- Inalum mengamankan operasional PT BAI dari karhutla di Kabupaten Mempawah, Kalimantan Barat.
- Grup MIND ID mengerahkan 60 personel pemadam bersertifikat serta armada mobil pemadam untuk penanganan darurat.
- Karakteristik lahan gambut yang sulit dipadamkan menuntut proses penyisiran, pendinginan berkelanjutan, serta penyediaan fasilitas medis yang memadai.
Suara.com - PT Indonesia Asahan Aluminium (Persero) atau Inalum mulai mengamankan operasional bisnisnya dari Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang melanda sejumlah titik di Kabupaten Mempawah, Kalimantan Barat.
Terutama, operasional PT Borneo Alumina Indonesia (BAI) yang mengelola smelter Alumina yang dekar dengan lokasi karhutla.
Sebagian titik kebakaran berada di lahan gambut. Karakteristik lahan tersebut membuat api tidak hanya membakar permukaan tanah, tetapi juga dapat merambat dan bertahan di bawah permukaan.
Kondisi ini membuat proses pemadaman membutuhkan pemantauan, penyisiran, serta pendinginan secara berkelanjutan.
![Foto udara asap membumbung tinggi dari kebakaran hutan dan lahan gambut di Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat, Jumat (31/7/2026). [ANTARA FOTO/Jessica Wuysang/YU]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2026/08/26/78266-foto-udara-asap-membumbung-tinggi-dari-kebakaran-hutan-dan-lahan-gambut.jpg)
Adapun Grup MIND ID mengerahkan 60 personel pemadam kebakaran bersertifikat. Personel tersebut merupakan gabungan dari Inalum, ANTAM, PT Bukit Asam (Persero) Tbk, PT Timah (Persero) Tbk, PT Freeport Indonesia, dan PT Vale Indonesia Tbk.
Direktur Utama Inalum, Melati Sarnit,a mengatakan keberadaan perusahaan di suatu wilayah harus memberikan manfaat sekaligus rasa aman bagi masyarakat di sekitarnya.
"Karena itu, ketika terdapat situasi darurat seperti karhutla, kami berupaya bergerak bersama seluruh pihak yang memiliki kompetensi dan kewenangan untuk membantu penanganannya. Kolaborasi menjadi kunci agar respons di lapangan dapat berlangsung lebih cepat dan efektif," ujar Melati di Jakarta, Senin (7/9/2026).
Selain mengerahkan personel, penguatan penanganan di lokasi juga dilakukan dengan menyediakan perlengkapan pemadaman, peralatan keselamatan, serta dukungan medis bagi relawan dan masyarakat terdampak.
Dukungan tersebut juga mencakup fasilitas kesehatan darurat dan alat pelindung diri. PT Pelabuhan Indonesia (Persero) atau Pelindo turut menambahkan satu unit mobil pemadam kebakaran untuk mendukung penanganan di lapangan.
Sementara itu, Direktur Utama BAI Darwin Saleh Siregar mengatakan karakter lahan gambut menjadi salah satu tantangan dalam proses pemadaman.
"Api pada lahan gambut dapat merambat dan bertahan di bawah permukaan meskipun kobaran di atas tanah telah padam. Kondisi ini membuat proses pemadaman membutuhkan waktu lebih panjang, ketersediaan sumber air yang memadai, serta penyisiran dan pendinginan berulang untuk memastikan api benar-benar padam dan tidak kembali muncul," imbuh Darwin.
Dengan kondisi tersebut, penanganan karhutla tidak cukup hanya mengandalkan pemadaman ketika api terlihat. Pemantauan dan pendinginan harus dilakukan secara berulang untuk mencegah munculnya kembali titik api.