Karhutla Indonesia Tembus 202 Ribu Hektare, Ilmuwan Sebut El Nino Bukan Satu-satunya Pemicu

Bimo Aria Fundrika

Jum'at, 18 September 2026 | 10:55 WIB
Karhutla Indonesia Tembus 202 Ribu Hektare, Ilmuwan Sebut El Nino Bukan Satu-satunya Pemicu
Ilustrasi El Nino. Sumber: Shutterstock/Futurism

Suara.com - Luas kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia periode Januari-Juli 2026 mencapai 202.004,30 hektare, meningkat 69 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Data tersebut tercatat dalam Sistem Pemantauan Karhutla (SiPongi) Kementerian Kehutanan.

Lonjakan luas karhutla terjadi ketika fenomena El Nino sedang menguat. Peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Prof. Dr. Erma Yuli Hastin, mengatakan El Nino memang memberikan dampak terhadap kondisi iklim global, tetapi fenomena tersebut bukan satu-satunya faktor yang menjelaskan meluasnya kebakaran hutan dan lahan di Indonesia. 

Hal tersebut disampaikan Erma dalam Kelas Iklim yang bertajuk "El Nino 101: Kenapa Kebakaran Hutan dan Lahan Begitu Besar Tahun Ini?" yang digelar 350 Indonesia secara daring pada Jumat (11/9).

Foto udara asap mengepul dari kebakaran hutan di Pusat Konservasi Gajah (PKG) Jalur 21 Padang Sugihan, Kabupaten Banyuasin, Sumatera Selatan, Kamis (17/9/2026). [ANTARA FOTO/Nova Wahyudi/kye]
Foto udara asap mengepul dari kebakaran hutan di Pusat Konservasi Gajah (PKG) Jalur 21 Padang Sugihan, Kabupaten Banyuasin, Sumatera Selatan, Kamis (17/9/2026). [ANTARA FOTO/Nova Wahyudi/kye]

Dalam pemaparannya, Erma menunjukkan data satelit terbaru yang mencatat indeks El Nino (Nino 3,4) telah melampui ambang batas 2,5 dan mengategorikannya sebagai fase El Nino sangat kuat.

Data tersebut disampaikan Erma dalam konteks perkembangan El Nino yang sedang berlangsung. Secara terpisah, Climate Prediction Center (CPC) National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA) pada 10 September 2026 juga menyatakan El Nino sedang menguat dan memiliki peluang lebih dari 90 persen untuk berkembang menjadi peristiwa yang sangat kuat pada musim gugur dan musim dingin Belahan Bumi Utara 2026-2027. NOAA mencatat anomali suhu permukaan laut Agustus mencapai 1,8 derajat Celsius di wilayah Niño-3.4, sementara wilayah Niño-3 mencapai 2,5 derajat Celsius.

Erma juga menjelaskan bahwa fenomena El Nino saat ini tidak lagi mengikuti pola siklus alami yang linier. Menurut dia, perubahan iklim akibat emisi gas rumah kaca telah mengganggu titik kesetimbangan di Samudra Pasifik. Kondisi tersebut, kata Erma, membuat El Nino kali ini lebih sering terjadi dan lebih ganas dibandingkan perhitungan klimatologi konvensional.

Meski demikian, Erma menegaskan El Nino bukan penyebab tunggal meluasnya karhutla tahun ini.

"El Nino memberikan dampak skala global yang mengubah pola iklim, tetapi aktivitas manusia turut memperparah dampaknya secara lokal," ujar Erma, merujuk pada pembukaan lahan dan operasi industri ekstraktif.

Menurut Erma, kontribusi masing-masing faktor sebenarnya dapat dihitung melalui analisis pembobotan dampak, bukan sekadar diklaim sepihak.

baca juga

Data SiPongi Kementerian Kehutanan menunjukkan kebakaran terjadi di berbagai wilayah Indonesia dengan karakteristik penggunaan lahan yang berbeda. Data tersebut dapat menjadi konteks untuk melihat bahwa luas areal terbakar tidak hanya berkaitan dengan kondisi cuaca, tetapi juga perlu dilihat bersama kondisi lahan dan aktivitas manusia di wilayah terdampak.

Analisis organisasi masyarakat sipil juga menunjukkan adanya titik panas di wilayah yang memiliki berbagai bentuk peruntukan dan izin lahan.

Forest Watch Indonesia (FWI), melalui pemantauan satelit MODIS Terra/Aqua, mencatat 8.918 titik panas di Indonesia hingga Agustus 2026. Data tersebut menjadi salah satu dasar koalisi #ResetKehutanan dalam menyoroti persoalan tata kelola kehutanan dan penggunaan lahan.

Koalisi #ResetKehutanan, yang beranggotakan lebih dari 30 organisasi masyarakat sipil termasuk Transparency International Indonesia, menilai karhutla tahun ini tidak semata-mata dapat dilihat sebagai fenomena alam akibat El Nino. Koalisi tersebut mengaitkannya dengan persoalan tata kelola kehutanan yang dinilai masih bermasalah.

