- Paiton siapkan transisi batu bara ke gas sebelum menuju hidrogen.
- Paiton rencanakan tambahan pembangkit gas untuk tekan emisi karbon.
- Dua angling listrik diberikan untuk dukung transportasi bersih di TMII.
Suara.com - PT Paiton Energy menyiapkan jalur transisi energi dari pembangkit berbasis batu bara menuju energi yang lebih bersih. Perusahaan melihat peralihan dari batu bara ke gas alam sebelum menuju hidrogen sebagai salah satu opsi transisi energi Indonesia.
President Director PT Paiton Energy Fazil Erwin Alfitri mengatakan transisi energi tidak dapat dilakukan secara serta-merta mengingat Indonesia masih memiliki sumber daya batu bara.
"Jadi, transisi dari batu bara ke gas, gas kemudian ke hidrogen, itu adalah mungkin pathway atau jalan yang kita ingin lakukan," kata Fazil kepada wartawan, Rabu (16/9/2026).
Saat ini, Paiton Energy masih mengoperasikan Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) berbasis batu bara. Namun, perusahaan tengah menyiapkan penambahan kapasitas pembangkit berbasis gas alam atau Pembangkit Listrik Tenaga Gas dan Uap (PLTGU).
"Kita lagi berencana untuk menambah kapasitas di Paiton, dengan penambahan unit pembangkit baru yang menggunakan gas alam atau yang kita bilang PLTGU," ujarnya.
Penambahan pembangkit berbasis gas tersebut diharapkan dapat menekan jejak karbon di kompleks pembangkit Paiton sekaligus mendukung target pemerintah mencapai Net Zero Emission (NZE) pada 2060.
Paiton Energy juga telah menyampaikan kepada pemerintah dan PT PLN (Persero) mengenai kesiapan perusahaan untuk menambah kapasitas listrik melalui pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Gas (PLTG).
Paiton Energy mengoperasikan PLTU Paiton Unit 3, 7, dan 8 di Probolinggo, Jawa Timur. Total kapasitas pembangkit tersebut mencapai sekitar 2.045 megawatt (MW), atau setara sekitar 6% dari konsumsi listrik Jawa.
Selain dari sisi pembangkitan, perusahaan juga mendorong penggunaan energi yang lebih bersih di sektor transportasi.
Paiton Energy memberikan hibah dua unit Angkutan Keliling (Angling) berbasis kendaraan listrik kepada Taman Mini Indonesia Indah (TMII). Kendaraan tersebut digunakan untuk mendukung mobilitas wisatawan di kawasan wisata tersebut.
Fazil mengatakan penggunaan kendaraan listrik menjadi salah satu langkah konkret perusahaan dalam mendorong transisi energi di sektor transportasi.
"Kehadiran dua unit angling listrik dapat menjadi stimulus dan contoh nyata dalam transisi energi. Kami percaya transisi energi menuju energi bersih harus dimulai dari langkah-langkah konkret di sektor transportasi massal, termasuk di kawasan wisata seperti Taman Mini Indonesia Indah," tuturnya.
Plt Direktur Utama TMII Ratri Paramita mengatakan dua kendaraan listrik tersebut langsung dimanfaatkan untuk menunjang fasilitas bagi pengunjung.
TMII saat ini memiliki sekitar 50 unit angkutan keliling. Jumlah tersebut masih belum memenuhi kebutuhan kawasan, terutama ketika terdapat acara besar.
"Dan saat ini kami baru terealisasi 50," kata Ratri.
Menurut Ratri, kebutuhan angkutan keliling di TMII mencapai sekitar 70 unit. Sementara itu, jumlah pengunjung harian berada di kisaran 5.000-8.000 orang dan dapat mencapai 15.000-20.000 orang pada akhir pekan.