Kisah Suram Luka Modric: Tiap Malam Dengar Suara Granat, Rumah Dibakar hingga Kakek Dibunuh Tentara Serbia

Blitz Suara.Com
Sabtu, 12 November 2022 | 12:35 WIB
Kisah Suram Luka Modric: Tiap Malam Dengar Suara Granat, Rumah Dibakar hingga Kakek Dibunuh Tentara Serbia
Luka Modric | AFP

Siapa sangka bocah yang dulu hidup di pengungsian sukses meraih penghargaan Ballon d'Or 2018, penghargaan tertinggi bagi pesepakbola di dunia. 

Luka Modric yang mengalami masa kelam saat kecil kini boleh berbangga hati karena mampu mengalahkan pesepakbola hebat yang dalam beberapa tahun terakhir mendominasi gelar tersebut, Cristiano Ronaldo dan Lionel Messi

Sebelumnya, pada September 2018 lalu Modric juga mampu meraih gelar The Best FIFA Football Awards. Saat itu, Modric mengumpulkan 29,05 persen suara, unggul atas Cristiano Ronaldo (19,08 persen) dan Mohamed Salah (11,23 persen).

Terpilihnya Modric ini juga memutus dominasi gelar pemain terbaik dunia yang selama ini jadi domain Ronaldo dan Messi. 

"Ada perasaan luar biasa. Saya merasa bangga atas penghargaan ini," kata Modric. Singkat, jelas, dan padat. 

Sedikit kilas balik tentang masa kecil gelandang berusia 33 tahun ini, Modric semasa kecil terbiasa hidup dengan suara ledakan granat tiap malam. Hanya sepakbola yang kemudian jadi alat hiburan untuk dirinya lepas dari ketakutan itu semua. 

Saat mulai bermain sepabola, seorang pelatihnya sempat mengatakan bahwa dirinya sangat pemalu dan akan sulit untuk jadi bintang besar seperti cita-citanya.

Trauma masa lalu memang membuat Modric jadi sosok yang tertutup dan pemalu. Setelah bergabung ke akademi Zadar dengan uang dari sisa gaji sang ayah yang jadi tentara, Modric berusaha merentas karier di lapangan hijau.

Saat umur 6 tahun, Modric juga mengalami kejadian yang begitu membekas dalam hidupnya. Sang kakek, Luka bersama dengan 6 orang tetangganya pada Desember 1991 harus dieksekusi mati oleh tentara Serbia yang tak setuju Kroasia lepas dan jadi negara merdeka.

Baca Juga: Timnas Kroasia Rilis Skuad Piala Dunia 2022, Masih Andalkan Luka Modric

Sang ayah yang sebelum perang kemerdekaan Kroasia berprofesi sebagai pekerja tekstil mau tak mau ikut angkat senjata dan bergabung ke tentara Kroasia.

Usai mengeksekusi sang kakek, tentara Serbia dibantu oleh barisan milisi bayaran membakar habis seluruh rumah di desa Jesenice. Rumahnya rata dibakar si jago merah. Bersama dengan sang ibu dan keluarga yang lain ia menjadi pengungsi.

Melihat kepribadian Modric baik saat beraksi di tengah lapangan atau di luar lapangan, kita seperti melihat sosok seorang Autotelis.  

Psikolog, Mihaly Csikszentmihalyi menyebut bahwa seorang autotelis hanya membutuhkan sedikit harta materi, sedikit hiburan, kenyamanan, kekuasaan. Mereka kebanyakan kurang tergantung pada penghargaan eksternal yang bagi kebanyakan orang jadi motivasi tambahan untuk melanjutkan kehidupan mereka. 

Dari pemaparan Csikszentmihalyi soal konsep autotelis, kita bisa melihat itu dari seorang Luka Modric. 

Tidak seperti Cristiano Ronaldo atau Lionel Messi yang begitu menganggap penghargaan eksternal begitu penting dalam kariernya, Modric menjalani hidupnya di lapangan hijau dengan 'santai'. 

Seperti tidak memiliki rasa lapar akan gol dan gelar, Modric ialah tipikal pesepakbola yang memiliki kecerdasan emosi dan intelektual saat mengolah si kulit bundar. 

Modric jadi sedikit pesepakbola yang paham bahwa roh dari sepakbola ialah permainan tim, hal itulah yang ia sokong sepanjang kariernya di sejumlah klub. Ia tidak menonjol namun berperan vital. 

Padahal sejak bermain di Dinamo Zagreb pada 2003 silam, banyak pemandu bakat sangat menginginkan dirinya bisa bermain di Eropa Barat namun suami dari Vanja Bosnic memilih untuk bertahan cukup lama di sana. 