Dalam sesi tanya jawab Kelas Iklim, Erma kembali ditanya mengenai proporsi antara kearifan lokal dalam pembukaan lahan dan kondisi cuaca ekstrem sebagai pemicu karhutla. Erma menegaskan bahwa dampak El Nino bersifat global, tetapi aktivitas ekstraktif dan pembukaan lahan tetap memperparah dampaknya secara lokal.

Dalam pernyataan penutupnya, Erma menyebut Indonesia saat ini masih mengalami kegagalan dalam memitigasi dampak El Nino yang berujung pada karhutla masif. Ia juga memperkirakan fase El Nino kuat ini akan diikuti oleh La Nina kuat sebagai mekanisme keseimbangan alam berikutnya.

Penulis: Inesia Dian

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Gryffindor atau Slytherin? Cek Kepribadianmu di Kuis Asrama Hogwarts
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Kasus ISPA Melonjak Akibat Karhutla, Bagaimana Pemerintah Seharusnya Bersikap?

Kasus ISPA Melonjak Akibat Karhutla, Bagaimana Pemerintah Seharusnya Bersikap?

News | Jum'at, 18 September 2026 | 10:29 WIB

Karhutla Kepung Pusat Konservasi Gajah Padang Sugihan

Karhutla Kepung Pusat Konservasi Gajah Padang Sugihan

Foto | Jum'at, 18 September 2026 | 09:00 WIB

Pelaku Karhutla Masuk Kategori 'Terorisme Ekologi', Menkum Siap Rombak Aturan dan Perberat Sanksi!

Pelaku Karhutla Masuk Kategori 'Terorisme Ekologi', Menkum Siap Rombak Aturan dan Perberat Sanksi!

News | Kamis, 17 September 2026 | 18:29 WIB

Terkini

AS Tolak Kasih VISA, Presiden Palestina Tetap Pidato di Majelis Umum PBB

AS Tolak Kasih VISA, Presiden Palestina Tetap Pidato di Majelis Umum PBB

News | Jum'at, 18 September 2026 | 11:41 WIB

Cara Menghilangkan Lumut di Tangki Dispenser Tanpa Bongkar Mesin

Cara Menghilangkan Lumut di Tangki Dispenser Tanpa Bongkar Mesin

Lifestyle | Jum'at, 18 September 2026 | 11:40 WIB

7 Weton yang Pantang Menyerah dan Selalu Dapat Jalan Rezeki Tak Terduga

7 Weton yang Pantang Menyerah dan Selalu Dapat Jalan Rezeki Tak Terduga

Lifestyle | Jum'at, 18 September 2026 | 11:40 WIB

Berapa Biaya Vasektomi? KB Permanen yang Dilakukan Suami Siti Badriah demi sang Istri

Berapa Biaya Vasektomi? KB Permanen yang Dilakukan Suami Siti Badriah demi sang Istri

Entertainment | Jum'at, 18 September 2026 | 11:40 WIB

DPRD DKI Wanti-wanti: Biaya Penataan Kabel Udara Jakarta Jangan Dibebankan ke Masyarakat

DPRD DKI Wanti-wanti: Biaya Penataan Kabel Udara Jakarta Jangan Dibebankan ke Masyarakat

News | Jum'at, 18 September 2026 | 11:40 WIB

Gaji PPPK Ditanggung Pusat Mulai 2027, Pemda Bakal Punya 'Gunung Uang' Baru atau Malah Kalap Belanja

Gaji PPPK Ditanggung Pusat Mulai 2027, Pemda Bakal Punya 'Gunung Uang' Baru atau Malah Kalap Belanja

Your Say | Jum'at, 18 September 2026 | 11:40 WIB

Viral Oknum Satpol PP DKI Diduga Nunggak Kontrakan Sampai Main Judol

Viral Oknum Satpol PP DKI Diduga Nunggak Kontrakan Sampai Main Judol

News | Jum'at, 18 September 2026 | 11:39 WIB

Kemnaker Raih Terbaik II Anugerah Layanan Investasi 2026

Kemnaker Raih Terbaik II Anugerah Layanan Investasi 2026

News | Jum'at, 18 September 2026 | 11:38 WIB

Indeks CFX10 Menghijau ke Level 919,61, Kripto HYPE Lagi Naik

Indeks CFX10 Menghijau ke Level 919,61, Kripto HYPE Lagi Naik

Bisnis | Jum'at, 18 September 2026 | 11:36 WIB

Salju Abadi Terakhir di Papua Terus Menyusut, Kini Tinggal 2 Persen dari Luas 1988

Salju Abadi Terakhir di Papua Terus Menyusut, Kini Tinggal 2 Persen dari Luas 1988

News | Jum'at, 18 September 2026 | 11:30 WIB

×