- Rupiah menembus Rp18.100, menambah tekanan biaya impor dan harga kebutuhan pokok.
- Pedagang mengeluhkan kenaikan harga kulakan dan penurunan omzet hingga 20%.
- Dana transportasi, pendidikan anak, dan tabungan mulai tersedot untuk belanja harian.
Suara.com - Pelemahan rupiah hingga menembus Rp18.100 per dolar Amerika Serikat (AS) mulai membayangi daya beli masyarakat wong cilik. Di tengah kenaikan harga sejumlah bahan pokok, uang yang semestinya disisihkan untuk transportasi, pendidikan anak, hingga tabungan kini ikut tersedot untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Tekanan itu terasa di Pasar Deprok, Cipinang Muara, Jakarta. Sejumlah pedagang sembako mengeluhkan kenaikan harga kulakan, sementara pembeli mulai mengurangi jumlah belanja. Pengeluaran rumah tangga pun kian ketat karena kebutuhan pokok tetap harus dipenuhi meski harga meningkat.
Berdasarkan data Bloomberg, rupiah ditutup di level Rp18.135 per dolar AS pada Senin (26/10/2026), melemah 0,30% dari penutupan sebelumnya. Pada pembukaan perdagangan Selasa (27/10/2026), rupiah kembali berada di Rp18.140 per dolar AS.
Dibandingkan penutupan 14 Oktober 2026 di level Rp17.903 per dolar AS, rupiah telah melemah sekitar 1,3% dalam dua pekan. Sementara dalam setahun terakhir, kurs dolar AS terhadap rupiah naik sekitar 9%.
Pelemahan kurs ini menambah tekanan terhadap biaya impor, termasuk bahan pangan yang bergantung pada pasokan luar negeri. Dampaknya terhadap harga eceran memang tidak selalu terjadi seketika, tetapi kenaikan biaya di sepanjang rantai pasok berpotensi mempersempit ruang belanja masyarakat.
Toto, pedagang sembako di Pasar Deprok, mengatakan kenaikan harga sejumlah barang mulai terasa dalam dua pekan terakhir. Harga tepung terigu biasa ukuran 25 kilogram (kg), misalnya, naik dari di bawah Rp200.000 per sak menjadi sekitar Rp213.000-Rp215.000.
Kenaikan tersebut setara minimal sekitar 6%-7%. Sementara tepung kanji disebut telah mengalami kenaikan sejak sekitar dua bulan lalu.
Harga bawang putih kini mencapai sekitar Rp35.000 per kg di tingkat grosir dan Rp37.000 per kg di tingkat eceran. Adapun harga kulakan bawang merah naik dari sekitar Rp45.000 menjadi Rp50.000 per kg, sehingga harga jual di pasar meningkat dari Rp50.000 menjadi Rp55.000 per kg.
Gula dan cabai juga dilaporkan mengalami kenaikan harga. Kondisi ini membuat pedagang harus menyesuaikan harga jual karena modal yang dibutuhkan untuk menyediakan barang semakin besar.
Kenaikan harga bawang merah juga tercermin dalam data nasional. Pusat Informasi Harga Pangan Strategis (PIHPS) Bank Indonesia mencatat rata-rata harga bawang merah mencapai Rp43.850 per kg pada Selasa (27/10/2026), naik dari Rp36.050 per kg pada 20 Oktober.
Di sisi lain, Toto mengaku omzet dagangannya turun sekitar 20%. Menurut dia, pembeli masih datang untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, tetapi jumlah barang yang dibeli semakin sedikit.
Penurunan omzet tersebut merupakan pengalaman satu pedagang dan tidak serta-merta menggambarkan kondisi seluruh pasar. Namun, situasi itu memberikan gambaran tentang bagaimana kenaikan biaya hidup dapat memengaruhi transaksi di tingkat pedagang kecil.
Tekanan harga juga dirasakan Ami (48), seorang ibu rumah tangga. Ia mengaku uang belanja yang dibawa ke pasar kini lebih cepat habis, meski jumlah uang yang disiapkan tidak berubah.
“Sekarang uang belanja terasa lebih cepat habis dibandingkan sebelumnya. Dengan jumlah uang yang sama, barang yang bisa dibeli terkadang lebih sedikit,” katanya.
Menurut Ami, beras, minyak goreng, dan cabai menjadi sejumlah kebutuhan yang paling terasa membebani pengeluaran rumah tangga. Barang-barang tersebut tetap harus dibeli karena digunakan sehari-hari, sehingga sulit untuk mengurangi belanja secara drastis.
Sebagai gantinya, ia mulai membeli barang secukupnya, membandingkan harga antarpedagang, serta memilih produk yang lebih murah selama kualitasnya masih baik.
Jika harga kembali naik, Ami akan terlebih dahulu memangkas pengeluaran tambahan. Namun, penyesuaian itu tidak berhenti pada perubahan pilihan barang belanja.
Ia mengaku dana yang semestinya digunakan untuk transportasi, pendidikan anak, atau tabungan kini ikut terpakai untuk memenuhi kebutuhan harian.
Kondisi tersebut memperlihatkan tekanan daya beli bukan hanya soal berapa mahal harga barang di pasar, tetapi juga bagaimana rumah tangga mengalihkan anggaran dari kebutuhan lain untuk mempertahankan konsumsi pokok.
Ketika sebagian anggaran pendidikan, mobilitas, dan simpanan harus digunakan untuk membeli kebutuhan sehari-hari, ruang keuangan keluarga menjadi semakin terbatas. Jika berlangsung terus-menerus, rumah tangga akan memiliki lebih sedikit dana untuk menghadapi pengeluaran tak terduga.

Meski pelemahan rupiah meningkatkan biaya barang impor dalam nilai rupiah, dampaknya terhadap harga pangan domestik tidak selalu berlangsung secara langsung atau dengan persentase yang sama.
Gandum, salah satu bahan baku tepung terigu, seluruhnya bergantung pada impor. Data Bank Dunia menunjukkan harga gandum Hard Red Winter AS meningkat sekitar 27,4%, dari rata-rata US$243,3 per ton pada 2025 menjadi sekitar US$310 per ton pada Juli 2026.
Namun, harga tepung di dalam negeri juga dipengaruhi kontrak pembelian, persediaan distributor, biaya pengiriman, serta strategi harga produsen. Karena itu, perubahan harga komoditas dunia dan kurs tidak otomatis diteruskan seluruhnya kepada konsumen.
Di tingkat kebijakan, analis Doo Financial Lukman Leong memperkirakan rupiah bergerak dalam kisaran Rp18.100-Rp18.200 per dolar AS. Arus keluar dana asing dari pasar saham dan ketidakpastian geopolitik di Timur Tengah menjadi sejumlah faktor yang membebani mata uang domestik.
Gubernur Bank Indonesia Destry Damayanti menyatakan bank sentral terus memantau perkembangan pasar dan tidak mengubah strategi intervensinya.
Dalam Rapat Dewan Gubernur pada 21 Oktober, BI menaikkan suku bunga acuan atau BI-Rate menjadi 5,75%. Suku bunga deposit facility juga dinaikkan dari 4,75% menjadi 5,00%.
Reporter: Fika Nur Rizki