- Amerika Serikat mengumumkan aksi militer terhadap Iran pada 2 September 2026 yang memicu lonjakan harga minyak mentah dunia.
- Harga minyak mentah Brent melesat lebih dari lima persen dan jenis WTI naik hampir enam persen di pasar global.
- Dampak konflik tersebut menekan bursa saham AS, meningkatkan imbal hasil obligasi, serta memperkuat sinyal kenaikan suku bunga.
Suara.com - Harga minyak mentah dunia melonjak tajam, menyusul pengumuman aksi militer lanjutan Amerika Serikat terhadap Iran.
Eskalasi konflik ini memperdalam kekhawatiran atas lonjakan inflasi sekaligus memperluas aksi lepas saham dan obligasi di pasar global.
Mengutip dari CNBC, Rabu (2/9/2026), minyak mentah berjangka Brent melesat lebih dari 5 persen ke kisaran 95 dolar AS per barel, sementara jenis West Texas Intermediate (WTI) naik hampir 6 persen mendekati 91 dolar AS per barel.
Lonjakan harga energi ini langsung menekan bursa saham AS. Indeks S&P 500 merosot 0,71 persen dan Nasdaq yang didominasi saham teknologi melemah sekitar 1 persen.
Di pasar obligasi, imbal hasil (yield) Surat Utang Negara AS tenor 10 tahun melonjak ke level 4,8 persen, menjadi rekor tertinggi sejak Januari 2025.
Kenaikan yield ini menjadi penanda bahwa suku bunga pinjaman konsumen di AS, seperti KPR, kredit kendaraan, dan kartu kredit, berpotensi makin mahal dalam beberapa bulan ke depan.
![Amerika Serikat [Shutterstock]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2019/02/15/62741-bendera-amerika-serikat-amerika-usa-ilustrasi-amerika-us.jpg)
Pasar finansial global sebelumnya sudah tertekan oleh aksi lepas obligasi secara massal dan kekhawatiran atas arah kebijakan moneter bank sentral AS, Federal Reserve (The Fed). Ketua The Fed, Kevin Warsh, pekan lalu mengisyaratkan ketidaknyamanannya terhadap laju inflasi saat ini.
Pernyataan tersebut ditafsirkan pelaku pasar sebagai sinyal kuat bahwa suku bunga acuan akan segera dinaikkan, mengingat belanja bisnis berbasis kecerdasan buatan (AI) dan konsumsi rumah tangga masih tergolong kuat.
Kenaikan imbal hasil obligasi AS sejalan dengan lonjakan serupa di berbagai negara maju. Yield obligasi acuan Jepang menembus rekor tertinggi, sementara imbal hasil obligasi pemerintah Inggris tenor 30 tahun menyentuh level tertinggi sejak 1998.
Fenomena ini mencerminkan tantangan serupa yang dihadapi negara-negara maju, seperti pembengkakan defisit anggaran, lonjakan utang pemerintah, serta ketatnya pasokan minyak dunia yang terus mendongkrak inflasi.
Kondisi ekonomi terkini dinilai telah memasuki fase pertumbuhan baru yang didorong oleh investasi teknologi AI dan belanja pemerintah.
Kondisi ini membuat obligasi pemerintah relatif kurang menarik dibandingkan instrumen saham, kecuali jika perekonomian AS masuk ke jurang resesi.
Selama inflasi tetap menjadi penggerak utama pasar, peluang The Fed untuk menaikkan suku bunga acuan semakin besar.
Langkah pengetatan ini bertujuan mengeram laju ekonomi dengan menaikkan biaya pinjaman perbankan, yang pada akhirnya membatasi ekspansi dunia usaha dan konsumsi masyarakat.
Koreksi pada bursa saham kali ini dinilai sebagai antisipasi pasar atas potensi kenaikan suku bunga tersebut.