RI Mau Setop Impor Solar, Tapi Masih Butuh Jutaan Ton Metanol

Mohammad Fadil Djailani

Kamis, 05 November 2026 | 15:30 WIB
RI Mau Setop Impor Solar, Tapi Masih Butuh Jutaan Ton Metanol
Sejumlah dispenser pengisian Biosolar B50 berjajar di Rest Area KM 57 Tol Jakarta-Cikampek, Karawang, Jawa Barat, Kamis (9/7/2026). [ANTARA FOTO/Hafidz Mubarak A/bay/kye]
baca 10 detik
  • Kebutuhan metanol B50 mencapai 2,5 juta ton, produksi domestik baru 600.000 ton.
  • B50-E50 berisiko menciptakan ketergantungan impor baru jika industri hulu belum siap.
  • Guru besar mengingatkan risiko subsidi, harga energi, dan kesejahteraan petani.

Suara.com - Ambisi pemerintah mempercepat kemandirian energi melalui pengembangan biodiesel B50 dan bioetanol E20 hingga E50 menyimpan pekerjaan rumah besar. Di balik target mengurangi ketergantungan impor bahan bakar minyak (BBM), Indonesia justru berpotensi menghadapi ketergantungan baru terhadap bahan baku impor jika industri pendukung di dalam negeri belum siap.

Guru Besar Institut Teknologi Bandung (ITB), Prof. Bonar Tua Halomoan Marbun, menilai pengembangan bahan bakar nabati merupakan langkah strategis untuk memperkuat ketahanan energi nasional. Namun, pemerintah perlu memastikan ketersediaan bahan baku dan infrastruktur pendukung agar program tersebut tidak sekadar memindahkan sumber ketergantungan dari impor BBM menjadi impor bahan baku.

Salah satu tantangan terlihat dari kebutuhan metanol untuk memproduksi biodiesel B50. Bonar memperkirakan kebutuhan metanol nasional untuk program tersebut mencapai 2,5 juta ton per tahun. Sementara kapasitas produksi metanol domestik saat ini baru sekitar 600.000 ton.

Artinya, terdapat potensi kekurangan pasokan sekitar 1,9 juta ton metanol per tahun apabila seluruh kebutuhan tersebut harus dipenuhi dari produksi dalam negeri.

"Secara konsep teori dasar, strategi Pemerintah untuk menjaga ketahanan energi dan meminimalisasi impor, sangat mulia dan patut dipuji," kata Bonar saat dihubungi, Kamis (5/11/2026).

Menurut Bonar, program B50 yang memanfaatkan campuran 50% Fatty Acid Methyl Ester (FAME) berbasis kelapa sawit dan 50% solar berpotensi mengurangi kebutuhan impor solar jadi. Dengan memanfaatkan sumber daya domestik, Indonesia memiliki peluang memperkuat pasokan energi dari dalam negeri.

"Indonesia tidak lagi impor BBM jenis solar. Dengan hanya melihat bahan jadinya saja, Indonesia sudah tidak lagi mengimpor solar dari luar dan mampu mandiri," ujarnya.

Namun, pengurangan impor solar tersebut perlu diikuti peningkatan kapasitas industri metanol nasional. Jika tidak, kebutuhan bahan baku yang belum dapat dipenuhi industri domestik berpotensi kembali bergantung pada pasokan luar negeri.

Selain persoalan bahan baku, kesiapan infrastruktur penyimpanan dan distribusi juga menjadi tantangan. Bonar menjelaskan, karakteristik biodiesel yang mudah menyerap kelembapan membutuhkan fasilitas penyimpanan khusus serta proses pencampuran yang presisi, terutama untuk distribusi di luar Pulau Jawa.

baca juga

Sementara itu, pengembangan bioetanol E20 hingga E50 juga menghadapi tantangan tersendiri. Pemerintah perlu memastikan kompatibilitas bahan bakar dengan mesin kendaraan, standar mutu, serta keberlanjutan pasokan bioetanol sebelum meningkatkan kadar campuran secara bertahap.

Persoalan lain datang dari sisi keekonomian. Guru Besar Universitas Ciputra Surabaya, Prof. Dr. Murpin Josua Sembiring, mengingatkan bahwa keberhasilan B50 dan E20 hingga E50 tidak cukup hanya diukur dari besarnya target pencampuran bahan bakar nabati.

Menurutnya, kedua program tersebut memiliki sasaran berbeda. B50 diarahkan untuk mengurangi konsumsi solar berbasis fosil, sedangkan E20 hingga E50 menyasar penggunaan bensin. Keduanya dapat saling melengkapi dalam mengurangi ketergantungan terhadap bahan bakar fosil.

Namun, implementasinya perlu memperhitungkan berbagai faktor, mulai dari harga minyak dunia, harga kelapa sawit, cuaca ekstrem, ketersediaan bahan baku hingga kebutuhan subsidi.

