Tenaga Kesehatan Menumpuk di Jawa, Indonesia Timur Krisis Dokter

Mohammad Fadil Djailani

Kamis, 03 September 2026 | 07:25 WIB
Tenaga Kesehatan Menumpuk di Jawa, Indonesia Timur Krisis Dokter
Ilustrasi tenaga medis (Unsplash)
baca 10 detik
  • Tenaga kesehatan masih menumpuk di Jawa dan kota besar.
  • Indonesia Timur menghadapi kekurangan tenaga kesehatan.
  • Telehealth dan AI berpeluang memangkas kesenjangan layanan.

Suara.com - Ketimpangan tenaga kesehatan masih menjadi salah satu persoalan besar yang membayangi sistem kesehatan Indonesia. Di tengah perkembangan teknologi medis yang semakin pesat, tenaga medis dan tenaga kesehatan masih cenderung terkonsentrasi di wilayah perkotaan dan Pulau Jawa.

Proyeksi Kementerian Kesehatan tahun 2026 menunjukkan distribusi tenaga medis dan tenaga kesehatan belum merata. Wilayah perkotaan dan Pulau Jawa masih menjadi pusat konsentrasi tenaga kesehatan, sementara kawasan timur Indonesia menghadapi kekurangan tenaga dalam jumlah besar.

Kondisi tersebut membuat tantangan pemerataan layanan kesehatan tidak hanya berkaitan dengan pembangunan fasilitas kesehatan, tetapi juga bagaimana masyarakat di daerah terpencil bisa memperoleh akses terhadap tenaga medis dengan kualitas yang memadai.

Di tengah persoalan tersebut, teknologi mulai dipandang sebagai salah satu instrumen untuk mempersempit kesenjangan layanan kesehatan.

Hal itu menjadi salah satu pembahasan dalam forum Healthier Futures, Sooner: How Technology Closes the Gap in Care yang mempertemukan peneliti, klinisi, dan pemimpin sektor kesehatan dari Australia dan Indonesia di Jakarta pada 20 Agustus.

Forum yang digelar oleh RMIT University dan Mandaya Hospital Group tersebut mempertemukan keahlian RMIT di bidang kesehatan, rekayasa, dan teknologi medis atau medical technology (MedTech) dengan pengalaman klinis Mandaya.

Direktur RMIT Indonesia Tantia Dian Permata Indah mengatakan, tantangan kesehatan Indonesia membutuhkan inovasi yang tidak berhenti pada pengembangan teknologi, tetapi mampu menjawab persoalan yang dihadapi pasien dan tenaga kesehatan di lapangan.

"Prioritas layanan kesehatan Indonesia membutuhkan solusi yang tidak hanya inovatif, tetapi juga relevan dengan realitas yang dihadapi pasien dan tenaga kesehatan di Indonesia. Dengan menghubungkan kemampuan riset global RMIT dengan mitra di Indonesia seperti Mandaya, kami ingin menghadirkan dampak nyata yang sesuai dengan kebutuhan lokal," kata Tantia.

Salah satu peluang yang dibahas adalah pemanfaatan teknologi untuk mengatasi persoalan jarak antara pasien dan tenaga medis.

baca juga

Peserta forum mendalami sejumlah teknologi, mulai dari telehealth, pemantauan pasien dari jarak jauh, kecerdasan buatan (AI), sensor wearable, biomarker hingga sistem kesehatan yang saling terhubung.

Teknologi tersebut dinilai dapat menjadi pelengkap keahlian klinis, terutama ketika keterbatasan jumlah dokter dan tenaga kesehatan membuat akses terhadap layanan medis tidak selalu mudah bagi masyarakat di daerah.

Misalnya, layanan kesehatan berbasis jarak jauh dapat membantu pasien memperoleh konsultasi tanpa harus selalu melakukan perjalanan ke kota besar. Sementara sistem pemantauan jarak jauh dapat membantu tenaga medis mengawasi kondisi pasien secara lebih berkelanjutan.

Namun, teknologi bukan berarti menggantikan tenaga kesehatan.

Profesor Ross Vlahos dari RMIT University mengatakan, keberhasilan inovasi kesehatan justru bergantung pada kemampuan peneliti, klinisi, dan organisasi layanan kesehatan untuk bekerja bersama sejak tahap awal.

