- Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyatakan ekonomi Indonesia tumbuh 5,29 persen pada triwulan II 2026.
- Pertumbuhan ekonomi nasional tersebut didorong oleh peningkatan konsumsi rumah tangga, investasi kuat, serta belanja pemerintah yang ekspansif.
- Perbaikan pasar kerja dan penurunan tingkat kemiskinan turut menyertai pencapaian positif pertumbuhan ekonomi Indonesia tersebut.
Suara.com - Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengungkapkan pertumbuhan ekonomi Indonesia 5,29 persen di triwulan II 2026 masih lebih tinggi ketimbang triwulan II 2025 sebelumnya dengan angka 5,12 persen yoy.
Menkeu Purbaya mengatakan, pertumbuhan tersebut didorong oleh investasi kuat, konsumsi rumah tangga meningkat, serta berbagai kebijakan pemerintah dalam menjaga daya beli masyarakat dan mendorong aktivitas ekonomi.
Menurutnya, Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) terus berperan sebagai instrumen fiskal yang responsif untuk menjaga stabilitas ekonomi, meredam dampak tekanan eksternal, serta mendukung dunia usaha dan pelaksanaan program prioritas nasional.
“Di tengah tantangan global yang masih tinggi, Pemerintah akan terus memperkuat mesin-mesin pertumbuhan ekonomi melalui sinergi kebijakan dan reformasi struktural guna menjaga momentum pertumbuhan yang lebih tinggi,” katanya dalam siaran pers, dikutip Senin (10/8/2026).
Konsumsi rumah tangga
Ia memaparkan, konsumsi rumah tangga tumbuh positif sebesar 5,06 persen (yoy) pada triwulan II 2026 dan tetap menjadi penopang utama pertumbuhan ekonomi.
Kinerja tersebut didukung oleh tetap terjaganya daya beli masyarakat melalui berbagai kebijakan pemerintah antara lain penyaluran gaji ke-13, program perlindungan sosial (Perlinsos), pemberian subsidi, serta inflasi yang tetap terkendali.
Ketahanan konsumsi domestik juga tercermin dari terjaganya tingkat keyakinan konsumen, meningkatnya aktivitas belanja yang tercermin pada Mandiri Spending Index, serta meningkatnya penjualan listrik, penjualan kendaraan bermotor, dan konsumsi bahan bakar minyak (BBM).
Di samping itu, program prioritas pemerintah mendorong penciptaan lapangan kerja yang turut memperkuat daya beli masyarakat, menopang permintaan domestik, dan menjaga momentum pertumbuhan ekonomi.
Konsumsi pemerintah
Purbaya menunjukkan, konsumsi pemerintah tumbuh kuat sebesar 15,97 persen (yoy) pada triwulan II 2026 yang mencerminkan belanja negara tetap ekspansif dalam menopang agenda pembangunan dan menjaga stabilitas perekonomian.
Kinerja tersebut didukung oleh percepatan realisasi Belanja Barang dan Belanja Pegawai yang masing-masing tumbuh 92,2 persen dan 18,6 persen, seiring dengan akselerasi pelaksanaan berbagai program prioritas Pemerintah, termasuk Makan Bergizi Gratis (MBG), Desa Nelayan, dan Sekolah Rakyat.
Percepatan belanja tersebut diharapkan menghasilkan multiplier effect yang kuat melalui peningkatan aktivitas dunia usaha, penguatan konsumsi rumah tangga, serta penciptaan lapangan kerja.
Investasi
Selain itu, pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) tumbuh kuat hingga 6,87 persen (yoy), ditopang oleh belanja modal pemerintah dan investasi swasta. Pertumbuhan tersebut didorong oleh menguatnya investasi bangunan sebesar 6,6 persen (yoy) seiring meningkatnya aktivitas konstruksi jalan, irigasi, dan jaringan.
Aktivitas tersebut turut didukung oleh belanja modal pemerintah yang tumbuh 5,6 persen sejalan dengan percepatan pelaksanaan berbagai program prioritas, MBG, gerai Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih atau Kopdes Merah Putih (KD/KMP), Desa Nelayan, Sekolah Garuda Baru, dan Sekolah Rakyat, yang didukung oleh peningkatan belanja modal pemerintah dan BUMN.
Sementara itu, investasi nonbangunan menguat tercermin dari investasi kendaraan dan peralatan lainnya yang masing-masing tumbuh 26,0 persen dan 16,2 persen.
Sejalan dengan perkembangan tersebut, realisasi investasi langsung tumbuh 7,1 persen terutama ditopang oleh Penanaman Modal Asing (PMA) yang meningkat 25,7 persen.