- Rupiah ditutup melemah ke level Rp17.547 per dolar AS pada perdagangan hari Kamis tanggal 10 September 2026.
- Pelemahan nilai tukar rupiah tersebut disebabkan oleh kekhawatiran investor terhadap konflik geopolitik di Timur Tengah dan aksi ambil untung.
- Mayoritas mata uang di kawasan Asia turut mengalami pergerakan yang bervariasi terhadap dolar Amerika Serikat.
Suara.com - Nilai tukar rupiah masih terperosok hingga akhir perdagangan, Kamis, 10 September 2026. Berdasarkan data Bloomberg, rupiah ditutup ke level Rp17.547 per dolar AS, melemah 36 poin atau naik 0,26 persen.
Analis Doo Financial Futures, Lukman Leong, mengatakan pelemahan rupiah ini karena investor masih khawatir akan kondisi geopolitik di Timur Tengah.
"Rupiah dan mayoritas mata uang Asia umumnya melemah terhadap dolar AS, di tengah kekhawatiran atas eskalasi konflik di Timur Tengah yang mendorong kenaikan harga minyak mentah dunia," ujarnya saat dihubungi Suara.com.
Lukman menambahkan rupiah juga tertekan karena aksi profit taking, meski penjualan ritel bulan Juli berhasil rebound setelah mengalami kontraksi selama dua bulan berturut-turut sedikit banyak membantu menahan pelemahan yang lebih besar.
![BI mengubah batas maksimum pembelian valas dengan menjadi 50.000 dolar AS per pelaku per bulan. Kebijakan ini berlaku mulai April mendatang di tengah ancaman krisis energi akibat konflik di Teluk Persia. [Antara]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2026/03/17/22551-dolar-rupiah.jpg)
Namun, pada esok hari, mata uang garuda masih akan melemah dengan sentimen global yang masih tinggi.
"Secara sentimen domestik masih positif, namun penguatan yang lebih lanjut akan ditentukan oleh data-data inflasi AS yang akan dirilis malam ini dan besok," ucapnya.
Sementara itu, pergerakan mata uang di Asia bervariasi. Di mana, dolar Taiwan menjadi mata uang dengan pelemahan terdalam di Asia setelah ditutup anjlok 0,27 persen.
Selanjutnya ada rupee India yang tertekan 0,27 persen dan won Korea Selatan tertekan 0,07 persen. Disusul, peso Filipina yang ditutup melemah tipis 0,05 persen terhadap the greenback.
Sedangkan, ringgit Malaysia menjadi mata uang dengan penguatan terdalam di Asia setelah melesat 0,17 persen. Lalu ada baht Thailand yang terangkat 0,11 persen.
Berikutnya, yen Jepang yang menanjak 0,07 persen serta dolar Hong Kong terapresiasi 0,01 persen. Diikuti, yuan China yang naik 0,006 persen.