham
Kurs Rupiah
Jual Rp2.610.000
Beli Rp2.480.000
IHSG 5.820,790
LQ45 573,007
Srikehati 285,023
JII 338,419
USD/IDR 17.957

CELIOS Ingatkan Risiko Fiskal dan Kerugian Negara di Balik Intervensi Harga LNG Industri

Dythia Novianty, Yaumal Asri Adi Hutasuhut

Selasa, 30 Juni 2026 | 11:18 WIB
CELIOS Ingatkan Risiko Fiskal dan Kerugian Negara di Balik Intervensi Harga LNG Industri
Ilustrasi kilang LNG.[st]
baca 10 detik
  • Pemerintah menetapkan harga LNG industri sebesar 13 dolar AS per MMBTU efektif mulai tanggal 29 Juni 2026.
  • Direktur CELIOS memperingatkan potensi kerugian negara serta pelebaran defisit anggaran akibat kebijakan intervensi harga gas tersebut.
  • Pemerintah berupaya menekan harga melalui efisiensi biaya menyeluruh dari sektor hulu hingga distribusi gas di hilir.

Suara.com - Kebijakan pemerintah memangkas harga LNG industri menjadi 13 dolar AS per MMBTU dari sebelumnya yang sempat menyentuh 23 dolar AS per MMBTU menuai kritikan.

Direktur Center of Economic and Law Studies (CELIOS), Bhima Yudhistira, mengingatkan adanya potensi risiko fiskal yang besar di balik keputusan tersebut.

Bhima menjelaskan bahwa intervensi harga gas domestik di bawah harga pasar internasional saat ini berisiko mengurangi potensi pendapatan negara. Jika tidak dihitung dengan cermat, pemotongan ini bahkan bisa memicu kerugian negara.

"Ini masalah gas industri tidak selesai dari dulu. Padahal di gas industri ini ada pendapatan pemerintah yang akhirnya berpotensi loss atau hilang. Itu hati-hati bisa masuk frasa kerugian negara karena gas secara internasional sedang melonjak," kata Bhima saat dihubungi Suara.com yang dikutip pada Selasa (30/6/2026).

Menurut Bhima, jika pemerintah terus menjual gas dengan harga murah di tengah fluktuasi global, beban tersebut pada akhirnya akan diserap (absorb) oleh APBN.

Hal ini dikhawatirkan dapat memperlebar defisit anggaran dan menciptakan efek spiral yang memicu penambahan utang baru pemerintah.

Bhima menyoroti dua persoalan mendasar yang belum diselesaikan pemerintah dalam tata kelola gas nasional. Pertama, tingginya harga gas di tingkat hilir disebabkan oleh terlalu banyaknya jumlah trader dalam rantai pasok gas bumi.

Pemerintah didorong untuk bersikap tegas dalam memangkas rantai distribusi yang panjang tersebut.

"Sehingga harga di ujung hilir dinikmati oleh industri tetap mahal. seharusnya pemerintah itu terus berupaya untuk memangkas rantai pasok gas," kata Bhima.

baca juga

Kedua, ketergantungan pada gas bumi harus mulai dikurangi karena komoditas fosil ini sangat rentan terhadap sentimen geopolitik, seperti ketegangan yang tengah berlangsung di Timur Tengah. Intervensi harga yang dilakukan saat ini dinilai sebagai bentuk semi-subsidi yang tidak berkelanjutan bagi kas negara.

"Karena selama fluktuasi gas masih terjadi, dan pemerintah melalukan semi subsidi sebenarnya kepada industri, maka selama itu pula bebannya akan sangat besar, beban industri maupun beban pemerintah," ujarnya.

Sebagai solusi jangka panjang, CELIOS mendesak pemerintah untuk mempercepat transisi ke energi terbarukan yang lebih stabil, seperti integrasi panel surya dengan Battery Energy Storage System (BESS).

"Sumber gas harus diganti energi terbarukan agar lebih stabil dan tidak mengikuti fluktuasi harga internasional. Jika tidak, kas pemerintah akan terus boncos," ucapnya.

Sementara itu, Menteri ESDM, Bahlil Lahadalia, menjelaskan intervensi harga LNG industri dilakukan dengan efisiensi menyeluruh melalui pemangkasan biaya dari hulu hingga hilir.

"Semuanya kena. Jadi bagian pemerintah, dari hulunya, itu kan bagian pemerintah. Jadi baik dari KKKS-nya, pemerintahnya, (kena pemotongan). Kemudian di hilirnya juga, kita minta mereka untuk turunkan cost. Pertamina juga kita minta turunkan. Jadi maupun dari PGN-nya juga kena pemotongan," kata Bahlil.

Melalui intervensi tersebut, harga LNG industri dipangkas menjadi 13 dolar AS per MMBTU dan mulai efektif berlaku mulai 29 Juni 2026.

