- Mata uang rupiah menguat ke level Rp17.550 per dolar AS di pasar keuangan pada Selasa, 8 September.
- Penguatan rupiah terjadi karena dolar AS terkoreksi dan adanya sentimen positif dari rilis data survei kepercayaan investor.
- Mayoritas mata uang di kawasan Asia turut mengalami penguatan, dipimpin oleh yen Jepang sebesar 0,27 persen.
Suara.com - Kondisi rupiah terus menguat di pasar keuangan pagi ini. Mata uang Garuda meninggalkan level Rp17.600 per dolar Amerika Serikat.
Berdasarkan data Bloomberg, rupiah pada Selasa 8 September dibuka ke level Rp 17.550 per dolar Amerika Serikat (AS).
Angka ini menguat 82 poin atau turun 0,47 persen hari sebelumnya yang ada di Rp17.615 per dolar AS.
Analis Doo Financial Futures, Lukman Leong, mengatakan pemguatan ini dikarenakan dolar AS terkoreksi.
Selain itu data survey kepercayaan investor yang akan rilis hari ini bisa membuat rupiah mendapatkan sentimen positif.
"Rupiah diperkirakan berkonsolidasi dengan potensi menguat terbatas terhadap dolar AS. Investor wait and see menantikan survey kepercayaan konsumen Indonesia untuk bulan Agustus yang akan dirilis siang ini. Pergerakan rupiah Rp17.550-Rp17.700," jelasnya saat dihubungi Suara.com.
![Ilustrasi investor asing. [Pixabay]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2025/10/09/21289-ilustrasi-investor-asing.jpg)
Sementara itu, mayoritas mata uang Asia cenderung menguat. Adapun, yen Jepang menjadi mata uang dengan penguatan terbesar di Asia setelah melonjak 0,27 persen. Disusul, peso Filipina yang terkerek 0,16 persen.
Selanjutnya, ada dolar Taiwan yang menanjak 0,16 persen dan won Korea Selatan terapresiasi 0,08 persen. Lalu, baht Thailand naik 0,043 persen.
Berikutnya, dolar Singapura terlihat menguat tipis 0,04 persen terhadap the greenback.
Sedangkan ringgit Malaysia menjadi mata uang dengan pelemahan terdalam di Asia setelah tertekan 0,09 persen. Kemudian ada dolar Hong Kong terkontraksi 0,01 persen dan yuan China melemah tipis 0,007 persen pada pagi ini.