- PT Pertamina Geothermal Energy memperoleh akses pendanaan sebesar 75 juta dolar AS dari Bank Mizuho Indonesia di Jakarta, Senin (27/7/2026).
- Dana tersebut digunakan untuk pengembangan proyek panas bumi guna mencapai target kapasitas terpasang 1 gigawatt pada tahun 2028.
- Kerja sama pembiayaan ini juga berfungsi mendukung kebutuhan operasional serta memperkuat ekosistem *green financing* perusahaan energi tersebut.
Suara.com - Emiten energi terbarukan, PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGEO) mendapatkan akses pendanaan hingga 75 juta dolar AS dari Bank Mizuho Indonesia.
Pendanaan yang diraih PGEO akan digunakan untuk pengembangan proyek panas bumi sekaligus mengejar target kapasitas terpasang yang dikelola mandiri mencapai 1 gigawatt (GW) pada 2028.
Fasilitas tersebut merupakan pinjaman dan trade facility tanpa komitmen (omnibus facility) yang mencakup Bank Garansi, Standby Letter of Credit (SBLC), Letter of Credit (L/C) Impor, Account Payable Financing (APF), serta fasilitas pinjaman berulang (revolving loan facility).
Skema ini diharapkan dapat mendukung kebutuhan operasional sekaligus mempercepat pengembangan proyek-proyek panas bumi PGE.

Direktur Keuangan PGEO Fransetya Hasudungan Hutabarat menilai kerja sama ini menjadi langkah strategis untuk memperluas akses pendanaan sekaligus meningkatkan fleksibilitas pembiayaan perusahaan dalam mendukung agenda pertumbuhan jangka panjang.
"Fasilitas ini akan mendukung kebutuhan operasional dan pengembangan proyek-proyek PGE ke depan, sekaligus menjadi fondasi kemitraan jangka panjang yang saling menguntungkan. Kami berharap kolaborasi ini dapat terus berkembang dan bersama-sama mendorong percepatan transisi energi menuju Net Zero Emission di Indonesia," ujar Fransetya di Jakarta, Senin (27/7/2026).
Kerja sama dengan Bank Mizuho Indonesia yang merupakan bagian dari salah satu grup jasa keuangan terbesar di Jepang juga memperkuat ekosistem pendanaan hijau (green financing) PGE. Sebelumnya, perusahaan telah memperoleh dukungan dari berbagai instrumen pendanaan berkelanjutan dan lembaga keuangan internasional.
Strategi tersebut menjadi bagian dari upaya PGE menjaga struktur pendanaan yang sehat dan prudent guna memastikan keberlanjutan investasi pada proyek-proyek panas bumi. Perseroan menargetkan kapasitas terpasang yang dikelola sendiri mencapai 1 GW pada 2028, sebelum meningkat menjadi 1,8 GW pada 2034.
Target tersebut diharapkan memperkuat kontribusi PGE dalam mempercepat pengembangan energi panas bumi nasional sekaligus mendukung ketahanan dan swasembada energi Indonesia menuju era transisi energi.
Direktur Marketing PT Bank Mizuho Indonesia, Heru Gautama Hatman, mengatakan pihaknya berkomitmen mendukung pengembangan energi bersih di Indonesia melalui kemitraan jangka panjang dengan PGE.
"Kami berharap kerja sama ini bukan hanya menjadi fasilitas pembiayaan semata, tetapi juga menjadi bentuk dukungan terhadap ambisi PGE untuk menjadi salah satu contoh pengembangan panas bumi, bukan hanya di Indonesia tetapi juga di dunia," ungkapnya.
Saat ini, PGE mengelola 15 Wilayah Kerja Panas Bumi dengan kapasitas terpasang mencapai 1.932 megawatt (MW). Dari jumlah tersebut, sebesar 727 MW dioperasikan langsung oleh PGE, sementara 1.205 MW dikelola melalui skema Kontrak Operasi Bersama.
Kapasitas tersebut berkontribusi sekitar 70 persen dari total kapasitas terpasang panas bumi di Indonesia, dengan potensi pengurangan emisi karbon sekitar 10 juta ton CO2 per tahun.