- Tenaga kesehatan masih menumpuk di Jawa dan kota besar.
- Indonesia Timur menghadapi kekurangan tenaga kesehatan.
- Telehealth dan AI berpeluang memangkas kesenjangan layanan.
Suara.com - Ketimpangan tenaga kesehatan masih menjadi salah satu persoalan besar yang membayangi sistem kesehatan Indonesia. Di tengah perkembangan teknologi medis yang semakin pesat, tenaga medis dan tenaga kesehatan masih cenderung terkonsentrasi di wilayah perkotaan dan Pulau Jawa.
Proyeksi Kementerian Kesehatan tahun 2026 menunjukkan distribusi tenaga medis dan tenaga kesehatan belum merata. Wilayah perkotaan dan Pulau Jawa masih menjadi pusat konsentrasi tenaga kesehatan, sementara kawasan timur Indonesia menghadapi kekurangan tenaga dalam jumlah besar.
Kondisi tersebut membuat tantangan pemerataan layanan kesehatan tidak hanya berkaitan dengan pembangunan fasilitas kesehatan, tetapi juga bagaimana masyarakat di daerah terpencil bisa memperoleh akses terhadap tenaga medis dengan kualitas yang memadai.
Di tengah persoalan tersebut, teknologi mulai dipandang sebagai salah satu instrumen untuk mempersempit kesenjangan layanan kesehatan.
Hal itu menjadi salah satu pembahasan dalam forum Healthier Futures, Sooner: How Technology Closes the Gap in Care yang mempertemukan peneliti, klinisi, dan pemimpin sektor kesehatan dari Australia dan Indonesia di Jakarta pada 20 Agustus.
Forum yang digelar oleh RMIT University dan Mandaya Hospital Group tersebut mempertemukan keahlian RMIT di bidang kesehatan, rekayasa, dan teknologi medis atau medical technology (MedTech) dengan pengalaman klinis Mandaya.
Direktur RMIT Indonesia Tantia Dian Permata Indah mengatakan, tantangan kesehatan Indonesia membutuhkan inovasi yang tidak berhenti pada pengembangan teknologi, tetapi mampu menjawab persoalan yang dihadapi pasien dan tenaga kesehatan di lapangan.
"Prioritas layanan kesehatan Indonesia membutuhkan solusi yang tidak hanya inovatif, tetapi juga relevan dengan realitas yang dihadapi pasien dan tenaga kesehatan di Indonesia. Dengan menghubungkan kemampuan riset global RMIT dengan mitra di Indonesia seperti Mandaya, kami ingin menghadirkan dampak nyata yang sesuai dengan kebutuhan lokal," kata Tantia.
Salah satu peluang yang dibahas adalah pemanfaatan teknologi untuk mengatasi persoalan jarak antara pasien dan tenaga medis.
Peserta forum mendalami sejumlah teknologi, mulai dari telehealth, pemantauan pasien dari jarak jauh, kecerdasan buatan (AI), sensor wearable, biomarker hingga sistem kesehatan yang saling terhubung.
Teknologi tersebut dinilai dapat menjadi pelengkap keahlian klinis, terutama ketika keterbatasan jumlah dokter dan tenaga kesehatan membuat akses terhadap layanan medis tidak selalu mudah bagi masyarakat di daerah.
Misalnya, layanan kesehatan berbasis jarak jauh dapat membantu pasien memperoleh konsultasi tanpa harus selalu melakukan perjalanan ke kota besar. Sementara sistem pemantauan jarak jauh dapat membantu tenaga medis mengawasi kondisi pasien secara lebih berkelanjutan.
Namun, teknologi bukan berarti menggantikan tenaga kesehatan.
Profesor Ross Vlahos dari RMIT University mengatakan, keberhasilan inovasi kesehatan justru bergantung pada kemampuan peneliti, klinisi, dan organisasi layanan kesehatan untuk bekerja bersama sejak tahap awal.
"Riset menghasilkan nilai terbesar ketika manfaatnya menjangkau pasien dan meningkatkan praktik sehari-hari. Para peneliti, klinisi, dan organisasi layanan kesehatan perlu bekerja bersama sejak awal agar gagasan baru dapat diterapkan secara aman dan efektif dalam layanan kesehatan," ujarnya.