Plus Minus Timnas Indonesia Pindah ke EAFF atau Tetap di AFF

Rully Fauzi

Jum'at, 22 Juli 2022 | 13:34 WIB
Plus Minus Timnas Indonesia Pindah ke EAFF atau Tetap di AFF
Momen saat Timnas Indonesia U-19 tersingir di fase grup Piala AFF U-19 2022 Indonesia. [ANTARA FOTO/ Fakhri Hermansyah]

Suara.com - Setelah tersingkir dari Piala AFF U-19 karena kalah head-to-head dari Vietnam dan Thailand, muncul wacana agar Timnas Indonesia pindah dari AFF (Konfederasi Sepakbola Asia Tenggara) ke EAFF (Konfederasi Sepakbola Asia Timur).

Vietnam dan Thailand dianggap tidak sportif karena tak berusaha mencetak gol setelah sama-sama mencetak satu gol agar Indonesia yang menghadapi Myanmar dalam jam yang sama, tidak lolos ke semifinal turnamen U-19 itu.

PSSI lalu melayangkan nota protes kepada AFF beserta sejumlah bukti termasuk video pertandingan mereka dan ucapan pelatih fisik timnas U-19 Vietnam Le Cao Cuong bahwa Vietnam dan Thailand "berteman" selama 15 menit terakhir laga tersebut.

AFF belum menjawab nota protes itu. Tapi match-fixing di Asia Tenggara dan juga Asia lebih sering tak bisa dituntaskan. Tahun lalu saja, menurut Sportradar, ada 161 pertandingan olahraga di Asia, tidak cuma sepak bola, yang diduga match-fixing.

Indonesia tampaknya tak sabar menantikan tindak lanjut nota protes kepada AFF itu, sampai Ketua Umum PSSI Mochamad Iriawan mengaku sudah berkomunikasi dengan EAFF mengenai niat Indonesia pindah dari AFF.

"Mereka (EAFF) senang kalau kami bergabung ke sana. Namun, kami mesti menghitung terlebih dahulu," kata Iriawan.

Tak ada yang salah dengan keinginan itu, apalagi jika didasari alasan agar mendapatkan zona yang lebih kompetitif demi meningkatkan kualitas sepak bola nasional.

Sekedar contoh, Australia melakukan langkah seperti ini ketika menyeberang dari Oseania ke Asia (AFC) pada 2006.

Australia memiliki liga sepak bola profesional yang kuat sehingga tim nasional yang terbentuk pun lumayan tangguh. Tetapi Oseania tak memberikan atmosfer kompetisi yang bisa menguji kekuatan Australia.

baca juga

Karena atmosfer itu pula Australia sering tersisih dalam berebut tiket putaran final Piala Dunia melawan tim-tim benua Amerika.

Setiap juara zona Oseania selalu dipertemukan dengan tim benua Amerika guna memperebutkan satu tiket putaran final Piala Dunia.

Australia lebih sering kalah melawan tim benua Amerika itu karena Australia berada di "kelas" yang tidak kompetitif yang membuatnya tak siap menghadapi tim benua Amerika yang teruji oleh kompetisi yang ketat dan berkualitas.

Australia lalu berpaling ke AFC pada 2006. Sejak itu Australia menjadi lebih sering tampil dalam putaran final Piala Dunia. Dari total enam kali mengikuti Piala Dunia, empat di antaranya karena memegang tiket Asia.

Australia memang berusaha mencari cara teraman untuk lolos putaran final Piala Dunia, tetapi zona Asia juga ternyata lebih bisa menguji kekuatan Australia sehingga meningkatkan kualitasnya.

Buktinya tahun ini Australia mengalahkan tim Amerika Selatan, Peru, dalam playoff antarbenua untuk memperebutkan satu tiket putaran final Piala Dunia 2022.

Faktor Geografis

Jika alasan Indonesia bergabung dengan EAFF juga demi mendapatkan atmosfer kompetisi lebih berkualitas seperti didapat Australia dari Asia, maka langkah pindah federasi mungkin tepat.

