- Pakar Undip Agus Setyawan menyatakan pengembangan PLTP Gunung Ungaran di Jakarta pada Rabu, 16 September 2026, harus dikaji menyeluruh berdasarkan data eksplorasi.
- Kajian tersebut mencakup kapasitas listrik, karakteristik fluida, pengurangan emisi gas rumah kaca, serta penguatan sistem energi rendah karbon.
- Pengelolaan reservoir dan reinjeksi fluida secara berkelanjutan diperlukan untuk menjaga lingkungan serta memastikan keandalan sumber energi jangka panjang.
Suara.com - Pengembangan Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) Gunung Ungaran dinilai perlu dikaji secara menyeluruh, tidak hanya berdasarkan potensi listrik yang dapat dihasilkan.
Pakar dari Universitas Diponegoro (Undip) Agus Setyawan mengatakan, hasil eksplorasi dan kajian yang memadai menjadi dasar penting untuk menentukan langkah pengembangan panas bumi Gunung Ungaran.
Menurut dia, data hasil eksplorasi dapat memberikan gambaran mengenai karakteristik sumber panas bumi di bawah permukaan sekaligus potensi pemanfaatannya.
Dengan demikian, pengembangan panas bumi Gunung Ungaran tidak hanya dapat dilihat dari sisi kapasitas listrik yang mungkin dihasilkan, tetapi juga dari kontribusinya terhadap pengurangan emisi dan penguatan energi rendah karbon.
"Secara umum rencana pembangunan pembangkit listrik tenaga panas bumi menghasilkan emisi gas rumah kaca seperti CO2, SOx, NOx, dan partikulat yang sangat rendah dibandingkan pembangkit berbasis bahan bakar fosil," ujar Agus di Jakarta, Rabu (16/9/2026).
![Wisatawan melintasi lokasi semburan uap belerang yang keluar dari kawah di lereng Gunung Ungaran, Bandungan, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah, Semarang, Jawa Tengah, Selasa (25/8/2026). [ANTARA FOTO/Aprillio Akbar/YU]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2026/08/25/79077-pemerintah-terbitkan-izin-pemanfaatan-panas-bumi-gunung-ungaran.jpg)
Menurut Agus, pendekatan berbasis data diperlukan agar potensi panas bumi Gunung Ungaran dapat dinilai secara lebih menyeluruh.
Kajian tersebut tidak berhenti pada seberapa besar listrik yang dapat diproduksi. Aspek emisi, karakteristik fluida, keberlanjutan reservoir, hingga pengelolaan lingkungan juga menjadi bagian penting dalam pengembangan panas bumi.
Panas bumi sendiri memiliki peluang untuk mendukung penggunaan energi yang lebih rendah karbon. Selain itu, sumber energi tersebut dapat membantu memperkuat keragaman sumber listrik sehingga kebutuhan energi tidak hanya bergantung pada satu jenis pembangkit.
Agus menjelaskan, fluida panas bumi yang berasal dari reservoir dapat membawa gas alami seperti karbon dioksida (CO2) dan hidrogen sulfida (H2S).
"Namun, jumlah emisi yang dihasilkan dapat berbeda-beda, tergantung pada karakteristik fluida dan teknologi pembangkit yang digunakan," katanya.
Karena itu, pengelolaan sumber daya menjadi bagian penting dalam pengembangan PLTP Gunung Ungaran, termasuk pengelolaan fluida yang telah digunakan dalam proses pembangkitan.
"Salah satunya adalah pengelolaan fluida yang telah digunakan dalam proses pembangkitan. Fluida yang sudah tidak digunakan akan direinjeksikan kembali ke reservoir sehingga akan mengurangi pembuangan limbah berbahaya yang merusak ekosistem," imbuhnya.
Agus menilai pengelolaan reservoir secara berkelanjutan akan menentukan seberapa lama sumber panas bumi dapat dimanfaatkan. "Dengan pengelolaan yang baik, panas bumi dapat menjadi sumber listrik yang andal sekaligus membantu menekan emisi," tuturnya.
Pengalaman pengembangan panas bumi di Kamojang, Jawa Barat, menurut Agus, dapat menjadi salah satu gambaran mengenai pentingnya menjaga keberlanjutan sumber panas bumi.
"Jika PLTP bisa dijaga keberlanjutannya (sustainability) dalam jangka panjang seperti di PLTP Kamojang yang sudah berumur 100 tahun, maka keberadaannya tidak akan mengurangi kualitas udara, minim dampak masalah kesehatan akibat polutan dan dapat mengurangi kontribusi terhadap pemanasan global," bebernya.
Untuk Gunung Ungaran, Agus kembali menekankan pentingnya hasil eksplorasi dan kajian sebelum menentukan tahapan pengembangan selanjutnya. Data tersebut akan menjadi dasar untuk memahami kondisi sumber panas bumi di bawah permukaan dan potensi pemanfaatannya.
Dengan pendekatan tersebut, potensi Gunung Ungaran dapat dinilai bukan hanya berdasarkan jumlah listrik yang mungkin dihasilkan, tetapi juga berdasarkan kontribusinya terhadap pengurangan emisi serta penguatan sistem energi rendah karbon.
"Pada saat yang sama, keberlanjutan reservoir dan pengelolaan lingkungan menjadi bagian penting agar manfaat energi panas bumi dapat dipertahankan dalam jangka panjang," pungkasnya.