"Sinerginya masuk akal, tetapi harus diuji holistik terhadap harga minyak, harga sawit, cuaca ekstrem, pasokan bahan baku, dan kebutuhan subsidi," kata Murpin.

Dia juga mengingatkan potensi ekonomi dari pengembangan bioetanol tidak otomatis membuat petani sejahtera. Peningkatan kebutuhan bahan baku memang dapat mendorong aktivitas pertanian, industri pengolahan hingga penciptaan lapangan kerja di pedesaan.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Kalkulator Kecocokan Jodoh Online Menurut Primbon Jawa, Bantu Cek Keserasian Pasangan
Ikuti Kuisnya ➔
Gryffindor atau Slytherin? Cek Kepribadianmu di Kuis Asrama Hogwarts
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

BBM B50 Diduga Diselundupkan di Perairan Tanjung Emas

BBM B50 Diduga Diselundupkan di Perairan Tanjung Emas

Bisnis | Jum'at, 23 Oktober 2026 | 11:12 WIB

Mengapa Ambisi Biodiesel Indonesia Perlu Mempertimbangkan Risiko Ekologis?

Mengapa Ambisi Biodiesel Indonesia Perlu Mempertimbangkan Risiko Ekologis?

News | Rabu, 21 Oktober 2026 | 11:27 WIB

Prabowo Genjot Energi, dari B50 hingga Proyek PLTS 100 GW

Prabowo Genjot Energi, dari B50 hingga Proyek PLTS 100 GW

Bisnis | Selasa, 20 Oktober 2026 | 12:04 WIB

Terkini

Mengulik Makna Kedukaan: Buku Seorang Pria yang Melalui Duka dengan Mencuci Piring

Mengulik Makna Kedukaan: Buku Seorang Pria yang Melalui Duka dengan Mencuci Piring

Your Say | Kamis, 05 November 2026 | 15:30 WIB

Dampak Nikel di Halmahera, Koalisi Sipil Desak Aturan Rantai Pasok RI-Korea

Dampak Nikel di Halmahera, Koalisi Sipil Desak Aturan Rantai Pasok RI-Korea

Bisnis | Kamis, 05 November 2026 | 15:28 WIB

Tepis Isu Perang Bintang, Kapolri: Kasus Penyadapan Listyo Sigit Murni Penegakan Hukum!

Tepis Isu Perang Bintang, Kapolri: Kasus Penyadapan Listyo Sigit Murni Penegakan Hukum!

News | Kamis, 05 November 2026 | 15:28 WIB

Kasus Kematian Tragis Striker Spanyol: Kiper Jesus Owono Bisa Dijerat Pasal Pembunuhan

Kasus Kematian Tragis Striker Spanyol: Kiper Jesus Owono Bisa Dijerat Pasal Pembunuhan

Bola | Kamis, 05 November 2026 | 15:26 WIB

Ribuan Anak Korban Amputasi di Gaza Terancam Cacat Permanen Gara-gara Kelakuan Israel Ini

Ribuan Anak Korban Amputasi di Gaza Terancam Cacat Permanen Gara-gara Kelakuan Israel Ini

News | Kamis, 05 November 2026 | 15:26 WIB

Youth Economic Summit 2026 Siap Digelar, Dorong Peran Anak Muda Bangun Ekonomi Berkelanjutan

Youth Economic Summit 2026 Siap Digelar, Dorong Peran Anak Muda Bangun Ekonomi Berkelanjutan

Bisnis | Kamis, 05 November 2026 | 15:26 WIB

Suket Gibran Dibatalkan MA, PKB Kaji Serius Penggunaan Hak Angket di DPR

Suket Gibran Dibatalkan MA, PKB Kaji Serius Penggunaan Hak Angket di DPR

News | Kamis, 05 November 2026 | 15:24 WIB

Mahasiswa Asal Padang Diduga Terlibat Perdagangan Orang dan Eksploitasi Seksual Anak

Mahasiswa Asal Padang Diduga Terlibat Perdagangan Orang dan Eksploitasi Seksual Anak

Sumbar | Kamis, 05 November 2026 | 15:22 WIB

Mengurai Benang Kusut Komersialisasi Paten: Kenapa Inovasi Kampus Gagal Jadi Cuan?

Mengurai Benang Kusut Komersialisasi Paten: Kenapa Inovasi Kampus Gagal Jadi Cuan?

Your Say | Kamis, 05 November 2026 | 15:22 WIB

Cara Klaim JHT BPJS Ketenagakerjaan Online Lewat Aplikasi JMO, Praktis Langsung Cair

Cara Klaim JHT BPJS Ketenagakerjaan Online Lewat Aplikasi JMO, Praktis Langsung Cair

Lifestyle | Kamis, 05 November 2026 | 15:21 WIB

×