Suara.com - Luas kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia periode Januari-Juli 2026 mencapai 202.004,30 hektare, meningkat 69 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Data tersebut tercatat dalam Sistem Pemantauan Karhutla (SiPongi) Kementerian Kehutanan.
Lonjakan luas karhutla terjadi ketika fenomena El Nino sedang menguat. Peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Prof. Dr. Erma Yuli Hastin, mengatakan El Nino memang memberikan dampak terhadap kondisi iklim global, tetapi fenomena tersebut bukan satu-satunya faktor yang menjelaskan meluasnya kebakaran hutan dan lahan di Indonesia.
Hal tersebut disampaikan Erma dalam Kelas Iklim yang bertajuk "El Nino 101: Kenapa Kebakaran Hutan dan Lahan Begitu Besar Tahun Ini?" yang digelar 350 Indonesia secara daring pada Jumat (11/9).
![Foto udara asap mengepul dari kebakaran hutan di Pusat Konservasi Gajah (PKG) Jalur 21 Padang Sugihan, Kabupaten Banyuasin, Sumatera Selatan, Kamis (17/9/2026). [ANTARA FOTO/Nova Wahyudi/kye]](https://media.suara.com/pictures/original/2026/09/18/31658-karhutla-di-pusat-konservasi-gajah-padang-sugihan-karhutla-jalur-21-padang-sugihan.jpg)
Dalam pemaparannya, Erma menunjukkan data satelit terbaru yang mencatat indeks El Nino (Nino 3,4) telah melampui ambang batas 2,5 dan mengategorikannya sebagai fase El Nino sangat kuat.
Data tersebut disampaikan Erma dalam konteks perkembangan El Nino yang sedang berlangsung. Secara terpisah, Climate Prediction Center (CPC) National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA) pada 10 September 2026 juga menyatakan El Nino sedang menguat dan memiliki peluang lebih dari 90 persen untuk berkembang menjadi peristiwa yang sangat kuat pada musim gugur dan musim dingin Belahan Bumi Utara 2026-2027. NOAA mencatat anomali suhu permukaan laut Agustus mencapai 1,8 derajat Celsius di wilayah Niño-3.4, sementara wilayah Niño-3 mencapai 2,5 derajat Celsius.
Erma juga menjelaskan bahwa fenomena El Nino saat ini tidak lagi mengikuti pola siklus alami yang linier. Menurut dia, perubahan iklim akibat emisi gas rumah kaca telah mengganggu titik kesetimbangan di Samudra Pasifik. Kondisi tersebut, kata Erma, membuat El Nino kali ini lebih sering terjadi dan lebih ganas dibandingkan perhitungan klimatologi konvensional.
Meski demikian, Erma menegaskan El Nino bukan penyebab tunggal meluasnya karhutla tahun ini.
"El Nino memberikan dampak skala global yang mengubah pola iklim, tetapi aktivitas manusia turut memperparah dampaknya secara lokal," ujar Erma, merujuk pada pembukaan lahan dan operasi industri ekstraktif.
Menurut Erma, kontribusi masing-masing faktor sebenarnya dapat dihitung melalui analisis pembobotan dampak, bukan sekadar diklaim sepihak.
Data SiPongi Kementerian Kehutanan menunjukkan kebakaran terjadi di berbagai wilayah Indonesia dengan karakteristik penggunaan lahan yang berbeda. Data tersebut dapat menjadi konteks untuk melihat bahwa luas areal terbakar tidak hanya berkaitan dengan kondisi cuaca, tetapi juga perlu dilihat bersama kondisi lahan dan aktivitas manusia di wilayah terdampak.
Analisis organisasi masyarakat sipil juga menunjukkan adanya titik panas di wilayah yang memiliki berbagai bentuk peruntukan dan izin lahan.
Forest Watch Indonesia (FWI), melalui pemantauan satelit MODIS Terra/Aqua, mencatat 8.918 titik panas di Indonesia hingga Agustus 2026. Data tersebut menjadi salah satu dasar koalisi #ResetKehutanan dalam menyoroti persoalan tata kelola kehutanan dan penggunaan lahan.
Koalisi #ResetKehutanan, yang beranggotakan lebih dari 30 organisasi masyarakat sipil termasuk Transparency International Indonesia, menilai karhutla tahun ini tidak semata-mata dapat dilihat sebagai fenomena alam akibat El Nino. Koalisi tersebut mengaitkannya dengan persoalan tata kelola kehutanan yang dinilai masih bermasalah.
Dalam sesi tanya jawab Kelas Iklim, Erma kembali ditanya mengenai proporsi antara kearifan lokal dalam pembukaan lahan dan kondisi cuaca ekstrem sebagai pemicu karhutla. Erma menegaskan bahwa dampak El Nino bersifat global, tetapi aktivitas ekstraktif dan pembukaan lahan tetap memperparah dampaknya secara lokal.
Dalam pernyataan penutupnya, Erma menyebut Indonesia saat ini masih mengalami kegagalan dalam memitigasi dampak El Nino yang berujung pada karhutla masif. Ia juga memperkirakan fase El Nino kuat ini akan diikuti oleh La Nina kuat sebagai mekanisme keseimbangan alam berikutnya.
Penulis: Inesia Dian