- PT Bank Tabungan Negara Tbk mengubah model bisnis menjadi ekosistem keuangan perumahan pada Agustus 2026 di Jakarta.
- BTN mengakuisisi portofolio kredit pensiun senilai hampir Rp20 triliun serta mengembangkan aplikasi digital Bale by BTN.
- Transformasi tersebut menghasilkan pertumbuhan laba bersih konsolidasi sebesar 40,8 persen menjadi Rp2,40 triliun pada semester I 2026.
Suara.com - PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BBTN) atau BTN mulai memperluas model bisnisnya dari yang selama ini identik sebagai bank pembiayaan perumahan atau mortgage bank menjadi bank berbasis housing financial ecosystem.
Transformasi tersebut dilakukan dengan membangun ekosistem yang tidak hanya berfokus pada kebutuhan nasabah ketika membeli rumah, tetapi juga mengikuti perjalanan finansial nasabah hingga kebutuhan keuangan lainnya.
Chairman Infobank Institute, Eko B. Supriyanto, menilai transformasi BTN mulai menunjukkan hasil, baik dari sisi ekspansi bisnis maupun kinerja perusahaan.
"BTN tidak meninggalkan bisnis perumahan. Justru bisnis perumahan diperluas menjadi ekosistem. Bank tidak lagi hanya melihat nasabah sebagai debitur, tetapi sebagai bagian dari perjalanan hidup," ujarnya di Jakarta, Minggu (30/8/2026).

Menurut Eko, perubahan model bisnis tersebut menjadi salah satu bagian dari transformasi BTN. Perseroan tidak hanya mengandalkan pembiayaan Kredit Pemilikan Rumah (KPR), tetapi mulai memperluas layanan untuk memenuhi kebutuhan finansial nasabah pada berbagai tahap kehidupan.
Salah satu langkahnya dilakukan melalui ekspansi ke segmen di luar bisnis mortgage. BTN mengakuisisi portofolio kredit pensiun dari SMBC Indonesia dengan nilai hampir Rp20 triliun.
Langkah tersebut dinilai memperkuat kemampuan BTN dalam melayani kebutuhan finansial nasabah hingga memasuki masa pensiun.
Transformasi BTN juga ditopang oleh digitalisasi melalui Bale by BTN. Superapps tersebut kini memiliki sekitar 4,5 juta pengguna, dengan dukungan 358 ribu merchant dan 14 ribu developer.
Platform tersebut juga telah terintegrasi dengan 59 pemerintah daerah. Adapun volume transaksinya mencapai 2,63 miliar transaksi dengan nilai mencapai Rp134 triliun.
Di tengah ekspansi tersebut, BTN tetap mempertahankan bisnis perumahan sebagai bagian utama dari ekosistem yang dibangun.
Pada semester I 2026, kredit perumahan subsidi BTN tercatat tumbuh 8,1 persen menjadi Rp196,96 triliun. Sementara itu, Kredit Program Perumahan telah mencapai Rp4,1 triliun.
Eko menilai perluasan bisnis tersebut menunjukkan BTN mulai bergerak melampaui fungsi tradisionalnya sebagai bank KPR.
Transformasi juga tercermin dari kinerja keuangan perseroan. Pada semester I 2026, laba bersih konsolidasi BTN mencapai Rp2,40 triliun, tumbuh 40,8 persen secara tahunan.
Pada periode yang sama, aset BTN mencapai Rp545 triliun, kredit dan pembiayaan Rp418 triliun, sedangkan dana pihak ketiga (DPK) mencapai Rp433 triliun.
Kualitas kredit juga mengalami perbaikan. Rasio kredit bermasalah atau non-performing loan (NPL) turun menjadi 2,99 persen dari sebelumnya 3,3 persen. Sementara cost of credit turun dari 2,0 persen menjadi 0,7 persen.
"Kalau melihat perjalanannya, arahnya sudah benar dan hasilnya mulai terlihat. Tantangannya sekarang adalah menjaga momentum transformasi, meningkatkan kualitas layanan, dan memastikan ekosistem yang dibangun BTN terus memberikan nilai bagi masyarakat," pungkas Eko.