- Studi LD FEB UI mencatat perempuan dan generasi muda mendominasi penggunaan layanan kredit digital Kredivo pada 2024.
- Wakil Kepala LD FEB UI Paksi Walandouw menyatakan kredit digital memudahkan masyarakat unserved mengakses ekosistem keuangan formal di Jakarta.
- OJK melaporkan outstanding BNPL Juli 2024 mencapai Rp13,62 triliun dengan rasio kredit bermasalah di level 3,03 persen.
Suara.com - Kaum wanita menjadi yang paling banyak menggunakan pinjaman online (pinjol) sebagai akses kredit. Hal ini tercermin dari Studi Lembaga Demografi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (LD FEB UI).
Dalam studi teraebut,tercatat hampir separuh pengakses kredit pertama melalui aplikasi Kredivo merupakan perempuan.
Sebanyak 48 persen pengakses kredit pertama adalah perempuan, sedangkan 57 persen lainnya berusia di bawah 30 tahun. Temuan tersebut menunjukkan kelompok perempuan dan generasi muda semakin aktif mencoba layanan kredit digital.
Wakil Kepala Bidang Penelitian dan Pelatihan LD FEB UI, Paksi Walandouw, mengatakan layanan kredit digital telah membuka akses pembiayaan bagi kelompok masyarakat yang sebelumnya belum mudah masuk ke ekosistem keuangan formal.
![OJK menyampaikan kredit macet pinjaman daring melonjak. [ANTARA FOTO/Muhammad Bagus Khoirunas/sgd]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2026/04/13/18682-ojk-pindar-pinjol.jpg)
"Ini menunjukkan bahwa orang-orang yang mau berusaha, underserved itu bisa masuk ke sini. Ini salah satu yang tadi saya rasa ketika pertama kali ini ingin membuat underserved atau orang-orang yang susah, atau orang-orang yang tidak mudah masuk di ekosistem keuangan, menjadi lebih mudah," ujar Paksi dalam peluncuran Laporan Dampak Sosial dan Ekonomi Kredivo di Jakarta, Kamis (10/8/2026).
LD FEB UI juga mencatat satu dari enam pengguna aktif fintech lending pada 2024 merupakan pengakses kredit pertama. Jumlah tersebut disebut meningkat 10 kali lipat dibandingkan tahun-tahun awal perkembangan layanan kredit digital.
Paksi mengatakan pengalaman pertama menggunakan kredit digital membuat sebagian pengguna mulai mengenal sistem pembiayaan formal.
Setelah memiliki pengalaman tersebut, sebagian pengguna disebut menjadi lebih percaya diri untuk mengakses kredit dari lembaga keuangan lain.
"Karena dia sudah masuk ke dalam ekosistem pembiayaan, maka mereka lebih percaya diri mengakses pinjaman di institusi keuangan formal," ucapnya.
Ia juga mengutip pengalaman salah satu pengguna dalam wawancara mendalam penelitian LD FEB UI. Pengguna tersebut mengaku pandangannya terhadap kredit berubah setelah menggunakan Kredivo sebelum kemudian mencoba mengakses layanan kredit dari bank.
Direktur Pengawasan Lembaga Pembiayaan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Muhammad Rizki F Purnomo mengatakan outstanding Buy Now Pay Later (BNPL) per Juli 2024 mencapai Rp13,62 triliun atau tumbuh 54 persen secara tahunan.
Jumlah pengguna BNPL juga telah mencapai 26,64 juta rekening atau meningkat 9,32 juta rekening.
Menurut Rizki, perkembangan tersebut menunjukkan layanan PayLater semakin diterima oleh masyarakat. Namun, pertumbuhan pengguna juga harus dibarengi dengan pengelolaan risiko yang baik.
"Saya berharap peningkatan jumlah ini juga diimbangi dengan pengelolaan risiko yang baik," kata Rizki.
Ia mengungkapkan rasio kredit bermasalah atau non-performing loan (NPL) BNPL saat ini berada di level 3,03 persen. Meski masih relatif terkendali, Rizki mengingatkan industri agar tidak terlalu longgar dalam menyalurkan pembiayaan demi mengejar pertumbuhan.