- Menkeu Purbaya membandingkan pertumbuhan ekonomi era SBY sebesar enam persen dan Jokowi di bawah lima persen pada acara GIIAS 2026.
- Ia menyimpulkan ekonomi era SBY digerakkan swasta tanpa infrastruktur signifikan, sedangkan era Jokowi didominasi pembangunan infrastruktur pemerintah.
- Purbaya memastikan penggabungan kedua mesin penggerak ekonomi pemerintah dan swasta dapat mempermudah pencapaian target pertumbuhan nasional.
Suara.com - Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyinggung soal kebijakan ekonomi era mantan Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) maupun Joko Widodo (Jokowi).
Menkeu Purbaya bercerita, selama era Presiden SBY periode 2004-2014, ekonomi rata-rata tumbuh hampir 6 persen. Sedangkan pertumbuhan kredit mencapai 22 persen.
Sementara di era Jokowi periode 2014-2024, ekonomi tumbuh sedikit di bawah 5 persen atau bahkan mendekati 4,5 persen. Sedangkan pertumbuhan kredit rata-rata hanya 6 persen.
"Jadi pada 10 tahun pertama dari periode 20 tahun terakhir itu, perekonomian kita terutama ditopang oleh sektor swasta. Sementara Belanja Pemerintah, khususnya di era SBY, tidak menghasilkan pembangunan infrastruktur yang signifikan bukan?" katanya dalam acara GIIAS 2026 di ICE BSD, dikutip Rabu (5/8/2026).
Purbaya berkelakar kalau Pemerintah SBY saat itu justru hanya tertidur, namun ekonomi bisa tumbuh hingga 6 persen.
"Pada dasarnya, pemerintah saat itu, saya sering bercanda, seperti sedang tidur. Namun, ekonomi tetap mampu tumbuh sekitar 6 persen," lanjutnya.

Sebaliknya, di era Jokowi, pembangunan infrastruktur dilakukan secara masif mulai dari jalan tol dan sebagainya. Tetapi pertumbuhan ekonomi justru berada di bawah 5 persen.
Purbaya menilai kalau itu tercermin dari pertumbuhan kredit yang hanya satu digit dengan angka 7 persen, atau bahkan lebih rendah lagi.
Dari sana Purbaya menyimpulkan kalau perekonomian di zaman SBY bisa digerakkan oleh pihak swasta. Sedangkan di era Jokowi, penggerak utama ekonomi berasal dari Pemerintah, tapi swasta cenderung lesu kala itu.
"Jadi mesin ekonomi kita pincang dalam 20 tahun terakhir. Yang 10 tahun pertama, swasta saja yang kerja. 10 tahun kedua, hanya pemerintah saja yang kerja," beber dia.
Purbaya kemudian menjawab tantangan bagaimana pertumbuhan ekonomi bisa mencapai 8 persen sesuai visi Presiden RI Prabowo Subianto saat ini. Sebab angka itu dinilai mustahil.
Maka dari itu, ia bakal memastikan kedua mesin pertumbuhan ekonomi, baik dari sektor Pemerintah maupun swasta, bisa berjalan dengan baik. Dengan begini, pertumbuhan ekonomi 6 persen dinilainya tak sulit digapai.
"Jadi, angka 6,5 persen cukup mudah dicapai jika saya berhasil memastikan kedua mesin pertumbuhan tersebut bergerak secara bersamaan. Saat ini, saya sedang memastikan hal itu terlaksana. Jadi jangan bilang Purbaya tukang tipu pak, purbaya pintar sedikit," tegas dia.