PLTP Gunung Ungaran Tak Cuma Soal Listrik, Ini yang Perlu Dikaji

Achmad Fauzi

Rabu, 16 September 2026 | 19:29 WIB
PLTP Gunung Ungaran Tak Cuma Soal Listrik, Ini yang Perlu Dikaji
Ilustrasi panas bumi.
baca 10 detik
  • Pakar Undip Agus Setyawan menyatakan pengembangan PLTP Gunung Ungaran di Jakarta pada Rabu, 16 September 2026, harus dikaji menyeluruh berdasarkan data eksplorasi.
  • Kajian tersebut mencakup kapasitas listrik, karakteristik fluida, pengurangan emisi gas rumah kaca, serta penguatan sistem energi rendah karbon.
  • Pengelolaan reservoir dan reinjeksi fluida secara berkelanjutan diperlukan untuk menjaga lingkungan serta memastikan keandalan sumber energi jangka panjang.

Suara.com - Pengembangan Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) Gunung Ungaran dinilai perlu dikaji secara menyeluruh, tidak hanya berdasarkan potensi listrik yang dapat dihasilkan.

Pakar dari Universitas Diponegoro (Undip) Agus Setyawan mengatakan, hasil eksplorasi dan kajian yang memadai menjadi dasar penting untuk menentukan langkah pengembangan panas bumi Gunung Ungaran.

Menurut dia, data hasil eksplorasi dapat memberikan gambaran mengenai karakteristik sumber panas bumi di bawah permukaan sekaligus potensi pemanfaatannya.

Dengan demikian, pengembangan panas bumi Gunung Ungaran tidak hanya dapat dilihat dari sisi kapasitas listrik yang mungkin dihasilkan, tetapi juga dari kontribusinya terhadap pengurangan emisi dan penguatan energi rendah karbon.

"Secara umum rencana pembangunan pembangkit listrik tenaga panas bumi menghasilkan emisi gas rumah kaca seperti CO2, SOx, NOx, dan partikulat yang sangat rendah dibandingkan pembangkit berbasis bahan bakar fosil," ujar Agus di Jakarta, Rabu (16/9/2026).

Wisatawan melintasi lokasi semburan uap belerang yang keluar dari kawah di lereng Gunung Ungaran, Bandungan, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah, Semarang, Jawa Tengah, Selasa (25/8/2026). [ANTARA FOTO/Aprillio Akbar/YU]
Wisatawan melintasi lokasi semburan uap belerang yang keluar dari kawah di lereng Gunung Ungaran, Bandungan, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah, Semarang, Jawa Tengah, Selasa (25/8/2026). [ANTARA FOTO/Aprillio Akbar/YU]

Menurut Agus, pendekatan berbasis data diperlukan agar potensi panas bumi Gunung Ungaran dapat dinilai secara lebih menyeluruh.

Kajian tersebut tidak berhenti pada seberapa besar listrik yang dapat diproduksi. Aspek emisi, karakteristik fluida, keberlanjutan reservoir, hingga pengelolaan lingkungan juga menjadi bagian penting dalam pengembangan panas bumi.

Panas bumi sendiri memiliki peluang untuk mendukung penggunaan energi yang lebih rendah karbon. Selain itu, sumber energi tersebut dapat membantu memperkuat keragaman sumber listrik sehingga kebutuhan energi tidak hanya bergantung pada satu jenis pembangkit.

Agus menjelaskan, fluida panas bumi yang berasal dari reservoir dapat membawa gas alami seperti karbon dioksida (CO2) dan hidrogen sulfida (H2S).

baca juga

"Namun, jumlah emisi yang dihasilkan dapat berbeda-beda, tergantung pada karakteristik fluida dan teknologi pembangkit yang digunakan," katanya.

Karena itu, pengelolaan sumber daya menjadi bagian penting dalam pengembangan PLTP Gunung Ungaran, termasuk pengelolaan fluida yang telah digunakan dalam proses pembangkitan.

"Salah satunya adalah pengelolaan fluida yang telah digunakan dalam proses pembangkitan. Fluida yang sudah tidak digunakan akan direinjeksikan kembali ke reservoir sehingga akan mengurangi pembuangan limbah berbahaya yang merusak ekosistem," imbuhnya.

Agus menilai pengelolaan reservoir secara berkelanjutan akan menentukan seberapa lama sumber panas bumi dapat dimanfaatkan. "Dengan pengelolaan yang baik, panas bumi dapat menjadi sumber listrik yang andal sekaligus membantu menekan emisi," tuturnya.

Pengalaman pengembangan panas bumi di Kamojang, Jawa Barat, menurut Agus, dapat menjadi salah satu gambaran mengenai pentingnya menjaga keberlanjutan sumber panas bumi.