Asia Timur bukan zona sembarangan karena inilah wilayah Asia yang paling sering masuk putaran final Piala Dunia, selain Asia barat.

Dua negara Asia yang paling sering tampil dalam putaran final Piala Dunia berasal dari Asia Timur, yakni Korea Selatan 11 kali dan Jepang tujuh kali. Masih ada Korea Utara yang pernah dua kali mencapai Piala Dunia dan China satu kali.

Pun di tingkat Piala Asia. Jepang dan Korea Selatan juga dominan. Bersama Iran dan Arab Saudi dari Asia barat, mereka adalah tim-tim yang paling sering menjuarai Piala Asia.

Jepang sudah empat kali menjuarai Piala Asia, Korea Selatan dua kali, sedangkan Saudi dan Iran masing-masing tiga kali.

Demikian juga dalam Asian Games. Tim-tim Asia Timur juga dominan di sini. Myanmar menjadi satu-satunya tim Asia Tenggara yang merebut medali emas sepak bola Asian Games, pada 1966 dan 1970.

Dengan reguler bertanding melawan tim-tim seperti Jepang, Korea Selatan dan China, kualitas timnas Indonesia bisa semakin baik sehingga menjadi bekal bagus dalam menapaki level kompetisi internasional lainnya.

Asia Timur menawarkan atmosfer kompetisi lebih teruji karena sebagian diisi tim-tim berpengalaman tampil di level puncak.

Tapi ada aspek-aspek lain yang berpotensi menjadi masalah, salah satunya adalah faktor geografis yang bisa berakhir kepada aspek finansial dan  kebugaran pemain.

Ini karena Asia Timur begitu jauh dari Indonesia. Wilayah terdekat Asia Timur seperti Hong Kong dan Taiwan tetap kalah jauh dibandingkan dengan wilayah paling jauh Asia Tenggara di Myanmar.

Dari perspektif geografis, Vietnam malah lebih masuk akal masuk zona Asia Timur. Kenyataannya hampir semua negara yang pindah federasi mempertimbangkan juga kedekatan geografis.

Dan seperti Afrika serta Amerika, negara-negara Asia tak saling berdekatan layaknya di Eropa di mana jarak tak terlalu bermasalah, apalagi benua biru itu memiliki fasilitas lengkap dan tingkat kesejahteraan relatif merata.

Yang pasti, hampir semua benua memiliki federasi regional. Namun keberadaan federasi regional ini tak menjamin bisa memupus ketimpangan kualitas sepak bola antar kawasan di satu benua.

Perkuat Fair Play

Di Afrika misalnya. Seperti juga Asia di mana wilayah barat dan timurnya lebih maju dunia sepak bolanya, Afrika juga begitu.

Di Afrika, bagian barat dan utaranya adalah dua kawasan yang paling sukses, termasuk dalam Piala Afrika dan putaran final Piala Dunia.

Di benua Amerika faktor jarak juga menjadi pertimbangan. Jarak tepi utara benua ini di Alaska sampai tepi selatannya di Argentina, adalah yang terjauh di dunia.

Jangan lupakan pula faktor budaya. Salah satu yang mempersatukan Amerika Selatan adalah kesamaan budaya sesama bekas koloni Portugal dan Spanyol.

Kedekatan geografi dan kultural membuat tim-tim Amerika Selatan lebih kerap bertemu satu sama lain ketimbang dengan tim-tim Amerika Utara.

Bukan hanya secara budaya berbeda dari Amerika Selatan, Amerika Utara juga baru serius menggeluti sepak bola profesional setelah Amerika Selatan lama mendominasi sepak bola global.

Keadaan di tiga benua itu berbeda dengan Eropa yang satu sama lain berdekatan. Ditambah iklim sepak bolanya yang kompetitif, bagian mana pun dari Eropa diisi oleh tim hebat.

Di utara, ada Denmark, Swedia, Belanda dan Belgia. Di tengah, ada Jerman. Di timur, ada Ceko, Rusia dan Polandia. Di barat, ada Inggris dan Prancis. Sedangkan di selatan, ada Portugal, Spanyol, Italia, dan Kroasia.

