- Menteri Keuangan Purbaya memprediksi pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun 2026 mencapai 5,6 hingga 6,0 persen secara tahunan.
- Proyeksi tersebut disampaikan dalam konferensi pers KSSK di Kantor LPS pada Senin, 2 Agustus 2026.
- Pertumbuhan ekonomi ditopang oleh sinergi kebijakan pemerintah dan lembaga anggota KSSK untuk menjaga momentum pertumbuhan.
Suara.com - Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa memprediksi pertumbuhan ekonomi Indonesia sepanjang 2026 berada di kisaran 5,6 persen hingga 6,0 persen secara tahunan (year-on-year atau yoy).
Menkeu Purbaya mengatakan kalau proyeksi pertumbuhan ekonomi itu dilakukan lewat sinergi kebijakan antara lembaga anggota Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) yang terdiri dari Kementerian Keuangan (Kemenkeu), Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Bank Indonesia (BI), dan Lembaga Penjamin Simpanan (LPS).
“Dengan sinergi kebijakan tersebut, pertumbuhan ekonomi sepanjang 2026 diperkirakan berada pada kisaran 5,6%–6,0% year-on-year, ditopang berbagai sinergi kebijakan pemerintah dan lembaga anggota KSSK untuk menjaga keberlanjutan momentum pertumbuhan,” katanya dalam konferensi pers KSSK di Kantor LPS, Senin (2/8/2026).
Purbaya memaparkan, koordinasi kebijakan antara pemerintah dan Bank Indonesia terus diperkuat dalam menjaga kecukupan likuiditas perekonomian dan perbankan.
Hal ini tercermin dari pertumbuhan uang primer yang tinggi sepanjang triwulan II dan berlanjut tumbuh 15,4 persen pada Juli 2026, dengan fungsi intermediasi perbankan yang semakin baik.
Selain itu, aktivitas manufaktur sempat termoderasi pada akhir triwulan II, namun kembali melanjutkan ekspansi pada Juli 2026 dengan PMI manufaktur di level 50,2.
![(Kiri-kanan) Ketua Dewan Komisioner OJK, Friderica Widyasari Dewi, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa, Pejabat Gubernur BI sementara (PGS) Destry Damayanti, dan Ketua Dewan Komisioner LPS Anggito Abimanyu dalam konferensi pers Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) di Kantor LPS, Jakarta, Senin (3/8/2026). [Suara.com/Dicky Prastya]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2026/08/03/18261-konferensi-pers-kssk.jpg)
“Yang menunjukkan pemulihan optimisme pelaku usaha,” lanjutnya.
Purbaya yang juga Ketua KSSK menyebut kalau ekonomi RI selama triwulan kedua 2026 diperkirakan tetap tumbuh kuat di tengah tantangan ekonomi global.
Menurutnya, daya beli masyarakat tetap terjaga dalam mendukung konsumsi rumah tangga, didukung oleh peran shock absorber APBN dalam mendorong efektivitas program perlindungan sosial, stabilisasi harga pangan dan energi, penciptaan lapangan kerja, serta stimulus pada periode libur sekolah.
Selain itu, investasi diperkirakan tumbuh kuat ditopang oleh proyek-proyek hilirisasi bernilai tambah tinggi dan pembangunan infrastruktur pada program prioritas pemerintah.
Kemudian, konsumsi pemerintah diperkirakan tumbuh positif sejalan dengan percepatan belanja program prioritas, pembayaran gaji ke-13 bagi aparatur negara, dan penyaluran bantuan sosial.