- PGN kembangkan ekonomi desa lewat UMKM, wisata, dan energi berkelanjutan.
- Balkondes Karangrejo cetak omzet Rp3,6 miliar pada 2024.
- Pendapatan petani karet Pagardewa naik 33,3% menjadi Rp57,6 juta.
Suara.com - PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGN), Subholding Gas Pertamina, terus memperkuat pemberdayaan ekonomi masyarakat desa dengan mengembangkan potensi lokal menjadi sumber pendapatan yang berkelanjutan.
Upaya tersebut dilakukan melalui sejumlah program tanggung jawab sosial dan lingkungan (TJSL), mulai dari pengembangan Balai Ekonomi Desa (Balkondes) Karangrejo di Magelang, Suadesa Festival, hingga Program Inovasi Sosial Penguatan Desa Ekonomi Kreatif, Aman, dan Setara (Pendekar Dewa) di Desa Pagardewa, Muara Enim, Sumatera Selatan.
Program-program tersebut tidak sekadar memberikan bantuan, tetapi diarahkan untuk membangun kapasitas masyarakat sekaligus menciptakan ekosistem usaha yang dapat dikelola secara mandiri.
Corporate Secretary PGN Fajriyah Usman mengatakan penguatan ekonomi desa merupakan bagian penting dalam menciptakan pertumbuhan ekonomi yang inklusif.
“Untuk itu, PGN berupaya membangun ekosistem yang memungkinkan masyarakat mengenali potensinya, meningkatkan kapasitas, dan pada akhirnya mampu mengelola sumber daya yang dimiliki secara mandiri,” ujar Fajriyah.
Salah satu contoh pengembangan ekonomi berbasis potensi lokal dilakukan PGN melalui Balkondes Karangrejo di Kecamatan Borobudur, Kabupaten Magelang.
Balkondes menjadi wadah bagi masyarakat untuk mengembangkan berbagai aktivitas ekonomi, mulai dari homestay, kuliner, paket wisata hingga produk ekonomi kreatif.
PGN juga mendukung kawasan tersebut dengan infrastruktur energi ramah lingkungan. Sistem Compressed Natural Gas (CNG) cluster dihadirkan untuk memenuhi kebutuhan energi sekitar 150 rumah tangga, sementara panel surya digunakan untuk memasok sebagian kebutuhan listrik kawasan Balkondes.
Balkondes PGN Karangrejo kini mencatat omzet hingga Rp3,6 miliar pada 2024.
Dampaknya juga terasa terhadap penyerapan tenaga kerja. Sekitar 80% tenaga kerja di kawasan tersebut merupakan masyarakat lokal yang telah mendapatkan pelatihan untuk mengelola homestay, restoran hingga berbagai paket wisata.
Aktivitas wisata yang ditawarkan pun beragam, mulai dari tur VW Safari, bersepeda, arung jeram hingga wisata edukasi pertanian.
Tak berhenti pada pelaku usaha, geliat ekonomi tersebut juga memberikan kontribusi kepada desa melalui Pendapatan Asli Desa (PADes).
Model pemberdayaan ekonomi lainnya dilakukan melalui Suadesa Festival yang menjadi ruang bertemunya UMKM, pelaku ekonomi kreatif, masyarakat dan berbagai pemangku kepentingan.
Pada penyelenggaraan Suadesa Festival 2026 pada 22-23 Agustus lalu, tercatat 2.792 pengunjung hadir. Aktivitas tersebut menghasilkan total perputaran ekonomi mencapai Rp1,815 miliar.
Menariknya, kegiatan tersebut juga membawa konsep ekonomi sirkular melalui pengelolaan sampah.
Sebanyak 331,6 kilogram sampah dikumpulkan untuk dipilah dan diproses kembali menjadi barang yang memiliki nilai guna.
Division Head CSR PGN Krisdyan Widagdo Adhi mengatakan festival tersebut dirancang bukan hanya sebagai kegiatan seremonial, tetapi sebagai ruang untuk mempertemukan potensi desa dengan pasar yang lebih luas.
“Melalui kegiatan ini, kami ingin mendorong agar produk lokal, UMKM, kreativitas masyarakat, dan kepedulian terhadap lingkungan dapat tumbuh dalam satu ekosistem yang saling mendukung,” katanya.
Dampak pemberdayaan ekonomi juga terlihat melalui Program Pendekar Dewa di Desa Pagardewa, Kabupaten Muara Enim, Sumatera Selatan.
Program tersebut diarahkan untuk memperkuat rantai nilai komoditas karet, mengembangkan UMKM, meningkatkan akses terhadap kebutuhan dasar serta membuka potensi wisata lokal.
Hasilnya, pendapatan petani karet yang terlibat dalam program tersebut pada 2025 mencapai Rp57,6 juta per tahun. Angka itu meningkat 33,3% dibandingkan tahun sebelumnya.
PGN juga membuka peluang ekonomi bagi kelompok perempuan melalui pengembangan UMKM. Di sisi lain, potensi Danau Kemiri dikembangkan menjadi destinasi wisata berbasis masyarakat.
Sepanjang 2025, Danau Kemiri mencatat 6.554 kunjungan, dengan pendapatan wisata mencapai Rp92,48 juta. Angka tersebut melonjak 191% dibandingkan periode sebelumnya.
Krisdyan mengatakan pengembangan ekonomi desa tidak dapat menggunakan pendekatan yang seragam karena setiap wilayah memiliki potensi dan tantangan yang berbeda.
“Setiap desa memiliki potensi dan tantangan yang berbeda. Sehingga pendekatan pemberdayaan harus berangkat dari kebutuhan masyarakat dan potensi lokal,” ujarnya.
Atas berbagai inisiatif tersebut, PGN mendapatkan penghargaan dalam Anugerah Ekonomi Hijau 2026 pada 3 September 2026 untuk kategori Inisiatif Mendukung Kemandirian Ekonomi Desa.