- IMF memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia stabil di level lima persen hingga tahun 2026 sebelum meningkat pada 2027.
- Pertumbuhan ekonomi dunia melambat menjadi tiga persen akibat konflik Timur Tengah yang menghambat rantai pasok global.
- Adopsi teknologi kecerdasan buatan menjadi faktor pendukung utama yang meredam dampak negatif guncangan ekonomi di sektor riil.
Suara.com - Lembaga Dana Moneter Internasional (International Monetary Fund/IMF) memperkirakan performa perekonomian domestik Indonesia akan berada di level 5 persen hingga penghujung tahun 2026.
Target pertumbuhan ini tercatat sedikit lebih melambat apabila disandingkan dengan realisasi capaian pertumbuhan ekonomi pada tahun sebelumnya yang mampu menyentuh angka 5,11 persen.
Melalui dokumen laporan World Economic Outlook Update yang dipublikasikan pekan lalu, institusi multilateral yang menaungi 191 negara anggota ini menegaskan bahwa estimasi tersebut tidak mengalami perubahan. Angka ini masih berjalan linier dengan kalkulasi awal yang dirilis oleh IMF pada awal tahun.
Kendati pertumbuhan tahun ini diperkirakan mendatar, IMF melihat adanya potensi pemulihan jangka pendek. Untuk periode tahun 2027, lembaga keuangan global tersebut memproyeksikan laju perekonomian Indonesia berpeluang merangkak naik ke posisi 5,1 persen.
Dalam pembaruan data globalnya, IMF memotong estimasi pertumbuhan ekonomi dunia secara keseluruhan menjadi 3 persen untuk tahun 2026 dan mematok target 3,4 persen pada tahun 2027.
Angka-angka tersebut berada di bawah rata-rata performa ekonomi global periode 2024–2025 yang sempat menembus level 3,5 persen.
Tim ekonom IMF memaparkan bahwa tren penurunan laju pertumbuhan global ini merupakan konsekuensi langsung dari meluasnya dampak negatif konflik bersenjata di kawasan Timur Tengah. Efek domino dari ketegangan geopolitik tersebut menghambat rantai pasok dan menekan sentimen pasar.
Meski demikian, guncangan di sektor riil tersebut berhasil diredam oleh lompatan kinerja di sektor teknologi global. Peningkatan permintaan pasar dunia ini didorong oleh akselerasi pemanfaatan serta adopsi teknologi berbasis kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) yang masif di berbagai negara.
Perbandingan Dinamika Proyeksi di Kawasan Asia Pasifik
Kondisi bertahannya estimasi ekonomi Indonesia berada dalam posisi yang berbeda jika dibandingkan dengan performa sejumlah negara tetangga di kawasan Asia Pasifik.
Beberapa negara berkembang justru harus rela proyeksi ekonominya dipangkas akibat penyesuaian kondisi pasar makro:
- India: Target pertumbuhan ekonominya dipotong sebesar 0,1 persen, sehingga menempatkan perkiraan baru di level 6,4 persen untuk tahun 2026.
- Filipina: Mengalami koreksi proyeksi yang lebih dalam, yakni terpangkas 0,2 persen menjadi berada di angka 3,9 persen.
Di sisi lain, Malaysia mencatatkan kondisi yang serupa dengan Indonesia. Otoritas moneter dunia tersebut memilih untuk tidak melakukan perubahan atau revisi terhadap angka perkiraan pertumbuhan ekonomi Malaysia, baik untuk kalender tahun 2026 maupun proyeksi jangka panjang tahun 2027.