- Harga minyak mentah dunia menguat tipis pada 7 Juli 2026 akibat meredanya ketegangan geopolitik di Timur Tengah.
- Produksi minyak UEA melonjak hingga mencapai level tertinggi sejak April 2020 pasca keluar dari kuota OPEC+.
- Pasar kini memantau proyeksi permintaan global serta langkah Arab Saudi yang memangkas harga jual resmi minyaknya.
Suara.com - Harga minyak mentah dunia merangkak naik pada awal perdagangan Selasa 7 Juli 2026. Meski demikian, penguatan ini cenderung terbatas karena para pelaku pasar mulai mengalihkan fokus mereka, dari meredanya ketegangan geopolitik di Timur Tengah ke proyeksi lonjakan pasokan serta prospek permintaan global.
Mengutip dari Reuters, harga minyak mentah Brent menguat 28 sen atau 0,39 persen ke level 72,29 dolar AS per barel. Sementara minyak mentah West Texas Intermediate (WTI)*l naik 29 sen atau 0,26 persen menjadi 68,84 dolar AS per barel.
Pergerakan ini terjadi setelah harga minyak sempat anjlok pada hari Senin, kembali ke level sebelum konflik dengan Iran pecah.
Pemulihan jalur pasokan dinilai berhasil meredam premi risiko instan di pasar. Namun, para analis mengingatkan agar pasar tidak terlalu terlena dengan stabilitas gencatan senjata saat ini.
"Hubungan antara AS dan Iran yang kerap pasang-surut membuat pasar tetap waspada dan tidak sepenuhnya percaya pada stabilitas yang ada saat ini," ujar Tim Waterer, Kepala Analis Pasar di KCM Trade.
Sentimen ini diperkuat oleh pernyataan Presiden AS, Donald Trump, pada hari Senin. Trump menegaskan bahwa Amerika Serikat hanya memiliki dua opsi, yakni mencapai kesepakatan baru dengan Iran atau "menyelesaikan tugas" mereka melalui tindakan militer.
Ancaman ini kembali mencuat seiring sikap defensif yang ditunjukkan Teheran pasca-pemakaman mantan Pemimpin Agung Ayatollah Ali Khamenei.
Saat ini, investor terus memantau dengan ketat jalannya negosiasi antara AS dan Iran terkait keamanan jalur pelayaran di Selat Hormuz, sembari mengawasi pemulihan ekspor minyak di kawasan Teluk.
Di sisi pasokan, produksi minyak mentah Uni Emirat Arab (UEA) dilaporkan melonjak di atas 3,8 juta barel per hari (bpd) pada bulan Juni.
Berdasarkan estimasi Reuters, angka ini merupakan yang tertinggi sejak April 2020 sekaligus melampaui level produksi sebelum perang Iran. Lonjakan ini terjadi setelah UEA memutuskan keluar dari kuota produksi OPEC+ pada Mei lalu.
Selain itu, aliansi OPEC+ (termasuk Rusia) baru saja menyepakati tambahan target produksi sebesar 188.000 bpd yang akan dimulai pada Agustus mendatang.
Langkah ini melanjutkan tren peningkatan serupa yang sudah berjalan pada bulan Juni dan Juli.
Langkah agresif juga diambil oleh Arab Saudi. Melalui pernyataan resmi Saudi Aramco pada hari Senin, mereka memangkas Harga Jual Resmi (OSP) untuk minyak mentah andalannya, Arab Light, ke pasar Asia sebesar 11 dolar AS dari bulan sebelumnya.
Harga tersebut kini berada di posisi 1,50 dolar AS per barel di bawah rata-rata Oman/Dubai, yang menandai penurunan harga bulanan tertajam dalam lebih dari dua dekade terakhir.
Dengan melimpahnya sentimen dari sisi hulu, arah pergerakan harga minyak selanjutnya akan sangat bergantung pada seberapa kuat pasar mampu menyerap pasokan tersebut.
![Ilustrasi harga minyak. [Freepik]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2026/01/16/23011-ilustrasi-harga-minyak.jpg)
"Kami akan mencermati tanda-tanda awal respons permintaan, khususnya dari China. Sebagian besar kabar positif dari sisi pasokan sudah diantisipasi oleh pasa, sehingga pergerakan harga minyak berikutnya akan ditentukan oleh apakah realitas fisik di lapangan mampu mengimbangi sentimen optimis yang beredar," pungkas Waterer.