Oleh karena itu, jika tujuannya mencari zona lebih kompetitif, maka kepindahan Indonesia ke federasi Asia Timur adalah langkah yang tepat.

Sebaliknya, jika pertimbangannya emosi karena tersisih dalam sebuah turnamen akibat prilaku tim lain, maka bisa menjadi bumerang.

Lagi pula, sepak bola, dan olahraga pada umumnya, kadang juga menyangkut faktor di luar olah raga seperti persahabatan dan kedekatan emosi entah karena dekat secara geografis, kultural, atau historis.

Bagi Indonesia sendiri, Asia Tenggara sudah pasti lebih dekat secara geografis dan kultural dibandingkan dengan kawasan-kawasan Asia lain, termasuk Asia Timur.

Benar kompetisi di Asia Tenggara acap tidak fair, namun bergabung dengan federasi lain karena alasan di luar meningkatkan kualitas sepak bola nasional adalah tak terlalu bijak dan bisa memupuk sentimen negatif dari rekan satu kawasan.

Yang lebih dibutuhkan saat ini adalah mendorong AFF lebih meninggikan fair play dan menguatkan komisi disiplinnya dengan memberinya kekuasaan lebih besar dalam mengenakan sanksi kepada tim anti-fair play dan lebih independen dalam menginvestigasi pertandingan menjurus match-fixing.

Selain itu, mungkin harus ada mekanisme tambahan yang bisa memaksa semua pihak di Asia Tenggara memerangi match-fixing dalam semua bentuk di semua level kompetisi sepak bola.

[Antara]

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Kalkulator Kecocokan Jodoh Online Menurut Primbon Jawa, Bantu Cek Keserasian Pasangan
Ikuti Kuisnya ➔
Gryffindor atau Slytherin? Cek Kepribadianmu di Kuis Asrama Hogwarts
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Kaki Pemain Keturunan Jepang Sudah Gatal Ingin Hadapi Timnas Indonesia di SUGBK

Kaki Pemain Keturunan Jepang Sudah Gatal Ingin Hadapi Timnas Indonesia di SUGBK

Bola | Rabu, 23 September 2026 | 17:29 WIB

Cara Kejam Xavi Hernandez Tak Pilih Eks Pelatih Timnas Indonesia Patrick Kluivert

Cara Kejam Xavi Hernandez Tak Pilih Eks Pelatih Timnas Indonesia Patrick Kluivert

Bola | Rabu, 23 September 2026 | 15:57 WIB

Cerita di Balik Layar Kepindahan Maarten Paes ke Ajax: Dering Telepon Tengah Malam

Cerita di Balik Layar Kepindahan Maarten Paes ke Ajax: Dering Telepon Tengah Malam

Bola | Rabu, 23 September 2026 | 15:47 WIB

Maarten Paes Bicara Persaingan dengan Emil Audero: Yang Penting Timnas Indonesia Juara

Maarten Paes Bicara Persaingan dengan Emil Audero: Yang Penting Timnas Indonesia Juara

Bola | Rabu, 23 September 2026 | 15:23 WIB

Bukan Cuma Jago di Lapangan, Kevin Diks Ungkap Kelebihan Mitchell Baker dan Luke Vickery

Bukan Cuma Jago di Lapangan, Kevin Diks Ungkap Kelebihan Mitchell Baker dan Luke Vickery

Bola | Rabu, 23 September 2026 | 15:01 WIB

Kevin Diks Jadi Kapten Timnas Indonesia, Siap Ambil Peran Lebih Besar Tanpa Jay Idzes

Kevin Diks Jadi Kapten Timnas Indonesia, Siap Ambil Peran Lebih Besar Tanpa Jay Idzes

Bola | Rabu, 23 September 2026 | 14:53 WIB

Malaysia Bidik Final, Presiden FAM Berani Klaim Harimau Malaya Permalukan Timnas Indonesia

Malaysia Bidik Final, Presiden FAM Berani Klaim Harimau Malaya Permalukan Timnas Indonesia

