- Rupiah ditutup Rp17.723, mendekati asumsi kurs RAPBN 2027 Rp17.500.
- Fitch memproyeksikan ekonomi RI 2027 hanya tumbuh sekitar 5%.
- Dolar menguat di tengah tekanan AS terhadap Iran dan risiko geopolitik.
Suara.com - Rupiah kembali mendapat tekanan pada perdagangan Selasa (25/8/2026). Mata uang Garuda ditutup melemah tipis 2 poin ke level Rp17.723 per dolar AS, setelah sebelumnya sempat tertekan hingga Rp17.723 dari posisi penutupan hari sebelumnya Rp17.721.
Pergerakan tersebut menjadi perhatian karena level rupiah saat ini semakin mendekati asumsi nilai tukar yang digunakan pemerintah dalam Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) 2027, yakni Rp17.500 per dolar AS.
Dengan demikian, tantangan rupiah tidak hanya datang dari penguatan dolar AS dan perkembangan geopolitik global. Pasar juga mulai menguji seberapa realistis asumsi makro yang digunakan pemerintah untuk menopang rancangan fiskal tahun depan.
Direktur PT Traze Andalan Futures sekaligus Pengamat Ekonomi, Mata Uang dan Komoditas Ibrahim Assuaibi memperkirakan rupiah pada perdagangan Rabu (26/8/2026) masih bergerak fluktuatif dengan kecenderungan melemah.
“Untuk perdagangan besok, mata uang rupiah fluktuatif namun ditutup melemah di rentang Rp17.730-Rp17.750,” ujar Ibrahim.
Dari eksternal, penguatan indeks dolar AS terjadi ketika pasar mencermati langkah terbaru Washington dalam memberikan tekanan ekonomi terhadap Iran.
Menteri Keuangan AS Scott Bessent pada Senin mengumumkan perluasan sanksi yang ditujukan untuk memutus jalur ekonomi Iran. Washington bahkan memperingatkan negara maupun pelaku usaha yang tetap menjalin hubungan bisnis dengan Teheran dapat menghadapi risiko dikeluarkan dari sistem keuangan berbasis dolar.
Langkah tersebut menunjukkan bahwa konflik Iran tidak hanya berlangsung di medan geopolitik, tetapi mulai semakin kuat menjalar ke sektor keuangan global.
Pasar juga masih menghadapi risiko dari jalur perdagangan minyak di Timur Tengah. Sebuah kapal tanker minyak dilaporkan mengalami kerusakan setelah dihantam proyektil tak dikenal di sekitar perairan Oman pada Selasa.
Namun, respons pasar minyak sejauh ini relatif terkendali. Reuters melaporkan harga minyak justru turun karena investor menilai tekanan ekonomi terhadap Iran memiliki risiko lebih kecil terhadap pasokan minyak dibandingkan eskalasi militer langsung.
Kondisi tersebut menjadi sedikit kabar baik bagi negara-negara importir minyak. Akan tetapi, risiko gangguan pelayaran di kawasan tetap menjadi sumber premi risiko bagi harga energi dan pada akhirnya dapat memengaruhi inflasi serta nilai tukar negara berkembang.
Di dalam negeri, perhatian pasar justru mengarah pada RAPBN 2027.
Pemerintah menetapkan asumsi pertumbuhan ekonomi sebesar 6% dan nilai tukar Rp17.500 per dolar AS. Pada saat yang sama, target defisit anggaran ditetapkan 2,4% terhadap PDB.
Fitch Ratings menilai pertumbuhan ekonomi sekitar 6% pada 2027 lebih realistis dibandingkan ambisi pemerintah untuk mendorong pertumbuhan hingga 8% dalam jangka menengah. Namun, proyeksi Fitch sendiri masih berada di sekitar 5%.
Lembaga pemeringkat tersebut juga melihat sejumlah risiko yang dapat mengganggu prospek ekonomi Indonesia, mulai dari ketidakpastian geopolitik, kenaikan kembali harga minyak dunia hingga perlambatan ekonomi negara-negara mitra dagang utama.
Yang menjadi persoalan bagi rupiah adalah ruang fiskal pemerintah.
Fitch menilai konsolidasi fiskal dapat lebih sulit dipertahankan apabila tekanan belanja meningkat. Pengalaman penyusunan anggaran sebelumnya juga menunjukkan target defisit yang awalnya lebih rendah dapat mengalami revisi ketika pemerintah membutuhkan tambahan belanja.
Target defisit 2,4% pada 2027 memang masih berada di bawah batas legal 3%. Namun, apabila tekanan ekonomi meningkat dan pemerintah harus memperbesar belanja, ruang fiskal tersebut berpotensi kembali tertekan.
Situasi ini membuat pergerakan rupiah menjadi lebih kompleks.
Di satu sisi, dolar AS mendapatkan dukungan dari ketidakpastian geopolitik dan kebijakan Washington terhadap Iran. Di sisi lain, Indonesia harus mempertahankan kredibilitas fiskal ketika menggunakan asumsi kurs Rp17.500 dalam RAPBN 2027.
Dengan posisi rupiah yang sudah berada di Rp17.723, pasar kini secara tidak langsung sedang menguji asumsi tersebut.
Jika rupiah terus bergerak melemah dan bertahan di atas Rp17.500 per dolar AS, maka pemerintah menghadapi tantangan untuk menjaga asumsi makro RAPBN tetap kredibel. Sebaliknya, apabila tekanan eksternal mereda dan dolar AS melemah, ruang bagi rupiah untuk kembali mendekati asumsi pemerintah akan semakin terbuka.
Karena itu, perhatian pasar tidak hanya tertuju pada keputusan bank sentral Amerika Serikat. Data inflasi AS dan pidato pejabat The Fed di Jackson Hole juga akan menjadi penentu arah ekspektasi suku bunga.
Inflasi AS yang lebih rendah dapat memperkuat harapan terhadap kebijakan The Fed yang lebih longgar dan berpotensi mengurangi tekanan terhadap mata uang negara berkembang.
"Bagi Indonesia, persoalannya kini adalah apakah rupiah mampu kembali mendekati Rp17.500 atau justru semakin menjauh dari angka yang menjadi salah satu fondasi RAPBN 2027," pungkas Ibrahim.