- Pemerintah Amerika Serikat meluncurkan 36 sanksi baru guna menargetkan sektor penerbangan Iran.
- Departemen Keuangan AS memblokir perusahaan pendukung dan mencabut izin penerbangan maskapai sipil Iran.
- Kebijakan pembatasan ekonomi ini bertujuan untuk melumpuhkan pendapatan serta memutus akses global Iran.
Suara.com - Pemerintah Amerika Serikat (AS) meluncurkan 36 sanksi baru terkait Iran yang secara khusus menyasar sektor penerbangan dan sejumlah perusahaan pendukungnya.
Langkah ini diambil sebagai bagian dari upaya masif Washington untuk memperluas tekanan ekonomi terhadap Tehran seiring dengan konflik di Timur Tengah yang kini telah memasuki bulan ketujuh.
Departemen Keuangan AS (U.S. Treasury Department) menyatakan bahwa penjatuhan sanksi ini bertujuan melumpuhkan total operasional maskapai Mahan Air—yang sebelumnya telah dikenai sanksi oleh AS dan Uni Eropa—sekaligus memperluas cakupan sanksi ke seluruh maskapai penerbangan sipil Iran lainnya.
Selain maskapai, sanksi turut menyasar perusahaan cangkang (front companies), pengelola kargo, perantara asing, hingga rute pengiriman tertutup yang diduga digunakan Tehran untuk memperoleh pesawat buatan AS serta teknologi sensitif lainnya.
Blokade Sektor Penerbangan dan Penutupan Akses Internasional
Secara paralel, Kantor Pengawasan Aset Luar Negeri (Office of Foreign Assets Control/OFAC) memblokir perusahaan penyedia layanan yang berbasis di Turki, Uni Emirat Arab (UEA), Malaysia, hingga Kazakhstan yang dituduh membantu operasional maskapai Iran.
OFAC juga mencabut tiga izin penerbangan yang sebelumnya membolehkan perlintasan udara (overflight) serta mengizinkan maskapai non-AS membawa pesawat komersial berteknologi AS masuk ke wilayah Iran. Kebijakan ini juga menghapus kelonggaran untuk pasokan suku cadang keselamatan, bahan bakar, dan perbaikan darurat.
"AS memanfaatkan sanksi untuk secara efektif memblokade sektor penerbangan Iran dari dunia luar," ujar Brett Erickson, Managing Principal Obsidian Risk Advisors. Menurutnya, langkah ini menandai perluasan perang ekonomi yang berdampak signifikan pada perjalanan sipil, aktivitas perdagangan, rantai pasok, hingga ketahanan ekonomi Iran.
Mantan pejabat senior Departemen Keuangan AS, Miad Maleki, menambahkan bahwa pencabutan izin tersebut akan memutus lalu lintas udara utama dari pusat penerbangan seperti Dubai, Doha, dan Istanbul, yang selama ini menjadi gerbang utama perdagangan dan keuangan regional bagi Tehran.
Menteri Keuangan AS, Scott Bessent, menegaskan bahwa tindakan ini merupakan bagian dari Operation Economic Outcast guna menekan pendapatan rezim Iran.
"Biarlah ini menjadi peringatan bagi siapa saja yang melakukan bisnis dengan maskapai penerbangan Iran yang tersisa, yang semuanya telah kami beri sanksi hari ini: Anda berisiko terputus dari sistem keuangan global," tegas Bessent dalam pernyataan resminya, dikutip dari Reuters.
Dalam penindakan terbaru ini, AS menetapkan sanksi terhadap 27 maskapai penerbangan Iran serta beberapa perusahaan di UEA dan Turki—termasuk pimpinan perusahaan layanan penerbangan ECT Aviation Support—karena memfasilitasi akuisisi setidaknya tiga unit pesawat Boeing B-777 untuk Mahan Air pada musim panas ini.
Eskalasi sanksi dan blokade maritim AS di Selat Hormuz kini kian mempersempit akses devisa serta menekan tingkat ekspor minyak Iran di pasar internasional.