"Riset menghasilkan nilai terbesar ketika manfaatnya menjangkau pasien dan meningkatkan praktik sehari-hari. Para peneliti, klinisi, dan organisasi layanan kesehatan perlu bekerja bersama sejak awal agar gagasan baru dapat diterapkan secara aman dan efektif dalam layanan kesehatan," ujarnya.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Review Drama Dr. Asura, Kisah Dokter Genius dan Pemberani di Ruang UGD

Review Drama Dr. Asura, Kisah Dokter Genius dan Pemberani di Ruang UGD

Your Say | Selasa, 01 September 2026 | 19:00 WIB

Serikat Pekerja Dorong Transformasi Ketenagakerjaan Usai Aturan Alih Daya Terbit

Serikat Pekerja Dorong Transformasi Ketenagakerjaan Usai Aturan Alih Daya Terbit

News | Sabtu, 29 Agustus 2026 | 20:10 WIB

Buruh Pantau 10 Pasal Krusial RUU Ketenagakerjaan, Siap Demo Jika Isinya Merugikan!

Buruh Pantau 10 Pasal Krusial RUU Ketenagakerjaan, Siap Demo Jika Isinya Merugikan!

News | Sabtu, 29 Agustus 2026 | 16:05 WIB

Terkini

Kisah Perjuangan Tati Purwanti, Mantan PMI yang Sukses Kembangkan Bubur Cirebon di Taipei

Kisah Perjuangan Tati Purwanti, Mantan PMI yang Sukses Kembangkan Bubur Cirebon di Taipei

Bekaci | Sabtu, 12 September 2026 | 20:29 WIB

Dari Cirebon ke Taipei, Tati Purwanti Bawa Kuliner Lokal dan Tumbuh Bersama BRI

Dari Cirebon ke Taipei, Tati Purwanti Bawa Kuliner Lokal dan Tumbuh Bersama BRI

Jakarta | Sabtu, 12 September 2026 | 20:27 WIB

Bubur Cirebon Go International, Kisah Tati Purwanti Bangun Usaha di Taipei

Bubur Cirebon Go International, Kisah Tati Purwanti Bangun Usaha di Taipei

Jawa Tengah | Sabtu, 12 September 2026 | 20:25 WIB

Jejak Kontak Terakhir 8 Warga Hilang Terdeteksi di Pulau Sebesi, Kemkomdigi Telusuri Sinyal

Jejak Kontak Terakhir 8 Warga Hilang Terdeteksi di Pulau Sebesi, Kemkomdigi Telusuri Sinyal

Tekno | Sabtu, 12 September 2026 | 20:24 WIB

Komdigi Klaim 98,9% Wilayah Berpopulasi Sudah Tercover Seluler, Blank Spot Jadi Pekerjaan Berikutnya

Komdigi Klaim 98,9% Wilayah Berpopulasi Sudah Tercover Seluler, Blank Spot Jadi Pekerjaan Berikutnya

Tekno | Sabtu, 12 September 2026 | 20:23 WIB

Jejak Sukses Mantan PMI Tati Purwanti, Bawa Bubur Cirebon hingga Taipei

Jejak Sukses Mantan PMI Tati Purwanti, Bawa Bubur Cirebon hingga Taipei

Jatim | Sabtu, 12 September 2026 | 20:22 WIB

Ada Risiko Fiskal Meski Pemerintah Ambil Alih Utang Kereta Cepat

Ada Risiko Fiskal Meski Pemerintah Ambil Alih Utang Kereta Cepat

Bisnis | Sabtu, 12 September 2026 | 20:22 WIB

Tati Purwanti Kembangkan Bubur Cirebon di Taipei, Tumbuh Bersama Dukungan BRI

Tati Purwanti Kembangkan Bubur Cirebon di Taipei, Tumbuh Bersama Dukungan BRI

Jabar | Sabtu, 12 September 2026 | 20:18 WIB

Bubur Cirebon Jadi Jalan Sukses Tati Purwanti, Mantan PMI yang Kini Berbisnis di Taipei

Bubur Cirebon Jadi Jalan Sukses Tati Purwanti, Mantan PMI yang Kini Berbisnis di Taipei

Riau | Sabtu, 12 September 2026 | 20:17 WIB

Tati Purwanti Buktikan Mantan PMI Bisa Sukses, Bubur Cirebon Kini Hadir di Taipei

Tati Purwanti Buktikan Mantan PMI Bisa Sukses, Bubur Cirebon Kini Hadir di Taipei

Bogor | Sabtu, 12 September 2026 | 20:14 WIB

×