Kilang LNG di Teluk Bintuni, Papua Barat. ANTARA/HO-BP Tangguh
Ilustrasi Kilang LNG. [ANTARA/HO-BP Tangguh]

"Mulai saya ngomong ini (Senin 29 Juni)," kata Bahlil.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Pakar Sorot Masalah RAPBN 2027: Anggaran K/L Tercekik Demi Program Prioritas

Pakar Sorot Masalah RAPBN 2027: Anggaran K/L Tercekik Demi Program Prioritas

Bisnis | Minggu, 21 Juni 2026 | 14:05 WIB

Kebun Sawit PTPN Dijarah, Negara Rugi Rp62,6 Miliar

Kebun Sawit PTPN Dijarah, Negara Rugi Rp62,6 Miliar

Bisnis | Minggu, 21 Juni 2026 | 13:53 WIB

Purbaya Akui China Sempat Khawatir soal Kondisi Fiskal RI

Purbaya Akui China Sempat Khawatir soal Kondisi Fiskal RI

Bisnis | Kamis, 18 Juni 2026 | 19:21 WIB

Pemerintah Diminta Perkuat Fiskal dan Transformasi Sektor Riil

Pemerintah Diminta Perkuat Fiskal dan Transformasi Sektor Riil

Bisnis | Kamis, 18 Juni 2026 | 16:07 WIB

Isu Menkeu Purbaya Digoyang Mencuat, Fuad Bawazier: Ada Perlawanan terhadap Arah Ekonomi Prabowo

Isu Menkeu Purbaya Digoyang Mencuat, Fuad Bawazier: Ada Perlawanan terhadap Arah Ekonomi Prabowo

Bisnis | Kamis, 11 Juni 2026 | 17:28 WIB

Efek Harga BBM Naik: Kelas Menengah Jadi Korban, Konsumsi Petralite Makin Tinggi

Efek Harga BBM Naik: Kelas Menengah Jadi Korban, Konsumsi Petralite Makin Tinggi

Bisnis | Rabu, 10 Juni 2026 | 17:54 WIB

Terkini

Kemenperin Siapkan Dewan Kawasan Industri Nasional, Presiden Bakal Pimpin Langsung

Kemenperin Siapkan Dewan Kawasan Industri Nasional, Presiden Bakal Pimpin Langsung

Bisnis | Selasa, 30 Juni 2026 | 10:03 WIB

Rupiah Kembali Loyo Lawan Dolar AS Lemas ke Level Rp17.888

Rupiah Kembali Loyo Lawan Dolar AS Lemas ke Level Rp17.888

Bisnis | Selasa, 30 Juni 2026 | 09:50 WIB

Kesempatan untuk Beli, Harga Emas Antam Turun Lagi Jadi Rp2,63 Juta/Gram

Kesempatan untuk Beli, Harga Emas Antam Turun Lagi Jadi Rp2,63 Juta/Gram

Bisnis | Selasa, 30 Juni 2026 | 09:30 WIB

Pasar Antisipasi Perundingan AS - Iran di Doha, Harga Minyak Dunia Melemah

Pasar Antisipasi Perundingan AS - Iran di Doha, Harga Minyak Dunia Melemah

Bisnis | Selasa, 30 Juni 2026 | 09:20 WIB

IHSG Dibuka Makin Tenggelam ke Level 5.801, BBCA Kembali Dijual Asing

IHSG Dibuka Makin Tenggelam ke Level 5.801, BBCA Kembali Dijual Asing

Bisnis | Selasa, 30 Juni 2026 | 09:19 WIB

Daftar Calon IPO BEI 2026 Bertambah, Ada 8 Emiten Siap Melantai di Bursa Saham, Ini Bocorannya

Daftar Calon IPO BEI 2026 Bertambah, Ada 8 Emiten Siap Melantai di Bursa Saham, Ini Bocorannya

Bisnis | Selasa, 30 Juni 2026 | 09:12 WIB

Jurnalis Kawakan Karni Ilyas Duduki Komisaris Emiten Tambang DEWA, Ini Profilnya

Jurnalis Kawakan Karni Ilyas Duduki Komisaris Emiten Tambang DEWA, Ini Profilnya

Bisnis | Selasa, 30 Juni 2026 | 08:56 WIB

AHY Bidik Industri Kendaraan Listrik Nasional, Targetkan Brand EV Buatan Indonesia

AHY Bidik Industri Kendaraan Listrik Nasional, Targetkan Brand EV Buatan Indonesia

Bisnis | Selasa, 30 Juni 2026 | 08:55 WIB

Paraguay Cuan Ratusan Miliar Usai Kalahkan Jerman di Laga Kontroversial

Paraguay Cuan Ratusan Miliar Usai Kalahkan Jerman di Laga Kontroversial

Bisnis | Selasa, 30 Juni 2026 | 08:37 WIB

Tak Mau Investasi Hilirisasi Bernilai Jumbo Gagal, BP BUMN Gandeng KPK

Tak Mau Investasi Hilirisasi Bernilai Jumbo Gagal, BP BUMN Gandeng KPK

Bisnis | Selasa, 30 Juni 2026 | 08:32 WIB

×