- Ketua Umum AFPI Entjik S. Djafar menyatakan daya beli masyarakat turun akibat tekanan ekonomi domestik dan global di Jakarta pada Kamis (10/9/2026).
- AFPI mendorong industri pinjol untuk lebih selektif dan konservatif dalam menyalurkan pinjaman guna menekan risiko pembiayaan bermasalah.
- Industri pinjaman online diperkirakan masih memiliki peluang tumbuh sekitar 20 persen hingga akhir tahun meski menghadapi tekanan ekonomi.
Suara.com - Pelemahan daya beli masyarakat mulai menjadi perhatian industri pinjaman online atau pinjol. Asosiasi Fintech Pendanaan Bersama Indonesia (AFPI) mengakui daya beli masyarakat mengalami penurunan di tengah kondisi ekonomi domestik dan global.
Ketua Umum AFPI, Entjik S Djafar, mengatakan penurunan daya beli tersebut memang terjadi, meski menurutnya belum terlalu besar.
"Daya beli memang terus terang aja ada turun ya. Ada turun, tapi nggak banyak turun. Karena, ya kayak, kita mengharapkan ekonomi berarti ini ke depannya bisa baik ya," kata Entjik di Jakarta, Kamis (10/9/2026).
Menurut Entjik, kondisi ekonomi, baik domestik maupun global, turut memberikan pengaruh terhadap industri fintech pendanaan atau pinjol.
![OJK menyampaikan kredit macet pinjaman daring melonjak. [ANTARA FOTO/Muhammad Bagus Khoirunas/sgd]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2026/04/13/18682-ojk-pindar-pinjol.jpg)
"Itu memang ada, ada, ada pengaruh dengan keadaan baik itu domestik maupun global ya. Keadaan ekonomi global maupun domestik," ujarnya.
Di tengah kondisi tersebut, industri pinjol memilih mengambil langkah lebih hati-hati dalam menyalurkan pinjaman. AFPI mendorong pelaku industri untuk terus memperbaiki sistem penilaian kredit atau credit scoring serta pengendalian risiko.
Entjik mengatakan industri pinjol ke depan akan semakin konservatif dalam menentukan calon peminjam yang layak mendapatkan pembiayaan.
"Kita terus memperbaiki credit scoring kita, jadi di kredit credit scoring yang kita sebut risk control itu, terus kita meningkatkan credit scoring. Tentunya saat ini ya kita ke depannya lebih konservatif," katanya.
Ia menegaskan pelaku industri juga akan lebih selektif dalam menyalurkan pinjaman.
"Dan, ya, konservatif dan selektif tentunya. Dengan adanya credit scoring, ya juga perkembangan di Indonesia data credit scoring semakin hari semakin baik ya," ucap Entjik.
Langkah tersebut dilakukan untuk menjaga kualitas pembiayaan dan menekan risiko pembiayaan bermasalah atau non-performing financing (NPF), terutama ketika kondisi ekonomi dan daya beli masyarakat mengalami tekanan.
Meski begitu, AFPI masih melihat industri pinjol memiliki peluang untuk terus tumbuh hingga akhir tahun. Entjik memperkirakan pertumbuhan industri masih berada di kisaran 20 persen.
"Ah, (pertumbuhan) sekitar itu (20 persen). Kita, kita tetap konservatif lah," pungkasnya.