- Solusi Bangun Indonesia pangkas pengambilan air baku 45 persen.
- Air hujan dan recycled water makin banyak digunakan pabrik semen.
- Pabrik Lhoknga tekan penggunaan air sungai hingga 100 persen.
Suara.com - Ancaman kemarau yang lebih kering dan panjang membuat industri mulai memperketat penggunaan air. PT Solusi Bangun Indonesia Tbk (SMCB) bahkan mencatat pengurangan pengambilan air baku hingga 45 persen pada 2025, jauh melampaui target pengurangan 10 persen yang ditetapkan hingga 2030.
Berdasarkan analisis dan prakiraan BMKG, kondisi atmosfer kering masih berpotensi terjadi di sejumlah wilayah Indonesia seiring musim kemarau 2026 yang diprediksi lebih kering dan lebih panjang dari kondisi normal. Kondisi tersebut juga dipengaruhi fenomena El Niño yang diprakirakan bertahan hingga awal 2027.
Situasi ini membuat efisiensi penggunaan air menjadi semakin penting, termasuk bagi sektor industri yang membutuhkan air dalam kegiatan operasionalnya.
Direktur Operasi Solusi Bangun Indonesia Edi Sarwono mengatakan perubahan pola iklim mendorong industri untuk semakin adaptif dalam mengelola sumber daya air.
“Air merupakan sumber daya vital bagi kehidupan termasuk kegiatan ekonomi dan industri. Karena itu, kami terus berupaya menurunkan penggunaan air permukaan dengan memanfaatkan sumber air alternatif seperti pemanenan air hujan, penggunaan recycled water, serta penggunaan teknologi yang membantu mengoptimalkan distribusi air ke fasilitas produksi agar lebih efisien,” ujar Edi.
Berdasarkan Laporan Keberlanjutan 2025, total pengambilan air baku Solusi Bangun Indonesia turun dari 2.252 megaliter pada 2024 menjadi 2.132 megaliter pada 2025.
Penurunan juga terjadi pada penggunaan air permukaan yang turun sekitar 18 persen dari 841 megaliter menjadi 688 megaliter. Penggunaan air tanah ikut menyusut sekitar 11 persen dari 487 megaliter menjadi 432 megaliter.
Sebaliknya, pemanfaatan air hujan meningkat sekitar 9 persen, dari 676 megaliter pada 2024 menjadi 734 megaliter pada 2025.
Perusahaan juga meningkatkan penggunaan recycled water. Sepanjang 2025, empat pabrik semen Solusi Bangun Indonesia memanfaatkan 563 megaliter air hasil daur ulang dari proses produksi. Volume tersebut setara dengan 31,7 persen dari total pengambilan air dan meningkat 24 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
Di Pabrik Cilacap, Jawa Tengah, air hujan yang ditampung di settling pond digunakan kembali untuk kebutuhan produksi. Langkah tersebut membuat penggunaan air baku di pabrik itu turun 37 persen pada 2025 dibandingkan baseline 2019.
Sementara di Pabrik Narogong, Jawa Barat, teknologi Programmable Logic Control (PLC) dan Internet of Things (IoT) digunakan dalam River Pump Management untuk mengatur distribusi air secara lebih presisi.
Teknologi tersebut membantu mengurangi konsumsi air tawar dari sungai sebesar 82 megaliter sepanjang 2025.
Adapun Pabrik Lhoknga di Aceh memanfaatkan air hujan melalui fasilitas penampungan untuk mengurangi ketergantungan terhadap air sungai. Pada 2025, penggunaan air baku dari sungai di pabrik tersebut berhasil ditekan hingga 100 persen.
Edi mengatakan pengelolaan air tersebut menjadi bagian dari strategi perusahaan menghadapi perubahan iklim, melalui efisiensi, penggunaan kembali air, serta pemanfaatan sumber air alternatif.
“Ketahanan menghadapi perubahan iklim dibangun dari keputusan yang kita ambil hari ini. Setiap upaya untuk menggunakan kembali air, memanfaatkan sumber alternatif, dan mengurangi kehilangan air membantu menjaga ketersediaannya bagi operasi, lingkungan, maupun masyarakat,” kata Edi.