- Wakil Menteri ESDM Yuliot Tanjung menyatakan bahwa distribusi energi di Kalimantan terganggu akibat surutnya debit air sungai pada Rabu (2/9/2026).
- Kondisi sungai yang mengering tersebut menyebabkan kapal tongkang pengangkut bahan bakar minyak tidak dapat melintas untuk melakukan pengiriman.
- Kementerian ESDM mengatasi kendala logistik ini dengan mengalihkan pengiriman menggunakan tambahan armada truk melalui jalur darat.
Suara.com - Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mengakui surutnya debit air di sejumlah sungai menjadi pemicu terganggunya distribusi energi di Kalimantan.
Wakil Menteri ESDM, Yuliot Tanjung, menegaskan hambatan tersebut murni masalah logistik, bukan akibat pembatasan produksi.
"Enggak, itu ya bukan karena dibatasi produksinya karena air untuk mengaliri tongkangnya enggak ada air," kata Yuliot saat ditemui wartawan di di Jakarta International Expo (JIExpo) Kemayoran pada Rabu (2/9/2026).
Yuliot pun mengaku, telah mengecek langsung salah satu sungai di Kalimantan Timur, dan mendapati terdapat kapal tongkang yang tidak dapat melintas karena berkurangnya debit air.
"Itu ya saya cek itu kemarin di Kalimantan Timur. Ya justru, ya karena sungainya mengering, tongkangnya enggak bisa jalan," kata Yuliot.
Terganggunya distribusi energi sebelumnya juga diakui oleh Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi (Dirjen Migas) Kementerian ESDM, Laode Sulaeman.
![Dirjen Migas ESDM, Laode Sulaeman di Jakarta, Rabu (22/7/2026). [Suara.com/Yaumal]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2026/07/22/31631-dirjen-migas-esdm-laode-sulaeman.jpg)
Saat rapat dengar pendapat dengan Komisi XII DPR RI pada 26 Agustus lalu, Laode menyebut distribusi BBM di Kalimantan terganggu akibat aliran sungai yang mengering.
"Untuk proses distribusi BBM ini dilakukan melalui angkutan-angkutan sungai, dan pada saat ini sungai ini mengalami kondisi surut, sehingga kapal-kapal yang biasanya mengirimkan melalui jalur sungai terkendala untuk proses pengiriman BBM tersebut," jelas Laode.
Untuk mengatasinya, Kementerian ESDM telah melakukan sejumlah langkah mitigasi, salah satunya mengalihkan distribusi melalui jalur darat.
"Hal ini memang telah dimitigasi dengan memperbanyak truk-truk pengiriman lewat darat," ujarnya.
Namun demikian, muatannya berbeda jauh dibanding pengiriman melalui jalur sungai.
"Memang tidak bisa volumenya sebesar angkutan sungai, tapi ditambah volumenya agar bisa menutupi tantangan-tantangan antrean yang terjadi dikarenakan oleh cuaca," kata Laode.