Bola | Rabu, 23 September 2026 | 14:51 WIB

Manajer Persija Titip Pesan untuk 5 Pemain di Timnas Indonesia: Tunjukkan Kemampuan Terbaik

Manajer Persija Titip Pesan untuk 5 Pemain di Timnas Indonesia: Tunjukkan Kemampuan Terbaik

Bola | Rabu, 23 September 2026 | 14:43 WIB

Bergson Jadi Andalan, Eks Kapten Malaysia Justru Beri Peringatan Jelang Hadapi Timnas Indonesia

Bergson Jadi Andalan, Eks Kapten Malaysia Justru Beri Peringatan Jelang Hadapi Timnas Indonesia

Bola | Rabu, 23 September 2026 | 14:42 WIB

Belum Lupa Kegagalan di Piala AFF, Timnas Indonesia Ingin Balas Kekalahan dari Singapura

Belum Lupa Kegagalan di Piala AFF, Timnas Indonesia Ingin Balas Kekalahan dari Singapura

Bola | Rabu, 23 September 2026 | 12:00 WIB

Terkini

Komisi III DPR Targetkan RUU Perampasan Aset Disahkan 15 Desember 2026

Komisi III DPR Targetkan RUU Perampasan Aset Disahkan 15 Desember 2026

News | Rabu, 23 September 2026 | 18:09 WIB

Viral Kakek Jepang 90 Tahun Punya Badan Berotot: Rahasianya Susah Susah Gampang

Viral Kakek Jepang 90 Tahun Punya Badan Berotot: Rahasianya Susah Susah Gampang

News | Rabu, 23 September 2026 | 18:08 WIB

Kalkulator Kecocokan Jodoh Online Menurut Primbon Jawa, Bantu Cek Keserasian Pasangan

Kalkulator Kecocokan Jodoh Online Menurut Primbon Jawa, Bantu Cek Keserasian Pasangan

Lifestyle | Rabu, 23 September 2026 | 18:06 WIB

Ketika Skuad Rp400 Miliar Jadi Beban: Menatap Efek Etalase Timnas Indonesia

Ketika Skuad Rp400 Miliar Jadi Beban: Menatap Efek Etalase Timnas Indonesia

Your Say | Rabu, 23 September 2026 | 18:05 WIB

Little Bee and the Bloom: Petualangan Lebah Kecil Mengenal Keajaiban Alam

Little Bee and the Bloom: Petualangan Lebah Kecil Mengenal Keajaiban Alam

Your Say | Rabu, 23 September 2026 | 18:00 WIB

Medsos Jadi Etalase Bisnis Konten Seksual, Perhatian Penonton Bisa Dikomodifikasi

Medsos Jadi Etalase Bisnis Konten Seksual, Perhatian Penonton Bisa Dikomodifikasi

Jogja | Rabu, 23 September 2026 | 17:59 WIB

BRI InFrame 2026 Soroti UMKM, Inklusi Keuangan Hingga Ekonomi Pesisir

BRI InFrame 2026 Soroti UMKM, Inklusi Keuangan Hingga Ekonomi Pesisir

Lampung | Rabu, 23 September 2026 | 17:56 WIB

Pakar Hukum Bongkar Bahaya Tersembunyi di Balik Perpres Tata Kelola Timah Babel

Pakar Hukum Bongkar Bahaya Tersembunyi di Balik Perpres Tata Kelola Timah Babel

Video | Rabu, 23 September 2026 | 17:55 WIB

Lagi-lagi Antre Solar Makan Korban, Petugas SPBU di Mamuju Dibacok Sopir Truk

Lagi-lagi Antre Solar Makan Korban, Petugas SPBU di Mamuju Dibacok Sopir Truk

Sulsel | Rabu, 23 September 2026 | 17:55 WIB

Dari 'Bantuin' Jadi 'Kerjain': Bahaya Ketergantungan AI bagi Berpikir Kritis

Dari 'Bantuin' Jadi 'Kerjain': Bahaya Ketergantungan AI bagi Berpikir Kritis

Your Say | Rabu, 23 September 2026 | 17:53 WIB

×