- Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita menyatakan bahwa perubahan rantai pasok global membuka peluang bagi Indonesia menarik investasi manufaktur di Jakarta, Kamis (30/7/2026).
- Pertumbuhan ekonomi nasional mencapai 5,61 persen pada triwulan I 2026, dengan sektor industri pengolahan mencatat pertumbuhan 5,4 persen serta berkontribusi besar terhadap PDB dan ekspor.
- Investor global membandingkan Indonesia dengan negara lain dalam waktu singkat, sehingga kawasan industri nasional perlu meningkatkan kecepatan realisasi investasi menjadi tahap produksi.
Suara.com - Menteri Perindustrian (Menperin), Agus Gumiwang Kartasasmita, mengungkapkan saat ini sedang ramai berbagai perusahaan global melakukan relokasi pabrik ke sejumlah negara.
Hal ini terjadi karena perubahan rantai pasok dunia, fragmentasi perdagangan internasional, hingga meningkatnya ketegangan geopolitik.
Agus pun menilai, kondisi tersebut membuka peluang bagi Indonesia untuk menarik lebih banyak investasi manufaktur. Menurut Agus, perusahaan global kini tengah menata ulang lokasi produksi mereka.
Di tengah perubahan tersebut, Indonesia memiliki kesempatan memperkuat posisinya sebagai salah satu basis produksi manufaktur dunia.
"Fragmentasi perdagangan internasional, disrupsi rantai pasok, dan juga ketegangan geopolitik telah mendorong perusahaan-perusahaan global untuk menata ulang peta produksi mereka. Bagi sebagian negara ini merupakan risiko. Tapi bagi Indonesia ini merupakan sebuah peluang untuk memperkuat posisi sebagai salah satu basis produksi manufaktur di dunia," kata Agus saat memberikan sambutan dalam Bisnis Forum dan Rapat Kerja Nasional (Rakernas) ke-25 Himpunan Kawasan Industri (HKI) Indonesia di Jakarta, Kamis (30/7/2026).
Meski demikian, Agus mengingatkan peluang tersebut tidak akan berlangsung selamanya. Menurutnya, perusahaan yang hendak memindahkan fasilitas produksinya akan membandingkan berbagai negara tujuan investasi dalam waktu yang relatif singkat.
![Menteri Perindustrian (Menperin), Agus Gumiwang Kartasasmita dalam Bisnis Forum dan Rapat Kerja Nasional (Rakernas) ke-25 Himpunan Kawasan Industri (HKI) Indonesia di Jakarta, Kamis (30/7/2026). [Suara.com/Fakhri]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2026/07/30/69545-menteri-perindustrian-menperin-agus-gumiwang-kartasasmita.jpg)
"Jendela peluang sedang terbuka, dan terbukanya ini tidak akan selamanya," ujarnya.
Ia mengatakan, perusahaan yang tengah merelokasi pabrik tidak hanya mempertimbangkan Indonesia sebagai tujuan investasi. Sejumlah negara lain di kawasan Asia hingga Amerika Latin juga masuk dalam daftar pertimbangan investor.
"Perusahaan yang hari ini sedang memindahkan produksinya dari satu negara ke negara lain, tidak sedang menunggu Indonesia. Mereka sedang membandingkan kita, Indonesia, dengan Vietnam. Sebut saja dengan Thailand Sebut saja dengan Malaysia. Sebut saja dengan India. Sebut saja dengan Meksiko," tuturnya.
"Dan mereka melakukan ini dalam hitungan bulan, bahkan minggu. Bukan dalam hitungan tahun," lanjutnya menambahkan.
Agus menyebut, Indonesia memiliki modal yang cukup kuat untuk bersaing menarik investasi. Pada triwulan I 2026, ekonomi nasional tumbuh 5,61 persen.
Sementara sektor industri pengolahan mencatat pertumbuhan 5,4 persen, meningkat dibanding periode sebelumnya sebesar 4,55 persen.
Selain itu, industri pengolahan menyumbang 19,7 persen terhadap produk domestik bruto (PDB), berkontribusi 36,5 persen terhadap realisasi investasi nasional, serta menopang 82,03 persen ekspor nonmigas Indonesia.
Menurut Agus, momentum relokasi industri global perlu dimanfaatkan dengan meningkatkan daya saing kawasan industri. Salah satu aspek yang menjadi perhatian investor adalah kecepatan merealisasikan investasi hingga masuk ke tahap produksi.
"Yang mereka beli bukan lagi meter persegi, yang mereka beli adalah waktu. Waktu artinya adalah berapa cepat sebuah komitmen investasi dapat berubah menjadi produksi. Dan waktu berarti seberapa kecil ketidakpastian yang mereka harus tanggung sepanjang perjalanan tersebut," pungkas Agus.