Baru pada 2008 ia memutuskan untuk hijrah ke Inggris dan membela Tottenham Hotspur. Bermain sebanyak 127 caps di Spurs hingga 2012, karakter autotelis kembali terlihat dari Modric saat ia mampu menahan diri untuk tidak pindah kala tawaran menggiurkan datang dari Manchester United dan sejumlah klub lain, padahal saat itu sejumlah pemain penting Spurs mulai dari Berbatov hingga Carrick memutuskan angkat koper dari White Hart Lane. 

Bahkan pada 2011 Chelsea sempat menawari Modric dengan nilai 22 juta poundsterling, namun itu tak menggoyahkannya. 

Seorang autotelis menurut Csikszentmihalyi memiliki prinsip yang sulit tergoyahkan. 

"(Seorang autotelis) Mereka otonom dan independen karena mereka tidak dapat dimanipulasi dengan ancaman atau imbalan dari luar prinsipnya." tulis Csikszentmihalyi. 

Karakter bermain Modric memang sangat berbeda dari kebanyakan jenderal lapangan tengah. Ia seperti seorang Pirlo dari Italia, mampu bermain taktis, kreatif dan visioner. 

Padahal jika merujuk pada latar belakangnya yang berasal dari kawasan Balkan, gaya permainannya sangat jauh berbeda. Tipikal pemain dari kawasan Balkan lebih banyak mengedepankan power dan kecepatan dalam bermain. 

Sebagai seorang gelandang box to box, Modric memiliki daya jelajah yang membuat barisan pemain lawan kocar kacir karena kesulitan menebak ritme serangannya. Modric juga tipikal pemain yang mau  menjemput bola di sepertiga awal atau terlibat dalam pertahanan blok rendah untuk kemudian maju ke depan masuk ke sepertiga akhir.

Satu lagi keunggulan dari seorang Modric yang banyak tak dimiliki seorang gelandang yakni kemampuannya akan ruang di sepakbola. 

Ia mampu mengeksplorasi ruang-ruang di lapangan hijau. Ia seperti memiliki 'indra keenam' untuk melihat mana sudut kosong dan melepaskan umpan terarah yang memungkinkan rekan setimnya menciptakan peluang atau membuat gol. 

Dari gaya dan karakter bermainnya tersebut tak salah jika Modric banjir pujian. Rekannya di Timnas Kroasia, Ivan Rakitic misalnya pernah mengatakan bahwa Modric berasal dari planet lain. 

"Saya sangat setuju jika Modric disebut sebagai pemain terbaik Kroasia sepanjang masa. Bukan hanya sebagai pemain, dia juga orang hebat dan punya karakter pemimpin," kata Rakitic.

Eks pemain Real Madrid, Predrag Mijatovic menyebut bahwa Modric ialah seorang jenderal di lini tengah yang mampu bertahan di pertandingan berat. 

"Modric tidak hanya dapat bertahan dari tekanan tapi ia memang sudah layak untuk disebut pemain terbaik di dunia," kata pemain yang negaranya jadi agresor bagi kampung halaman Modric. 

Meski banjir pujian, Modric tetap seperti yang dikatakan pelatih masa kecilnya, ia adalah pemain pemalu. 

Tak seperti Ronaldo atau Messi yang suka sesumbar saat meraih penghargaan, Modric tetap membumi dan menganggap gelar tersebut bukanlah hal yang ia idam-idamkan sebagai seorang pesepakbola. 

"Saya senang kalau ada seseorang yang normal dapat memenangkan trofi Ballon d'Or," ujar Modric seperti dikutip dari Marca. 

Mereka yang autotelic memiliki rasa ingin tahu dan ketekunan yang besar dalam melakukan sebuah aktivitas. Hasilnya tentu prestasi yang tidak biasa.

Pada perhelatan Piala Dunia 2022, nama Luka Modric masih jadi andalan untuk Timnas Kroasia. Ia menjadi salah satu pemain yang dipercaya Zlatko Dali untuk raih prestasi lebih tinggi dibanding Piala Dunia 2018, yakni jadi runner up. 

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: THR Sudah Cair? Ungkap Karakter Asli Keuangan Kamu
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Pecahkan 10 Kasus Misterius Ini, Kamu Detektif atau Cuma Amatir?
Ikuti Kuisnya ➔
SIMULASI TKA SD: 15 Soal Matematika Materi Pecahan Senilai Beserta Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Bahasa Indonesia Kelas 6 SD Beserta Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Berapa Life Path Number Kamu? Hitung Sekarang dan Lihat Rahasia Kepribadianmu
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 15 Soal Bahasa Indonesia Kelas 6 SD Materi Teks Informasi Lengkap Kunci Jawaban
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Cek Seberapa Sehat Jam Tidurmu Selama Bulan Puasa?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika Kelas 6 SD Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kamu Paling Cocok Jadi Takjil Apa saat Buka Puasa?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis: Jajal Seberapa Jawamu Lewat Tebak Kosakata Jatuh
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tebak Jokes Bapak-bapak, Cek Seberapa Lucu Kamu?
Ikuti Kuisnya ➔
×
Zoomed

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

TERKINI