"Jika PLTP bisa dijaga keberlanjutannya (sustainability) dalam jangka panjang seperti di PLTP Kamojang yang sudah berumur 100 tahun, maka keberadaannya tidak akan mengurangi kualitas udara, minim dampak masalah kesehatan akibat polutan dan dapat mengurangi kontribusi terhadap pemanasan global," bebernya.

Untuk Gunung Ungaran, Agus kembali menekankan pentingnya hasil eksplorasi dan kajian sebelum menentukan tahapan pengembangan selanjutnya. Data tersebut akan menjadi dasar untuk memahami kondisi sumber panas bumi di bawah permukaan dan potensi pemanfaatannya.

Dengan pendekatan tersebut, potensi Gunung Ungaran dapat dinilai bukan hanya berdasarkan jumlah listrik yang mungkin dihasilkan, tetapi juga berdasarkan kontribusinya terhadap pengurangan emisi serta penguatan sistem energi rendah karbon.

"Pada saat yang sama, keberlanjutan reservoir dan pengelolaan lingkungan menjadi bagian penting agar manfaat energi panas bumi dapat dipertahankan dalam jangka panjang," pungkasnya.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Mengapa Pemerintah Izinkan PLN Lakukan Pengeboran Gunung Ungaran di Tengah Surplus Listrik?

Mengapa Pemerintah Izinkan PLN Lakukan Pengeboran Gunung Ungaran di Tengah Surplus Listrik?

Bisnis | Senin, 14 September 2026 | 11:48 WIB

Geely Panda Mini Dijual Rp115 Juta, Harga Mobil Listrik Seken Bisa Ambruk

Geely Panda Mini Dijual Rp115 Juta, Harga Mobil Listrik Seken Bisa Ambruk

Otomotif | Minggu, 13 September 2026 | 21:00 WIB

ESDM Jamin Keamanan Candi Gedong Songo di Proyek Panas Bumi Gunung Ungaran

ESDM Jamin Keamanan Candi Gedong Songo di Proyek Panas Bumi Gunung Ungaran

Bisnis | Kamis, 03 September 2026 | 13:20 WIB

Terkini

Kisah Orang Tua yang Berjuang untuk Pendidikan Anak di Novel Ibuk

Kisah Orang Tua yang Berjuang untuk Pendidikan Anak di Novel Ibuk

Your Say | Rabu, 16 September 2026 | 19:30 WIB

PLTP Gunung Ungaran Tak Cuma Soal Listrik, Ini yang Perlu Dikaji

PLTP Gunung Ungaran Tak Cuma Soal Listrik, Ini yang Perlu Dikaji

Bisnis | Rabu, 16 September 2026 | 19:29 WIB

LRT Kelapa Gading-Manggarai Resmi Beroperasi

LRT Kelapa Gading-Manggarai Resmi Beroperasi

Foto | Rabu, 16 September 2026 | 19:28 WIB

Membongkar Ketimpangan Patriarki Tanpa Harus Membenci Laki-Laki, Bisakah?

Membongkar Ketimpangan Patriarki Tanpa Harus Membenci Laki-Laki, Bisakah?

Your Say | Rabu, 16 September 2026 | 19:25 WIB

Cara Bersihkan Kerak Kompor Susah Hilang, Auto Kinclong Seperti Baru

Cara Bersihkan Kerak Kompor Susah Hilang, Auto Kinclong Seperti Baru

Lifestyle | Rabu, 16 September 2026 | 19:24 WIB

Hari Kesembilan, SAR Sisir 3.439 Mil Persegi Cari 5 Jurnalis Hilang

Hari Kesembilan, SAR Sisir 3.439 Mil Persegi Cari 5 Jurnalis Hilang

Foto | Rabu, 16 September 2026 | 19:23 WIB

KAI dan INKA Rawat 7 Trainset KRL iE305

KAI dan INKA Rawat 7 Trainset KRL iE305

Foto | Rabu, 16 September 2026 | 19:23 WIB

Iming-imingi Korban Jajan di Minimarket, Kakek Cabul di Jakarta Timur Babak Belur Dihajar Massa

Iming-imingi Korban Jajan di Minimarket, Kakek Cabul di Jakarta Timur Babak Belur Dihajar Massa

News | Rabu, 16 September 2026 | 19:21 WIB

Bulog Jamin Mutu Bantuan Pangan, Perkuat Pengawasan Pengolahan Beras di Cirebon

Bulog Jamin Mutu Bantuan Pangan, Perkuat Pengawasan Pengolahan Beras di Cirebon

Bisnis | Rabu, 16 September 2026 | 19:19 WIB

Petani di Daerah Belum Dilibatkan Bahas RUU Reforma Agraria, YLBHI: Jangan Cuma NGO di Jakarta

Petani di Daerah Belum Dilibatkan Bahas RUU Reforma Agraria, YLBHI: Jangan Cuma NGO di Jakarta

News | Rabu, 16 September 2026 | 19:15 WIB

×