- Kementerian Pertanian mengungkap dugaan penipuan 25 merek beras fortifikasi di Jakarta pada September 2026 yang kandungannya tidak sesuai label.
- Pelanggan bernama Dea merasa kecewa dan dirugikan setelah mengetahui harga beras Sumo serta Idola jauh lebih mahal dari seharusnya.
- Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menyatakan beras fortifikasi palsu dijual hingga Rp57.600 per kilogram dari harga wajar Rp13.500.
Suara.com - Kasus dugaan beras fortifikasi palsu membuat sejumlah konsumen merasa kecewa. Salah satunya Dea (29), pelanggan yang rutin membeli beras merek Sumo dan Idola.
Dea mengaku, memilih kedua merek tersebut karena mempertimbangkan kualitas nasi yang dihasilkan. Menurut dia, nasi dari beras tersebut terasa enak dan pulen serta tidak cepat basi.
Meski harganya relatif lebih mahal dibandingkan beras lainnya dengan kisaran Rp65 ribu sampai Rp105 ribu per kilogram untuk dua merk itu, Dea tetap memilihnya karena merasa kualitas yang didapat sebanding dengan harga yang dibayarkan.
"Saya beli itu karena rasanya memang enak, nasinya pulen, terus menurut saya juga tidak cepat basi. Jadi walaupun harganya lebih mahal, saya tetap beli," kata Dea kepada Suara.com, Kamis (17/8/2026).
Namun, Dea mengaku kecewa setelah mengetahui adanya kasus dugaan beras fortifikasi palsu. Terlebih, dia mendapat informasi harga beras tersebut semestinya tidak setinggi harga yang selama ini dibayarkan konsumen.
"Yang bikin kecewa itu ternyata kalau memang benar harganya tidak seharusnya semahal itu. Kita sebagai pembeli kan selama ini bayar karena mengira kualitas dan klaim produknya memang sesuai," ujarnya.
![Polda Metro Jaya melakukan inspeksi mendadak (sidak) ketersediaan dan harga beras di sejumlah pasar serta pusat perbelanjaan di Kota Tangerang. [Suara.com/Polda Metro Jaya]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2026/09/15/40565-sidak-beras.jpg)
Dea merasa konsumen seperti dirinya menjadi pihak yang dirugikan apabila produk yang dibeli ternyata dijual dengan harga jauh di atas harga yang seharusnya.
Menurut dia, konsumen selama ini tidak memiliki banyak informasi mengenai proses produksi maupun kandungan yang terdapat dalam beras. Karena itu, konsumen hanya dapat mengandalkan informasi yang tercantum pada kemasan dan harga yang ditawarkan.
"Kita sebagai konsumen kan enggak mungkin tahu prosesnya seperti apa. Kita lihat mereknya, kemasannya, terus beli. Kalau ternyata ada yang tidak sesuai, ya pasti merasa tertipu," katanya.
Meski kecewa, Dea mengaku belum berniat mengganti beras yang biasa dikonsumsinya dengan merek lain. Dia masih menyukai rasa dan kualitas nasi dari beras Sumo dan Idola.
"Saya sebenarnya enggak mau ganti ke merek lain. Sudah cocok sama rasanya. Cuma kalau memang ada masalah seperti ini, saya berharap harganya juga dikembalikan ke harga yang sebenarnya," tuturnya.
Dea berharap produsen yang produknya terbukti melakukan pelanggaran dapat memberikan harga yang sesuai dengan kualitas dan kandungan sebenarnya. Menurut dia, konsumen berhak mendapatkan produk sesuai informasi yang diberikan saat membeli.
"Kalau memang ternyata bukan seperti yang diklaim, ya jangan dijual semahal itu. Saya berharap merek-merek yang terbukti bermasalah bisa memberikan harga yang sesuai dengan kondisi produknya," pungkas Dea.
Sebelumnya, Kementerian Pertanian (Kementan) mengungkap adanya dugaan penipuan dalam perdagangan beras fortifikasi.
Sebanyak 25 merek beras fortifikasi disebut menjadi temuan pemerintah karena diduga tidak sesuai dengan standar maupun kandungan yang tercantum pada label.