- Rupiah menyentuh Rp18.174 per dolar AS pada perdagangan Rabu (28/10).
- Minyak di atas US$115 dan sentimen MSCI menambah tekanan terhadap rupiah.
- BI melakukan intervensi melalui NDF, DNDF, spot, serta pembelian SBN.
Suara.com - Nilai tukar rupiah semakin tertekan. Mata uang Garuda menyentuh level Rp18.174 per dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Rabu (28/10/2026), di tengah meningkatnya ketidakpastian global dan kekhawatiran terhadap prospek pasar keuangan Indonesia karena laporan MSCI.
Tekanan terhadap rupiah datang dari sejumlah arah sekaligus. Konflik Timur Tengah yang belum menunjukkan kepastian penyelesaian membuat harga minyak dunia bertahan di atas US$115 per barel. Di saat bersamaan, ekspektasi kenaikan suku bunga AS meningkat, sehingga memperkuat daya tarik dolar AS dan menekan mata uang negara berkembang.
Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas Bank Indonesia (BI), Erwin Gunawan Hutapea, mengatakan pergerakan rupiah dan mata uang kawasan masih dipengaruhi ketidakpastian global.
“Pergerakan Rupiah dan mata uang kawasan hari ini masih dipengaruhi ketidakpastian penyelesaian konflik Timur Tengah,” ujar Erwin dalam keterangannya, Rabu (28/10/2026).
Menurut dia, kondisi tersebut mempertahankan harga minyak pada level tinggi sekaligus meningkatkan risiko fiskal ke depan. Ekspektasi kenaikan suku bunga AS yang menguat turut menambah tekanan terhadap mata uang negara berkembang.
Sentimen MSCI Ikut Menekan Rupiah
Tekanan rupiah tidak hanya berasal dari luar negeri. Dari dalam negeri, kekhawatiran terhadap potensi penurunan klasifikasi pasar saham Indonesia oleh Morgan Stanley Capital International (MSCI) turut membayangi arus modal.
Sentimen tersebut muncul ketika investor global cenderung menghindari aset berisiko atau memasuki fase risk-off. Akibatnya, dolar AS menguat, sementara arus dana dari pasar negara berkembang menghadapi tekanan.
Kenaikan imbal hasil obligasi juga menjadi faktor yang memperberat kondisi pasar keuangan. Kombinasi penguatan dolar, meningkatnya risiko global, dan kekhawatiran terhadap prospek pasar modal Indonesia membuat rupiah menghadapi tekanan berlapis.
Selain itu, kebutuhan valuta asing (valas) di dalam negeri yang meningkat menjelang akhir bulan turut menambah permintaan dolar AS.
BI menyebut pergerakan rupiah secara umum masih sejalan dengan mata uang kawasan. Secara bulanan, rupiah tercatat melemah 1,15%.
Cadangan Devisa Masih US$146,3 Miliar
Di tengah pelemahan rupiah, BI menyatakan cadangan devisa Indonesia masih terjaga. Posisi cadangan devisa pada akhir September 2026 tercatat sebesar US$146,3 miliar.
Cadangan devisa menjadi salah satu instrumen penting untuk mendukung ketahanan eksternal Indonesia, termasuk dalam menghadapi gejolak nilai tukar dan kebutuhan pembayaran internasional.
Namun, keberadaan cadangan devisa tidak serta-merta membuat rupiah kebal terhadap tekanan. Pergerakan kurs tetap dipengaruhi permintaan dan penawaran valas, arus modal, kondisi ekonomi domestik, serta perkembangan pasar keuangan global.